Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Apa Itu Coping Mechanism? Cara Psikis Membantu Kita Bertahan Saat Stres

Apa itu coping mechanism?

Oleh :

Hidup jarang berjalan lurus. Ada hari-hari ketika semuanya terasa baik-baik saja, tapi ada juga masa ketika bangun tidur saja rasanya sudah berat. Pekerjaan menumpuk, hubungan dengan pasangan atau teman renggang, keuangan bikin cemas, atau kehilangan yang datang tiba-tiba. 

Di titik inilah, tanpa kita sadari, tubuh dan pikiran sebenarnya sedang bekerja keras mencari cara untuk bertahan. Nah, dalam psikologi, cara itulah yang disebut sebagai coping mechanism, HEALMates.

Setiap orang sebenarnya sudah punya coping mechanism masing-masing. Ada yang memilih diam dan menenangkan diri, ada yang curhat ke orang terdekat, ada pula yang justru menenggelamkan diri dalam distraksi. Masalahnya, tidak semua coping mechanism membawa kita ke arah yang sehat, lho. 

Coping Mechanism Bukan Berarti Menghindar

Dilansir dari berbagai sumber, secara sederhana coping mechanism adalah strategi yang digunakan seseorang untuk menghadapi stres, tekanan emosional, atau situasi yang tidak nyaman. Tujuannya tentu bukan untuk menghapus masalah secara ajaib, tapi untuk membantu diri agar tidak tenggelam oleh dampaknya, baik secara mental maupun fisik.

Namun, banyak orang seringkali masih salah mengartikan bahwa coping mechanism adalah cara menghindar. Nah, inilah yang perlu diluruskan. Coping mechanism bukan berarti kita lari dari masalah ya, HEALMates. Justru sebaliknya, mekanisme koping yang sehat ini adalah cara kita mengenali sumber stres, mengelolanya, mengatur respons emosional, dan mengambil langkah yang lebih rasional untuk mengatasinya. 

Berbeda dengan menghindari masalah atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, mekanisme koping ini justru berarti bahwa kita menyadari ada sesuatu yang tidak beres, lalu memilih cara terbaik untuk tetap utuh saat menghadapinya.

Kenapa Coping Mechanism Itu Penting?

Coping Mechanism adalah strategi diri kita ketika kita menghadapi ketidaknyamanan, tekanan, atau bahkan stres. Sebab, jika stres berlangsung lama tanpa penanganan yang tepat, tubuh dan pikiran bisa terkena dampaknya, seperti: 

  • Sulit tidur atau justru tidur berlebihan. 
  • Nafsu makan berubah drastis. 
  • Sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab jelas. 
  • Badan terasa pegal dan lelah terus-menerus. 
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai. 
  • Emosi lebih sensitif dan mudah tersulut. 

Nah, di titik inilah coping mechanism bukan lagi pilihan, tapi seakan jadi kebutuhan dasar untuk bertahan secara emosional. Dalam psikologi, coping mechanism umumnya dibagi ke dalam dua pendekatan besar, yakni:

1. Coping yang Berfokus pada Masalah (Problem-Focused Coping)

Strategi ini kerap dilakukan langsung ke sumber stresnya. Artinya, saat stres kita berusaha mengubah situasi, mencari solusi, atau mengambil keputusan konkret agar masalah tidak terus berlarut.

Contohnya:

  • Membicarakan konflik secara terbuka. 
  • Menetapkan batasan dalam hubungan atau pekerjaan. 
  • Mengakhiri relasi yang terbukti toksik. 
  • Menyusun daftar prioritas dan rencana tindakan. 
  • Mencari bantuan profesional atau konseling. 

Coping jenis ini bisa dikatakan efektif ketika situasi masih bisa dikendalikan atau diperbaiki.

2. Coping yang Berfokus pada Emosi (Emotion-Focused Coping)

Strategi coping yang satu ini tidak bertujuan mengubah situasi, melainkan mengelola respons emosional terhadap situasi tersebut. Ini penting terutama saat kita menghadapi hal-hal yang berada di luar kendali, seperti kehilangan atau kondisi tertentu.

Contohnya:

  • Meditasi, yoga, atau latihan pernapasan. 
  • Menulis jurnal emosi. 
  • Introspeksi dan refleksi diri. 
  • Berdoa atau mencari makna spiritual. 
  • Berbicara dengan orang yang dipercaya. 

Meski tidak menyelesaikan masalah secara langsung, strategi coping yang satu ini membantu meredakan reaksi emosional agar kita tidak mengambil keputusan impulsif.

Coping Mechanism Nggak Selalu Sehat

Meski terdengar baik untuk mengatasi stres dan tekanan, tapi nggak semua orang memiliki coping mechanism yang sehat. Coping yang sehat membantu menenangkan diri tanpa merusak tubuh, relasi, atau kehidupan jangka panjang. Beberapa contohnya antara lain:

  • Berolahraga ringan atau rutin. 
  • Merawat diri sebagai bentuk perhatian, bukan tuntutan. 
  • Membersihkan rumah atau berkebun. 
  • Melakukan hobi yang disukai. 
  • Bermain dengan hewan peliharaan. 
  • Menulis atau journaling.

Aktivitas-aktivitas ini membantu kita memberi jeda emosional sekaligus ruang untuk memulihkan diri.

Sebaliknya, coping yang tidak sehat biasanya hanya memberikan kelegaan sementara, tapi meninggalkan dampak jangka panjang yang lebih bera, baik bagi fisik maupun mental. Contohnya antara lain sebagai berikut:

  • Konsumsi alkohol berlebihan. 
  • Penyalahgunaan obat-obatan.
  • Makan berlebihan sebagai pelarian emosi. 
  • Menyakiti diri sendiri. 
  • Mengisolasi diri terlalu lama. 
  • Belanja impulsif sebagai pelampiasan. 
  • Tidur berlebihan untuk “menghilang” dari realita. 

Coping jenis ini tentunya nggak akan menyelesaikan masalah ya, HEALMates. Sebaliknya, justru menambah lapisan masalah baru yang kompleks.

Nah, itulah penjelasan mengenai apa itu coping mechanism yang kita lakukan saat menghadapi masalah ya, HEALMates. Penting untuk digarisbawahi bahwa coping mechanism bukan soal menjadi kuat setiap saat. Tapi, bagaimana kita mampu mengelola persoalan yang kita hadapi agar mental kita tetap terlindungi. Semoga informasi ini bermanfaat, HEALMates! (RIW)

Bagikan :
Apa itu coping mechanism?

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa