Menjelang senja di bulan Ramadan, ada satu tradisi unik yang kerap dilakukan masyarakat di Indonesia ya, HEALMates. Jalanan mulai ramai, aroma gorengan menyeruak di udara, deretan lapak dadakan bermunculan di pinggir jalan. Dari kolak pisang, es campur, hingga aneka gorengan yang menggoda, semua hadir sebagai penanda waktu berbuka semakin dekat. Inilah momen yang akrab kita sebut sebagai berburu takjil.
Tradisi ini mungkin terlihat sederhana. Namun di balik antrean panjang dan pilihan menu yang menggugah selera, berburu takjil menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Lebih dari Sekadar Makanan Pembuka
Secara harfiah, takjil merujuk pada makanan atau minuman untuk membatalkan puasa. Namun dalam praktiknya, berburu takjil telah berkembang menjadi sebuah kebiasaan kolektif yang khas di Indonesia. Setiap Ramadan, aktivitas ini seolah menjadi ritual tak tertulis yang dinantikan banyak orang.
Menariknya, tradisi berburu takjil tidak hanya menjadi milik umat Muslim. Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial ramai menyoroti keikutsertaan umat non-Muslim yang turut meramaikan aktivitas berburu takjil. Beragam pilihan takjil, mulai dari kolak, es buah, kurma, aneka kue, hingga minuman segar, menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang ingin mencicipi hidangan khas Ramadan.
Bahkan, sempat muncul fenomena unik berupa gerai takjil yang meminta pembelinya menyebutkan password berupa pertanyaan seputar fikih atau pengetahuan agama. Tujuannya sederhana, agar takjil tidak habis dibeli oleh mereka yang tidak menjalankan puasa. Meski terkesan lucu, hal ini justru memperlihatkan suasana yang cair dan penuh toleransi, di mana setiap orang saling memahami dan menghormati praktik keagamaan satu sama lain.
Lebih dari sekadar berburu makanan, tradisi ini juga sarat dengan nilai sosial. Tak sedikit penjual takjil yang memanfaatkan momen Ramadan untuk berbagi, baik melalui pembagian makanan gratis maupun program amal bagi mereka yang membutuhkan. Nilai-nilai inilah yang memperkuat solidaritas sosial, tidak hanya antara sesama umat Muslim, tetapi juga dengan umat non-Muslim. Pada akhirnya, berburu takjil bukan sekadar soal menikmati hidangan lezat, melainkan tentang merawat kebersamaan, menumbuhkan empati, dan membangun kepedulian sosial yang relevan sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadan.
Ada yang berburu takjil sepulang kerja, ada pula yang sengaja datang bersama keluarga atau teman. Anak-anak berlarian sambil menunjuk jajanan favoritnya, orang tua sabar menunggu giliran, sementara pedagang sibuk melayani pembeli dengan senyum lelah tapi hangat. Semua larut dalam kebersamaan dan toleransi. Di sinilah keistimewaannya, berburu takjil menghadirkan suasana kebersamaan yang jarang kita temui di hari-hari biasa.
Menghidupkan Ekonomi Rakyat di Bulan Suci
Di balik ramainya lapak takjil, ada denyut ekonomi rakyat yang juga ikut bergerak ya, HEALMates. Banyak orang memanfaatkan Ramadan sebagai momentum untuk berjualan, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pekerja yang mencoba peruntungan kecil-kecilan.
Tradisi berburu takjil memberi ruang bagi usaha mikro untuk tumbuh, meski hanya sementara. Namun bagi sebagian orang, hasil dari berjualan takjil bisa sangat berarti untuk menambah penghasilan, memenuhi kebutuhan Ramadan, atau sekadar bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah. Alhasil, berburu takjil bukan hanya tentang konsumsi, tetapi juga tentang saling menghidupi.
Nilai Spiritual di Tengah Keramaian
Meski identik dengan keramaian dan hiruk pikuk, berburu takjil tetap memiliki nilai spiritual. Menahan diri saat lapar, memilih secukupnya, dan tidak berlebihan adalah bagian dari pelajaran puasa. Ramadan mengajarkan bahwa berbuka bukan ajang balas dendam, melainkan momen syukur.
Tak jarang, di antara lapak-lapak takjil, kita menemukan orang-orang yang berbagi secara gratis. Ada yang membagikan kolak, air mineral, atau kurma untuk siapa saja yang membutuhkan. Aksi sederhana ini menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah tentang memberi, bukan hanya menerima.
Tradisi yang Terus Bertahan
For your information HEALMates, tradisi takjil di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun silam. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa kebiasaan berbuka puasa bersama dengan sajian sederhana sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak akhir abad ke-19, terutama di Aceh.
Selain itu, praktik berbagi takjil juga dipercaya menjadi bagian dari strategi dakwah para Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan yang ramah dan membumi, tradisi berbagi makanan saat Ramadan menjadi sarana mempererat hubungan sosial sekaligus memperkenalkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.
Memasuki era 1950-an, tradisi takjil kian berkembang, khususnya di kawasan Masjid Kauman Yogyakarta, yang dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya. Dari titik inilah, kebiasaan berbagi dan berburu takjil semakin meluas ke berbagai daerah.
Seiring waktu, tradisi ini tumbuh dan mengakar kuat hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadan di Indonesia. Hingga kini, takjil identik dengan beragam hidangan yang selalu hadir menemani waktu berbuka puasa. Di era digital, ketika banyak hal bisa dipesan secara daring, tradisi berburu takjil tetap bertahan. Ada pengalaman yang tidak tergantikan dari berjalan kaki sore hari, memilih langsung makanan, dan merasakan atmosfer Ramadan secara utuh.
Berburu takjil adalah cara sederhana untuk “hadir” di bulan suci. Ia menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga tentang hubungan sosial, empati, dan kebersamaan. Siap berburu takjil hari ini, HEALMates?

