Micro cheating sering kali jadi “pintu kecil” yang tanpa sadar bisa bikin hubungan retak. Awalnya memang terlihat sepele ya, HEALMates? Misalnya, sekadar balas chat manis dari teman kantor, kasih emoji senyum, atau cari perhatian lewat pesan yang agak spesial. Tapi lama-lama, hal kecil itu bisa berubah jadi kebiasaan yang berisiko, lho.
Yang bikin tricky adalah perilaku ini sering nggak disadari, baik sama pelaku maupun pasangannya sendiri. Banyak yang merasa “Ah, cuma ngobrol kok,” padahal komunikasi seperti itu sudah melibatkan emosi yang nggak seharusnya dibagi ke orang lain. Biasanya, micro cheating dilakukan lewat cara-cara yang tampak aman dan nggak mencurigakan, mulai dari chat pribadi, komentar di media sosial, atau obrolan ringan di jam lembur.
Niat awalnya pun nggak selalu karena ingin selingkuh. Kadang cuma ingin bersosialisasi, diperhatikan, atau sekadar pengalihan saat hubungan utama terasa datar. Tapi dari situ lah, celah kecil bisa berubah jadi jurang besar kalau nggak segera disadari.
Agar HEALMates lebih aware, yuk kita bahas apa itu fenomena micro cheating yang sering terjadi di sekitar kita.
Apa Itu Micro Cheating?
Secara sederhana, micro cheating adalah perilaku kecil yang secara emosional atau niat tersembunyi bisa dianggap melanggar batas kesetiaan. Nggak sampai tidur bareng orang lain sih, tapi udah cukup bikin pasangan merasa dikhianati secara emosional.
Istilah ini pertama kali populer di media psikologi modern dan banyak dibahas oleh psikolog seperti Dr. Melanie Schilling dalam laman HuftPost yang menjelaskan bahwa micro cheating adalah “tindakan yang menunjukkan seseorang memiliki minat emosional atau fisik terhadap orang lain di luar hubungan resminya.”
Contohnya? Memberi like berulang kali pada foto seseorang dengan niat flirting, menyimpan nomor seseorang diam-diam, intens DM-an sama teman lawan jenis dengan nada menggoda, atau selalu mencari validasi dari orang lain selain pasangan. Kedengarannya sepele, ya? Tapi justru di situlah bahayanya karena sering disamarkan sebagai “cuma iseng.”
Dampak Micro Cheating
Kalimat seperti “Cuma DM-an doang kok,” sering jadi pembelaan. Tapi faktanya, micro cheating bisa menimbulkan luka emosional yang nyata.
Bagi orang yang diselingkuhi, hal ini bisa menimbulkan perasaan bahwa dirinya tidak cukup, kehilangan kepercayaan, bahkan krisis harga diri. Sementara itu, bagi pelaku, tindakan ini bisa mendorong rasa bersalah dan kebingungan karena hubungan online-nya justru lebih terasa nyata, meski ia menyadari bahwa ini adalah hal yang salah.
Studi dari Psychology Today menunjukkan bahwa bentuk perselingkuhan emosional seperti micro cheating dapat menimbulkan stres dan kecemasan serupa dengan perselingkuhan fisik, terutama karena sifatnya yang diam-diam dan ambigu.
Kenapa Orang Bisa Melakukan Micro Cheating?
Nggak ada yang bangun pagi lalu mikir, “Hari ini aku mau micro cheating, ah.” Tapi perilaku ini sering muncul secara halus karena beberapa alasan seperti berikut ini:
- Kebutuhan Emosional yang Nggak Terpenuhi
Saat komunikasi dalam hubungan mulai hambar, perhatian kecil dari orang lain bisa terasa seperti oase di padang gersang. Menurut riset dari The Open University, banyak orang melakukan “infidelity ringan” sebagai pelarian emosional, bukan karena ingin selingkuh secara fisik.
- Sensasi Terlarang yang Menggoda
Ada sensasi adrenalin tersendiri dari melakukan sesuatu yang “nggak seharusnya.” Pesan rahasia, emoji tertentu, atau flirting halus bisa bikin jantung deg-degan, dan ironisnya itu justru bikin candu.
- Anonimitas Dunia Maya
Dunia digital memberi ruang aman untuk jadi versi diri kita yang berbeda. Di balik layar, orang bisa lebih berani, dan lebih terbuka. Padahal, ini justru bisa lebih berisiko. Studi dari Journal of Sex & Marital Therapy menunjukkan bahwa anonimitas di dunia online bisa meningkatkan peluang bagi seseorang melakukan perilaku tidak setia tanpa merasa bersalah secara langsung.
- Kurangnya Batasan Digital dalam Hubungan
Banyak pasangan nggak pernah mendiskusikan apa yang dianggap “boleh” atau “nggak boleh” di media sosial. Hasilnya, batas setia jadi abu-abu. Buat sebagian orang, like foto bukan masalah. Tapi buat yang lain, itu sudah bentuk pengkhianatan kecil.
Di era media sosial, kesetiaan nggak diukur dari seberapa jauh jarakmu dari orang lain, tapi seberapa kuat kamu menjaga hati dari hal-hal yang bisa menggoyahkan. Micro cheating memang “micro”, kecil, halus, sering dianggap sepele. Tapi, dampaknya bisa “macro”, menghancurkan kepercayaan, membentuk jarak emosional, dan mengikis fondasi hubungan yang sehat.
Jadi, sebelum kamu mengetik “Hai” di DM orang lain dengan alasan “cuma iseng”, tanya dulu ke dirimu sendiri, “Kalau pasanganmu yang melakukannya ke orang lain, kamu bakal merasa biasa aja, atau terluka?” Nah, jawabannya bisa jadi pegangan agar kamu bisa menjaga komitmen dalam sebuah hubungan. (RIW)

