Ada momen-momen tertentu ketika waktu terasa berhenti sejenak ya, HEALMates. Salah satunya adalah ketika kita mendengar kabar bahwa seseorang telah pergi untuk selamanya. Apalagi jika orang tersebut adalah sosok yang pernah kita kenal, meskipun hanya lewat layar, lagu, tulisan, atau karya yang pernah menemani hari-hari kita. Ya, kita sedang belajar dari kepergian seorang publik figur yang dikenal sangat friendly, ceria, dan memberi kesan positif, Vidi Aldiano.
Beberapa hari lalu, tepatnya pada 7 Maret 2026, Vidi menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang selama kurang lebih tujuh tahun melawan kanker ginjal. Aneh rasanya, ketika kita mungkin tidak pernah bertemu secara langsung, tidak pernah berbincang, bahkan tidak pernah berada dalam lingkaran hidup yang sama. Namun, ketika kabar kepergian itu datang, ada sesuatu dalam diri kita yang ikut tersentuh. Ada jeda kecil dalam kesibukan, seolah dunia meminta kita berhenti sebentar untuk merenung.
Mengapa kepergian seseorang, terutama figur publik, bisa membuat begitu banyak orang ikut merasakan kehilangan? Barangkali karena di balik kabar itu, ada satu hal yang tiba-tiba terasa sangat nyata, bagaimana waktu ternyata tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun.
Ketika Sebuah Kepergian Menjadi Cermin
Terlepas dari kepergian Vidi, kematian memang sering kali menjadi cermin yang memantulkan kembali kehidupan kita sendiri. Ketika kita mendengar seseorang berpulang, tanpa sadar kita mulai berpikir tentang banyak hal, tentang usia, tentang rencana yang belum sempat diwujudkan, tentang orang-orang yang kita sayangi, dan tentang hari-hari yang mungkin selama ini kita jalani dengan terburu-buru.
Kita mungkin mulai bertanya dalam hati, “Apakah aku sudah benar-benar hidup dengan baik?”
Pertanyaan itu mungkin tidak selalu muncul dalam bentuk kata-kata ya, HEALMates? Kadang ia hadir sebagai perasaan yang sulit dijelaskan, sebuah kesadaran halus bahwa hidup ini rapuh dan sementara.
Dalam spiritualitas berbagai tradisi, kesadaran akan kefanaan justru dianggap sebagai salah satu pintu menuju kebijaksanaan. Bukan untuk menakut-nakuti manusia, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidup bukan sesuatu yang bisa kita tunda tanpa batas.
Waktu yang Selalu Kita Anggap Masih Panjang
Dalam keseharian, manusia sering hidup dengan asumsi bahwa waktu masih panjang. Kita masih punya hari esok, kok. Pada akhirnya, kita menunda banyak hal, menunda meminta maaf, menunda mengunjungi orang tua, menunda memulai mimpi yang sudah lama ingin dijalani, dan penundaan lainnya.
Kita percaya bahwa besok masih ada, bahwa minggu depan masih tersedia, dan bahwa suatu hari nanti kita pasti sempat melakukannya. Padahal kenyataannya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu seberapa panjang waktunya di dunia ini.
Kesadaran ini mungkin terasa menakutkan jika dilihat dari sisi kehilangan. Namun dari sudut pandang lain, kesadaran ini justru bisa menjadi pengingat yang lembut, tentang hidup adalah kesempatan yang tidak datang dua kali karena itulah kita perlu memanfaatkannya dengan senantiasa berbuat baik dan bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.
Ingatan Kematian Membuat Kita Merenung
Ada alasan psikologis mengapa kabar kematian, terutama dari figur publik, sering memicu refleksi kolektif. Figur publik hadir dalam kehidupan kita melalui karya mereka. Lagu yang pernah kita dengar, podcast yang senantiasa menemani hari-hari kita, atau tulisan yang kita baca di saat-saat tertentu. Tanpa disadari, karya-karya itu menjadi bagian dari memori pribadi kita. Ketika sosok di balik karya tersebut berpulang, rasanya seperti sebuah bab kecil dalam kehidupan kita ikut tertutup.
Momen itu membuat kita sadar bahwa kehidupan terus bergerak, bahwa waktu berjalan bahkan ketika kita tidak memperhatikannya. Sering kali, kesadaran itulah yang membuat kita mulai memandang hidup dengan cara yang sedikit berbeda.
Lebih Menghargai Hidup
Dalam banyak hal, kita perlu memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu di masa depan. Sebaliknya, hidup juga tentang hadir sepenuhnya dalam waktu yang sedang kita jalani saat ini. Namun, entah kenapa, kita sering lupa. Kita sibuk mengejar target, sibuk memikirkan rencana, dan sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Hingga tanpa sadar, kita melewati begitu banyak momen kecil yang sebenarnya sangat berharga.
Padahal, mungkin kebahagiaan tidak selalu berada di masa depan yang jauh, HEALMates. Bisa saja, kebahagiaan ada di percakapan sederhana dengan keluarga, tawa kecil bersama teman, atau sekadar masih bisa bernafas dengan lega hari ini. Semuanya adalah bentuk kebahagiaan dan nikmat yang seharusnya terus kita syukuri.
Kepergian seseorang kadang mengingatkan kita pada hal-hal sederhana itu, bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani setiap langkahnya.
Tentang Jejak yang Kita Tinggalkan
Yang membuat terenyuh dari kabar kepergian Vidi Aldiano adalah bagaimana ia di mata keluarga dan sahabat-sahabatnya. Banyak orang mengenang Vidi sebagai pribadi yang hangat, ceria, rendah hati, dan penuh kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya. Cerita tentang sikapnya yang ramah, senyumnya yang tulus, serta caranya memperlakukan orang lain dengan hangat banyak diberitakan di media sosial. Hal-hal sederhana seperti itulah yang sering kali justru menjadi jejak paling kuat dari seseorang.
Hal ini juga pada akhirnya membuat kita memikirkan merenung, jejak apa yang akan kita tinggalkan suatu hari nanti? Akan dikenal sebagai pribadi yang seperti apa kita di mata orang-orang?
Meski begitu, jejak kehidupan sebenarnya tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Kadang jejak itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Dalam kebaikan kecil yang pernah kita lakukan, dalam dukungan yang kita berikan kepada seseorang, dalam kehadiran kita yang mungkin pernah membuat hari orang lain terasa sedikit lebih ringan.
Karena mungkin pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa lama kita berada di dunia ini. Melainkan tentang seberapa baik kita memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan untuk berbuat baik.
Sebuah kepergian datang bukan hanya sebagai kehilangan, tetapi juga sebagai pengingat yang lembut bahwa waktu yang kita miliki hari ini adalah sesuatu yang sangat berharga. (RIW)

