Setiap menjelang Idul Fitri, satu hal yang hampir selalu muncul dalam obrolan keluarga adalah soal baju Lebaran. Mulai dari warna, model, sampai rencana beli seragam keluarga. Baju Lebaran seakan jadi “ritual wajib” yang menandai datangnya hari kemenangan. Tapi, pernah nggak sih HEALMates bertanya, “Dari mana sebenarnya tradisi baju Lebaran ini berasal?”
Ternyata, kebiasaan mengenakan baju baru saat Lebaran punya sejarah panjang dan makna sosial, lho. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas mengenai asal-usul baju Lebaran, sejarah, hingga makna sosialnya.
Dari Tradisi Islam hingga Budaya Lokal
Dalam ajaran Islam, sebenarnya tidak ada kewajiban khusus untuk mengenakan baju baru saat Hari Raya Idul Fitri. Namun, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mengenakan pakaian terbaik, bersih, dan rapi saat Hari Raya Idul Fitri. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar keagamaan. Anjuran inilah yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan memakai baju khusus saat Lebaran.
Di Indonesia, tradisi tersebut berpadu dengan budaya lokal. Sejak masa kerajaan hingga kolonial, momen hari besar sering dimaknai sebagai waktu untuk mengenakan busana terbaik. Lebaran pun menjadi ajang menampilkan identitas, baik sebagai individu, keluarga, maupun bagian dari masyarakat.
Pada era kesultanan Islam di Timur Tengah, busana seperti jubah panjang dan gamis kerap dikenakan saat perayaan Idul Fitri. Ketika pengaruh Islam dari wilayah Timur Tengah dan Gujarat masuk ke Indonesia, tradisi berpakaian tersebut ikut terbawa. Dari sinilah kemudian lahir busana khas seperti baju koko dan sarung, yang hingga kini masih menjadi pilihan favorit saat Lebaran.
Jejak Sejarah Baju Lebaran di Indonesia
Pada masa lalu, tidak semua orang mampu membeli baju baru. Karena itu, baju Lebaran sering kali dibuat jauh-jauh hari atau bahkan diwariskan. Memiliki satu set pakaian khusus untuk Lebaran sudah dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kebahagiaan.
Pada masa Kesultanan Banten sekitar tahun 1596, hanya kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan yang memiliki akses untuk membeli pakaian berkualitas, sementara masyarakat umum biasanya menjahit sendiri busana yang akan dikenakan di hari raya.
Di era kolonial, tradisi ini juga berkaitan dengan stratifikasi sosial. Pakaian menjadi penanda status, sekaligus cara masyarakat menunjukkan rasa hormat saat bersilaturahmi. Seiring waktu, makna tersebut bergeser. Baju Lebaran tak lagi sekadar simbol status, tetapi juga simbol kebersamaan dan kegembiraan kolektif.
Baju Lebaran sebagai Simbol “Kembali ke Fitrah”
Secara filosofis, baju Lebaran sering dimaknai sebagai simbol “kembali ke fitrah”. Baju baru melambangkan lembaran baru, bersih, suci, dan siap memulai kembali setelah sebulan berpuasa. Makna ini selaras dengan esensi Idul Fitri itu sendiri, yakni saling memaafkan, memperbaiki hubungan, dan memulai kehidupan dengan hati yang lebih lapang. Tak heran jika banyak orang merasa ada kepuasan tersendiri saat mengenakan pakaian terbaik di hari Lebaran.
Kebiasaan ini menyebar dan bertransformasi menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Mengenakan baju baru saat Lebaran pun kemudian dimaknai sebagai simbol awal yang baru dan perayaan kemenangan setelah menjalani Ramadan.
Dari Kebutuhan Spiritual ke Industri Fashion
Semakin berkembangnya zaman, baju Lebaran juga semakin menjadi tren. Dari yang semula hanya kebutuhan spiritual dan sosial, kini ia menjadi bagian penting dari industri fashion dan ekonomi kreatif.
Setiap tahun, desainer dan brand berlomba menghadirkan koleksi Lebaran, lengkap dengan tren warna dan siluet baru. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi lama bisa beradaptasi dengan gaya hidup modern, tanpa kehilangan akar budayanya.
Meski tren baju Lebaran semakin hari semakin berkembang, namun esensinya tetap sama, yaitu melambangkan kesucian, kemenangan, dan kebersamaan. Apa pun model dan warnanya, yang terpenting adalah tetap berbusana sopan dan sesuai dengan nilai-nilai Islami.


