Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Anak Penurut yang Tumbuh dengan Menyenangkan Orang Lain, Kisah Inspiratif Tentang Luka Inner Child

Anak Penurut yang Tumbuh dengan Menyenangkan Orang Lain, Kisah Inspiratif Tentang Luka Inner Child

Oleh :

Untuk memahami bagaimana inner child yang terluka bekerja dalam kehidupan dewasa, Tim Riset HEAL berbincang dengan seorang narasumber (Ninna, bukan nama sebenarnya). Wawancara ini dilakukan secara tertutup untuk menjaga privasi dan keamanan emosional narasumber.

Ninna tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dari luar terlihat baik-baik saja. Orang tuanya tidak pernah melakukan kekerasan fisik, namun tuntutan untuk selalu patuh dan “tidak merepotkan” begitu kuat sejak ia kecil. Ninna sejak kecil diasuh oleh nenek dan tantenya. Sementara itu, orang tuanya harus merantau mencari nafkah. Bisa dikatakan, Ninna tidak tumbuh bersama sosok yang seharusnya membersamai tumbuh kembangnya. 

“Dari kecil aku terbiasa dengar kalimat, jangan bikin malu, jangan nyusahin orang, kamu harus bisa jaga perasaan orang lain,” cerita Ninna.

Tanpa disadari, pesan-pesan itu tertanam dalam alam bawah sadar Ninna. Ia belajar bahwa diterima berarti tidak menolak dan dicintai berarti tidak merepotkan. Pada akhirnya, emosinya sendiri perlahan dikesampingkan demi menjaga kenyamanan orang lain.

Nggak Enakan yang Berubah Jadi Pola Hidup

Memasuki usia dewasa, pola itu tak serta-merta hilang dan justru semakin menguat. Ninna menyadari dirinya sering merasa bersalah saat mengatakan “tidak”, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya memberatkan baginya.

“Aku bisa capek banget, tapi tetap bilang iya. Setelah itu baru nyesel, marah ke diri sendiri, tapi di depan orang tetap senyum,” ujarnya.

Dalam relasi pertemanan maupun pekerjaan, Ninna sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Ia takut dianggap egois, takut mengecewakan, dan lebih takut lagi tidak disukai serta ditinggalkan.

Perilaku nggak enakan itu lama-kelamaan berubah menjadi people pleasing, sebuah pola bertahan hidup yang dibangun sejak kecil. Bukan karena Ninna ingin dipuji, melainkan karena ia belajar bahwa rasa aman datang dari penerimaan orang lain. Jika ada satu saja orang yang mulai tidak menyukainya, ia akan merasa resah dan overthinking.

People Pleaser Jadi Cara Bertahan

Ninna mengaku baru menyadari bahwa dirinya seorang people pleaser ketika tubuh dan pikirannya mulai lelah. 

“Aku sering ngerasa capek. Kayak hidup buat orang lain terus. Tapi waktu ditanya aku maunya apa, aku bingung jawabnya,” kata Ninna pelan.

Ia juga menyadari bahwa konflik kecil saja bisa memicu kecemasan berlebihan. Nada bicara orang yang sedikit berubah, pesan yang tak segera dibalas, atau ekspresi wajah yang sulit dibaca bisa langsung membuatnya menyalahkan diri sendiri. “Kok dia begitu, aku salah apa ya?” pertanyaan itu kerap berkecamuk di kepala Ninna. Ia sendiri merasa bahwa inner child-nya masih hidup dalam mode siaga, takut dimarahi, takut ditolak, dan takut tidak cukup baik.

Proses Menyadari Luka

Menyadari bahwa semua ini berakar dari pola asuh masa kecil bukan hal yang mudah. Ninna sempat merasa bersalah karena mengaitkan luka emosionalnya dengan keluarga.

“Aku lama mikir, masa iya aku nyalahin orang tua? Mereka kan udah berusaha,” katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, Ninna belajar bahwa mengakui luka bukan berarti menyalahkan, melainkan agar bisa lebih memahami. Ia tahu bahwa kebutuhan emosional yang tak terpenuhi di masa kecil bisa meninggalkan jejak panjang di usia dewasa. Kini, meski prosesnya belum selesai, Ninna sudah perlahan belajar menetapkan batas. Belajar mengatakan “tidak” tanpa harus merasa jahat atau merasa bersalah. Ia pun mulai belajar mendengarkan dirinya sendiri, sesuatu yang dulu tak pernah ia dapatkan.

“Aku lagi belajar jadi orang tua buat diri sendiri. Mungkin nggak sempurna, tapi pelan-pelan.”

Itulah kisah inspiratif dari Ninna tentang dampak pola pengasuhan pada inner child dan kehidupan dewasa. Kisah seperti yang dialami Ninna mengingatkan kita bahwa inner child yang terluka tidak hilang begitu saja saat kita tumbuh dewasa. Ninna mungkin saja adalah kita, yang tumbuh dengan luka namun belum menyadarinya. Bisa jadi, ada banyak Ninna-Ninna lainnya di luar sana yang perlu dirangkul agar berani menyadari dan memeluk diri sendiri dengan lebih lembut. Sebab, di sanalah proses pemulihan dimulai. Bagaimana dengan kisahmu, HEALMates? (RIW)

Bagikan :
Anak Penurut yang Tumbuh dengan Menyenangkan Orang Lain, Kisah Inspiratif Tentang Luka Inner Child

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa