Di tengah linimasa media sosial yang dipenuhi kabar PHK, lowongan kerja fiktif, dan kisah pencari kerja yang mengirim ratusan lamaran tanpa balasan, satu unggahan tiba-tiba menyedot perhatian publik. Prilly Latuconsina, aktris, produser, sekaligus pengusaha, menyalakan fitur open to work di laman LinkedIn miliknya.
Unggahan itu pun sontak viral dan disambut beragam reaksi. Ada yang memberi dukungan dan kekaguman, namun tak sedikit juga yang akhirnya marah. Hal ini pun lantas menimbulkan tanda tanya besar, ini sekadar personal branding atau blind spot sosial?
Antara Hak Profesional dan Realitas Sosial
Secara prinsip, tidak ada yang salah dengan pernyataan open to work. Setiap orang, termasuk juga figur publik, berhak mencari peluang kerja, membangun portofolio, dan membuka diri terhadap kolaborasi baru. Dalam dunia profesional, keterbukaan semacam ini bahkan sering dipandang sebagai sikap progresif dan rendah hati.
Namun, masalah muncul ketika pesan yang sama dibaca oleh audiens yang hidup dalam realitas yang sangat berbeda. Bagi banyak pencari kerja di Indonesia, open to work bukan sekadar status. Lebih dari itu, fitur ini semacam simbol dari fase hidup yang melelahkan dan penuh ketidakpastian. Lamaran yang tak pernah dibalas, wawancara yang berakhir tanpa kabar, kompetisi yang ketat dengan upah yang tidak sebanding, hingga mental yang down karena selalu merasa tidak cukup, meski sudah berusaha keras.
Ketika status yang sama muncul dari seseorang dengan modal sosial, ekonomi, dan jaringan yang sangat besar, jarak itu terasa makin nyata. Sebagian dari kita mungkin merasa ini seperti “ejekan”, meski sejatinya sang artis tentu tidak bermaksud demikian.
Privilege yang Timpang
Reaksi keras publik bukan semata-mata soal siapa Prilly, melainkan tentang apa yang ia representasikan di mata banyak pencari kerja. Bagi mereka yang berjuang di pasar kerja yang kejam, unggahan tersebut terasa seperti pengingat pahit akan ketimpangan. Bukan karena Prilly “tidak boleh” mencari kerja, tetapi karena sebagai publik figur peluangnya pasti datang jauh lebih cepat, pintu terbuka lebih lebar, dan validasi profesional hampir selalu tersedia.
Di titik inilah muncul blind spot sosial, bukan niat buruk, melainkan ketidaksadaran bahwa pesan yang terasa netral bagi satu kelompok bisa terasa melukai bagi kelompok lain.
Dalam kacamata personal branding, unggahan open to work bisa dibaca sebagai strategi. Seperti kita ketahui HEALMates, Prilly memang dikenal sebagai artis yang aktif membangun citra profesional di luar dunia akting. Ia terlibat dalam produksi film, bisnis, dan berbagai kolaborasi kreatif. Sebenarnya, ia hanya ingin membuka peluang kolaborasi baru lintas bidang. Namun, personal branding di ruang publik digital selalu berhadapan dengan emosi kolektif, kondisi ekonomi, dan pengalaman sosial audiensnya.
Di sinilah persoalan sensitif itu muncul, bahwa strategi yang sah secara profesional bisa terasa tidak peka secara sosial. Terutama ketika dilakukan di tengah krisis ketenagakerjaan. Inilah yang pada akhirnya melukai para pencari kerja. Unggahan Open to Work dari selebritis dengan nama besar seakan menjadi pemantik karena ia menyentuh rasa ketidakadilan dan ketimpangan struktural.
Apa yang Bisa Dipelajari?
Penting untuk ditegaskan bahwa artikel ini bukan upaya untuk menghakimi Prilly Latuconsina sebagai individu. Tidak ada indikasi bahwa unggahan tersebut dibuat dengan niat merendahkan atau melukai siapa pun.
Namun, peristiwa ini membuka ruang refleksi yang lebih luas, tentang bagaimana figur publik, influencer, dan individu dengan privilege besar perlu semakin peka terhadap konteks sosial ketika berkomunikasi di ruang publik. Di era media sosial, empati tidak hanya diukur dari niat, tetapi juga dari kesadaran akan dampaknya. Kalau kata pepatah, “Jangan makan di meja orang yang sedang lapar”.
Kontroversi ini seharusnya tidak berhenti pada pro dan kontra personal. Tapi, seharusnya bisa jadi pemantik diskusi tentang ketimpangan akses kerja, kerasnya pasar tenaga kerja, dan bagaimana empati sosial dibangun di ruang digital.
Mungkin, yang dibutuhkan bukan larangan bagi siapa pun untuk berkata open to work, melainkan cara penyampaian yang lebih kontekstual yang mengakui realitas sosial, bukan sekadar menegaskan identitas personal.
Viralnya unggahan open to work Prilly Latuconsina mengingatkan kita bahwa di balik satu kalimat sederhana, ada ribuan pengalaman hidup yang tidak pernah sama. Dari sinilah, penting bagi kita untuk berempati. Karena bagi banyak pencari kerja, open to work bukan strategi. Ia adalah realitas yang dijalani setiap hari, dengan harapan yang terus diuji kegagalan.
For your information HEALMates, Prilly Latuconsina telah menyampaikan permohonan maaf melalui lama Instagram pribadinya pada Rabu (4/2/2026). Dalam unggahan tersebut, Prilly mengaku memahami beragam reaksi dan emosi yang muncul, termasuk rasa marah, kecewa, dan tidak nyaman, serta meminta maaf secara tulus atas kesalahpahaman yang terjadi. Ia menegaskan tidak pernah berniat bersikap tidak sensitif dan menyadari bahwa posisi serta pengalaman hidupnya tidak sama dengan semua orang, sekaligus mengakui bahwa unggahan tersebut dapat terasa menyakitkan bagi sebagian pihak.
Prilly juga menjelaskan bahwa penggunaan fitur Open to Work dimaksudkan untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jejaring profesional di bidang yang belum pernah ia jajaki, bukan untuk mengambil kesempatan orang lain, melainkan bagian dari proses belajar dan pertumbuhan dirinya. Ke depannya, Prilly juga mengaku dirinya ingin tetap berkomitmen untuk menjalankan kerja sama dan kegiatan yang memberikan dampak positif bagi banyak orang.
Bagaimana pendapatmu, HEALMates? (RIW)

