Media sosial yang semakin maju saat ini membuat semua orang dari kalangan anak-anak, remaja, hingga
orang tua di berbagai dunia seakan dunia maya adalah bagian dari hidupnya. Saat berselancar lama di
sosial media semakin banyak terpaan negatif yang diterima, seperti komentar negatif, rasa iri melihat
postingan orang lain travelling, adanya standar kecantikan, dan sebagainya. sehingga fikiran terpengaruh yang
menimbulkan masalah kesehatan mental.
Dilansir dari databok.katadata.co.id (http://databok.katadata.co.id) berdasarkan laporan Januari
2023 dari We Are Social dan Hootsuite sebanyak 4,76 M jiwa setara 59,4% dari populasi di dunia
menggunakan sosial media. Dapat diakui bergitu menariknya sosial media, bahkan masuknya pandemi
memaksa kehidupan untuk beraktifitas menggunakan menggunakan digital, sehingga tidak terlepas
akan penggunaan Sosial media karena bisa berinteraksi tanpa terbatas ruang dan waktu, mudah
membagikan dan menciptakan konten-konten menarik.
Ternyata rata-rata orang di dunia terhubung sosial mencapai 2 jam 31 menit per hari bahkan orang
Indonesia mencapai 3 jam 18 menit dalam sehari. Seharusnya penggunaan sosial media yang baik
berdasarkan penelitian dari University of Pennsylvania yaitu 30 menit per hari. Nyatanya berdasarkan
jurnal JAMA Psychiatry bahwa penggunaan media sosial berlebih berdampak tinggi terhadap Mental
Illness.
Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan JIka menggunakan sosial media berlebih:
1. Social Comparison
Seseorang yang menggunakan media sosial akan secara tidak sadar membuka postingan story orang-
orang yang berisikan aktifitas atau sebagainya. Sehingga secara tidak sadar akan terjadi pada diri seperti:
a. Perbandingan Sosial Upward (ke atas) yaitu membandingkan dirinya dengan orang lain yang ia anggap
lebih baik, lebih sukses, atau lebih berprestasi. Ini dapat mendatangkan rasa rendah diri atau tidak puas
terhadap dirinya. Contohnya “kenapa ya aku ga bisa kaya dia”. ”kenapa ya waktu itu ga melakukan ini,
coba kalau melakukannya keadaan akan baik” sehingga menimbulkan rasa sakit pada diri.
b. Perbandingan Sosial Downward (ke bawah) yaitu seseorang membandingkan dirinya dengan individu
yang dianggap kurang beruntung, kurang sukses, atau lebih buruk dalam suatu hal. Perbandingan ini
mungkin memberikan rasa positif tentang diri sendiri atau meningkatkan rasa puas. Seperti rasa kasihan
Berlebihan yang mengarah pada rasa kasihan terhadap dirinya atau merasa satu-satunya keberhasilan
datang dari membandingkan diri dengan orang lain yang menderita. Lalu karena merasa lebih baik
sehingga mengabaikan atau mengesampingkan tantangan atau perjuangan pribadi yang mungkin
sedang dihadapinya.
2. Gangguan Tidur
Seorang yang Penggunaan media sosial atau bahkan lainnya yang terhubung jejaring internet sebelum
tidur atau bahkan di tempat tidur dapat mengganggu pola tidur. Paparan cahaya dari layar
handphone dapat merusak produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur.
Gangguan tidur dapat memicu seseorang terhadap sulit merusak mood seseorang konsentrasi saat
berkatifitas, dan berkurangnya keehatan fisik. Mengingat tidur malam dapat meningkatkan daya tahan
tubu, mengatur stress, pemulihan fisik, menjaga kesehatan mental.
3. Kecemasan dan Stres
Penggunaan sosial media secara terus menerus dapat menimbulkan kecemasan dan stres. Notifikasi
yang terus-menerus dan tekanan diri untuk tetap raga terjaga sehingga meningkatkan rasa
kecemasan bahkan stres.
4. Peningkatan Risiko Depresi
Beberapa penelitian mengaitkan penggunaan sosial media yang berlebihan dengan peningkatan risiko
depresi. Perbandingan sosial dan paparan konten negatif dapat mempengaruhi mood dan kesejahteraan
psikologis.
5. Ketergantungan dan Gangguan Perhatian
Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan, yang pada akhirnya
dapat mempengaruhi kemampuan dalam fokus beraktifitas dan memperhatikan hal-hal di sekitarnya.
6. Isolasi Sosial
Menggunakan media sosial yang berlebihan terkadang dapat menyebabkan malas bersosialisasi. Terlalu
fokus pada lhandphone dapat mengurangi berinteraksi langsung pada orang lain, yang dapat
mempengaruhi kesehatan mental.
7. Penurunan Produktivitas
Meskipun saat ini media sosial dapat menjadi perantara mendapatkan penghasilan. Namun
penggunaan yang berlebihan dapat mengalihkan perhatian dan menurunkan produktivitas.
8. Gangguan Citra Tubuh
Paparan terus-menerus terhadap citra tubuh yang ideal di media sosial dapat menyebabkan
perbandingan sosial yang merugikan, meningkatkan risiko masalah kesehatan mental terkait dengan
citra tubuh. Seseorang yang tidak puas dengan dirinya akan memicu kesehatan mental seperti:
a. Bulimia Nervosa, seperti ingin memuntahkan makanannya yang sudah tertelan secara paksa atau
menggunaan pencahar
b. Anoreksia Nervosa, individu mungkin terobsesi dengan makanan, diet ekstrem, dan memiliki persepsi
tubuh yang tidak akurat.
Namun jika menggunakan sosial media secara bijak akan memberikan manfaat bagi semua orang
misalnya membuat group untuk saling support. Bahkan dalam kontek kesehatan mental bisa membuat
group beberapa sosial berisikan orang-orang yang memiliki mental illness untuk saling support,
berbagi pengetahuan, dan pengalaman tentang mental health.
Jika mengurangi penggunaan sosial media menjadi 30 menit per hari, akan berpengaruh besar dalam
kesehatan mental. Sehingga akan menghindari rasa kesepian dan depres atau kecemasan atau Fear of
Missing Out (FOMO): kekhawatiran atau ketakutan seseorang bahwa mereka sedang melewatkan atau
akan melewatkan suatu kegiatan, pengalaman, atau informasi yang sedang terjadi atau populer di
kalangan orang lain , fisikpun bisa nyaman.
Sumber :
https://www.halodoc.com/artikel/pengaruh-media-sosial-pada-kesehatan-mental-remaja
University of Nevada, Reno. Diakses pada 2020. Impact of Social Media on Youth Mental Health:
Statistics, Tips & Resources.
North Carolina Medical Journal. Diakses pada 2020. The Impact of Social Media on Youth Mental Health
http://databok.katadata.co.id

