Logo Heal

FASHION & BEAUTY

Fashion & Beauty

Anak Sering Mengalah? Ini Alasan Pentingnya Mengajarkan Hak Milik Sejak Dini

Anak Sering Mengalah? Ini Alasan Pentingnya Mengajarkan Hak Milik Sejak Dini

Oleh :

HEAL Mates, pernah nggak sih menghadapi momen seperti ini? Momen ketika anak pulang sekolah, wajahnya tampak cemas, lalu perlahan berkata,
“Ma…  pulpenku tintanya habis lagi,”
atau, “Temanku minta penghapus, jadi aku kasih aja.”

Sekilas, kita bangga karena anak tampak baik, murah hati, dan suka berbagi. Tapi di balik rasa bangga itu, terselip satu kegelisahan kecil.  Kenapa barangnya hilang terus? Kenapa ia begitu mudah menyerahkan miliknya? Dan yang paling penting, apakah ini benar-benar kebaikan yang lahir dari hati, atau karena ia tidak enak menolak?

Fenomena anak yang terlalu mudah mengalah ini cukup umum terjadi, terutama di usia prasekolah hingga SD kelas awal. Di tahap ini, anak memang sedang belajar memahami dunia sosial. Namun, ada hal besar yang sering luput dari perhatian: konsep hak milik dan batas diri. Penelitian dari University of Michigan menunjukkan bahwa anak usia 3–6 tahun sudah mulai memahami konsep punyaku, tapi kemampuan mempertahankannya masih rapuh. Mereka mudah terpengaruh oleh ajakan teman atau tekanan sosial. Meskipun anak memahami kepemilikan secara emosional, mereka belum benar-benar mengerti aturan sosialnya. Mereka belum paham kapan harus berbagi, kapan boleh menolak, dan kapan berhak berkata “tidak”.

HEALMates, mari kita simak beberapa alasan kenapa anak perlu belajar tentang hak milik sejak dini. 

Mengapa Anak Terlalu Mudah Mengalah? 

Saat kita bertemu anak yang selalu mengalah, seringkali kita hanya melihat permukaan dan melabeli bahwa anak itu baik dan mudah bergaul.  Padahal, ada lapisan-lapisan halus di balik perilaku tersebut yang perlu kita lihat lebih dalam. Banyak anak mengalah bukan karena mereka pemurah, tetapi karena mereka belum sepenuhnya memahami bahwa mereka berhak mempertahankan sesuatu. Mereka belum bisa membedakan antara berbagi yang sehat dan berbagi karena takut kehilangan teman. Belum lagi, kemampuan berkomunikasi mereka masih berkembang. Anak yang belum fasih menyampaikan keinginan kadang memilih jalan paling aman dengan menyerahkan barang miliknya.

Beberapa anak mengalah untuk menjaga keharmonisan, karena mereka tidak ingin membuat temannya kesal. Anak seperti ini biasanya sangat peka terhadap perasaan orang lain. Secara psikologis, sensitivitas seperti ini baik, tetapi jika tidak dibarengi kemampuan menjaga batas, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang selalu menomorduakan dirinya. Psikolog perkembangan, Nancy Darling, pernah menulis bahwa anak yang terlalu sering mengalah cenderung belajar bahwa damai itu lebih penting daripada keinginan pribadi. Pada usia dini, mungkin ini terdengar manis. Tetapi dalam kehidupan dewasa bisa berubah menjadi pola hubungan tidak sehat. Orang tersebut akan sulit berkata tidak, sering merasa bersalah, dan mudah dimanfaatkan. Sementara itu, beberapa penelitian dari Australia dan Kanada menunjukkan bahwa mengajarkan pemahaman tentang hak milik meningkatkan empati. 

Kok bisa? Karena anak yang tahu batas dirinya justru lebih mudah menghargai batas orang lain. Ia tahu rasanya punya sesuatu yang penting, sehingga ia juga tahu rasanya jika batas itu dilanggar. Di sinilah kita melihat bahwa batas biri membuat kita menjadi sadar diri dan sadar terhadap orang lain.

 

Hak Milik Itu Pondasi Rasa Aman 

Saat kita melatih anak menjaga miliknya, kita sedang membangun pondasi penting berupa rasa aman. Anak yang merasa aman dengan miliknya akan merasa aman dengan dirinya. Rasa aman ini, menurut penelitian University of Cambridge, berhubungan erat dengan kepercayaan diri. Anak yang tahu kapan berbagi dan kapan berkata tidak akan tumbuh menjadi anak yang mantap dengan pilihannya.

Konsep batas diri juga muncul di sini. Dalam psikologi, batas diri atau self-boundary adalah kemampuan seseorang untuk mengatakan: “Ini saya. Ini milik saya. Ini keputusan saya.” Tanpa batas diri, anak kehilangan kompas yang memandu mereka dalam relasi sosial. Mengajarkan hak milik tidak akan membuat anak menjadi keras kepala. Justru sebaliknya, riset menunjukkan bahwa anak yang paham kepemilikan akan lebih tenang saat berinteraksi, lebih mampu menegosiasi, lebih percaya diri menghadapi tekanan teman, dan lebih tulus ketika berbagi. Alasannya karena anak tahu bahwa berbagi itu pilihan bukan paksaan. 

Psikolog anak Dr. Laura Markham menekankan bahwa berbagi yang dipaksa tidak pernah menghasilkan empati. Yang tumbuh justru rasa tidak aman. Anak yang selalu dipaksa berbagi tanpa diberi ruang memutuskan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu memprioritaskan kenyamanan orang lain daripada dirinya sendiri. Nama lain dari perilaku ini yaitu people pleaser.

HEAL Mates, di titik ini kita mulai memahami bahwa mengajarkan kepemilikan bisa mengajarkan tentang menjaga harga diri sejak dini.

 

Cara Mengajarkan Hak Milik Secara Lembut dan Ramah Anak

Mengajarkan hak milik tidak perlu rumit. Bahkan bisa menjadi kegiatan harian yang hangat dan menyenangkan. Tidak harus dengan instruksi formal.Namun, cukup lewat percakapan ringan, kebiasaan kecil, dan contoh yang konsisten. Mulailah dengan bahasa yang jelas. Katakan pada anak: “Ini barangmu, dan kamu boleh memutuskan apakah mau meminjamkan atau tidak.”
Bahasa seperti ini memberi mereka sense of agency atau perasaan bahwa ia punya kendali atas dirinya. Selanjutnya, bantu anak menemukan cara menolak yang sopan. Anak sering mengalah karena tidak tahu bagaimana bicara. Ajari mereka kalimat sederhana seperti, “Aku masih pakai ya,” atau “Boleh nanti setelah aku selesai.” Ini bukan hanya latihan bahasa, tetapi latihan keberanian.

HEAL Mates juga bisa membuat permainan “Milikku atau Boleh Dipinjam”. Gunakan dua kotak, lalu minta anak memasukkan barang sesuai kategori. Cara visual seperti ini terbukti mempermudah pemahaman anak menurut beberapa penelitian perkembangan di Eropa dan Amerika. Tak kalah penting, beri pujian saat anak berhasil menjaga miliknya tanpa menyakiti orang lain. Pujian pada usaha akan membangun identitas positif dalam diri anak. Anak akan merasa berharga dan paham bahwa batas mereka penting.

Lalu, bagaimana jika barangnya hilang? Jangan langsung ganti dengan yang baru ya HEALMates. Ajak anak mencari, bertanya, atau melapor. Tujuannya bukan memarahi, tetapi mengajarkan bahwa hak itu bisa diperjuangkan.

Mengalah Tidak Salah, Tapi Tidak Selalu Harus

Begini, HEAL Mates… pada akhirnya, mengalah itu memang tindakan mulia. Tapi kalau anak terlalu sering mengalah, terlalu sering kehilangan barang, atau selalu menyesuaikan diri demi orang lain, kita perlu jeda sebentar dan perlu mengecek : 

“Apakah ia berbagi karena benar-benar ingin? Atau karena ia belum mampu berkata tidak?”

hal ini penting banget untuk kita pastikan, karena ketika anak tidak paham batas hak miliknya, biasanya ia juga kesulitan memahami batas emosinya. Lama-lama, ia bisa tumbuh jadi people-pleaser. Ia selalu mengalah demi diterima, takut mengecewakan, dan merasa harus memenuhi keinginan orang lain. Makanya, mengajarkan hak milik sejak dini sama saja membangun pondasi psikologis yang kuat supaya anak tumbuh percaya diri, berani berkata tidak, dan mampu menjaga dirinya.

Ketika anak paham mana yang jadi miliknya, ia juga belajar satu hal yang jauh lebih besar yaitu nilai dirinya sendiri. Dan itu, HEAL Mates, adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan.

Bagikan :
Anak Sering Mengalah? Ini Alasan Pentingnya Mengajarkan Hak Milik Sejak Dini

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

halo@heal-sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa