Kita tentu pernah menghadapi kesulitan dalam hidup ya, HEALMates. Di tengah segala ketidakmampuan diri, ada kalimat yang sering kita dengar, “Sudah, tawakal saja.” Sekilas, kalimatnya terdengar menenangkan. Tapi di saat yang sama, sering juga terasa membingungkan.
Tawakal yang bagaimana? Apakah itu berarti berhenti berusaha? Pasrah sepenuhnya? Atau justru menyerah dengan dalih menerima takdir? Nyatanya, tawakal adalah salah satu konsep dalam Islam yang paling sering disalahpahami.
Banyak orang mengira tawakal adalah titik akhir dari perjuangan, padahal sejatinya ia justru menjadi penguat di tengah proses panjang bernama ikhtiar. Yuk, simak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut ini!
Antara Takdir dan Usaha
Takdir sering dianggap sebagai sesuatu yang kaku dan tidak bisa diubah. Akibatnya, ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, gagal lolos seleksi, bisnis jatuh, rumah tangga goyah, atau impian tak kunjung tercapai, kita buru-buru menyebutnya sebagai “takdir” dan akhirnya kita berhenti berusaha.
Padahal, dalam Islam, takdir terdiri dari dua jenis, yakni takdir muallaq dan takdir mubram. Merujuk pada Modul Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas IX terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014), takdir muallaq dipahami sebagai ketentuan Allah yang tetap memberi ruang bagi manusia untuk berperan aktif melalui usaha atau ikhtiar yang dilakukan.
Takdir muallaq bisa dianggap sebagai takdir yang bisa diubah tergantung pada tindakan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Dalil tentang takdir muallaq dijelaskan pada surat Ar-Rad ayat 11.
لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
Artinya:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Sementara itu, takdir mubram memiliki perbedaan mendasar dengan takdir muallaq. Jika takdir muallaq berkaitan erat dengan peran manusia melalui doa dan usaha, maka takdir mubram adalah ketetapan Allah yang bersifat mutlak dan tidak dapat diubah oleh ikhtiar manusia. Dalam hal ini, doa tidak berfungsi untuk mengubah ketetapan, melainkan sebagai bentuk penerimaan dan penguatan iman.
Ketetapan mengenai takdir mubram dijelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 78, yang menegaskan bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan manusia berada dalam ketentuan Allah SWT.
اَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ فَمَالِ هٰٓؤُلَاۤءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا ٧٨
Artinya:
“Di mana pun kamu berada, kematian pasti akan mendatangimu, meskipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata, ‘Ini dari Allah,’ dan jika mereka ditimpa keburukan, mereka berkata, ‘Ini dari engkau (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya berasal dari Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu hampir tidak memahami pembicaraan?”
Beberapa contoh takdir mubram antara lain adalah peristiwa kelahiran, kematian, dan keturunan. Ketiga hal tersebut merupakan ketentuan Allah yang sepenuhnya berada di luar kendali manusia dan tidak dapat ditawar atau diubah melalui usaha apa pun.
Menerima takdir bukan berarti menutup mata dari rasa kecewa atau luka. Justru penerimaan adalah langkah awal untuk berdamai dengan keadaan, agar kita bisa melangkah lagi dengan kepala tegak, bukan hati yang putus asa.
Tawakal Bukan Alasan untuk Malas Berjuang
Salah satu miskonsepsi terbesar tentang tawakal adalah anggapan bahwa ia identik dengan diam, menunggu, dan tidak melakukan apa-apa. Seolah-olah orang yang bertawakal tidak perlu belajar lebih keras, bekerja lebih cerdas, atau berusaha lebih sungguh-sungguh.
Padahal Rasulullah SAW sendiri memberi contoh yang sangat jelas ya, HEALMates. Beliau berjuang, berstrategi, merencanakan, bahkan berhijrah dengan penuh perhitungan. Baru setelah semua usaha dilakukan, beliau menyerahkan hasilnya kepada Allah. Seperti yang ada dalam firman Allah SWT:
“…Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Tawakal bukan tentang berhenti berusaha. Tawakal adalah tentang tidak menggantungkan hasil usaha sepenuhnya pada kemampuan diri sendiri. Ia adalah sikap batin, bekerja dengan maksimal, lalu menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada.
Menerima Bukan Berarti Menyetujui Rasa Sakit
Ada kalanya hidup memberi kita jalan yang terasa tidak adil. Doa yang lama dipanjatkan tak kunjung terjawab, atau justru dijawab dengan cara yang sama sekali berbeda dari harapan. Di titik ini, banyak orang merasa bersalah karena belum bisa “ikhlas”.
Padahal, ikhlas dan tawakal bukan soal mematikan perasaan. Merasa sedih, kecewa, bahkan marah adalah bagian dari menjadi manusia. Yang membedakan adalah bagaimana kita mengelola perasaan itu.
Dalam praktiknya, tawakal sering menjadi ruang bernapas bagi jiwa yang lelah. Ia membantu kita berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berhenti membandingkan hidup dengan orang lain, dan berhenti memaksakan kontrol atas hal-hal yang memang berada di luar kuasa manusia.
Dengan tawakal, kita belajar membedakan mana yang menjadi tanggung jawab kita, dan mana yang harus kita lepaskan kepada Allah. Kita belajar bahwa kegagalan bukan selalu tanda kurangnya usaha, dan keberhasilan bukan semata-mata hasil kehebatan diri. Di titik ini, tawakal justru melahirkan ketenangan. Bukan karena masalah selesai, tapi karena hati tidak lagi bertarung sendirian.

