Logo Heal

EAT, TRAVEL & ENTERTAINMENT

Eat, Travel & Entertaiment

Film Horor dan Katarsis Emosi, Ketika Menikmati Ketakutan Jadi Cara Melepaskan Beban

Film Horor dan Katarsis Emosi

Oleh :

Apakah HEALMates suka menonton film horor? Bagi sebagian orang, film horor adalah hiburan yang justru dihindari. Jantung berdebar, napas tertahan, dan adegan mencekam sering kali dianggap hanya menambah stres dan bikin overthinking. 

Tapi menariknya, ada juga orang yang justru mencari sensasi itu. Menonton film horor menjadi ritual, sendiri atau bersama teman. Seolah-olah, ketakutan saat menyaksikan adegan penuh jumpscare justru memberi kelegaan. Pertanyaannya yang kemudian menggelitik adalah “Kenapa kita bisa menikmati rasa takut?” Rupanya, di balik jeritan dan adegan menegangkan, film horor menyimpan fungsi psikologis yang cukup menarik, yakni katarsis emosi.

Lantas, apa kaitan katarsis emosi dengan film horor dan ketakutan? Yuk, HEALMates kita bahas lebih lengkap dalam artikel berikut ini!

Ketakutan yang Sudah Ada Sejak Manusia Ada

Rasa takut bukanlah emosi yang muncul begitu saja. Dilansir dari sejumlah sumber, rasa takut ini berperan sebagai sistem peringatan alami. Ia membantu manusia bertahan hidup, memberi sinyal bahaya, memaksa tubuh waspada, dan mendorong kita menjauh dari ancaman.

Karena itulah, ketika menonton film horor, sistem ini akan aktif. Tubuh bereaksi seolah-olah sedang menghadapi bahaya sungguhan, meski otak sadar bahwa semua itu “hanya film”. Inilah paradoks menarik, di mana ancaman terasa nyata, tapi risikonya tidak ada.

Adegan kejar-kejaran, musik mencekam, dan kejutan mendadak yang identik dengan film horor ini bisa memicu respons fight or flight. Respon ketika detak jantung meningkat, otot menegang, dan napas menjadi lebih cepat. Tubuh bersiap untuk bertahan, atau melarikan diri.

Namun, begitu film selesai dan ketegangan mereda, tubuh justru memasuki fase pelepasan. Endorfin dan dopamin dilepaskan, menciptakan rasa lega, puas, bahkan senang. Sensasi inilah yang membuat banyak orang merasa lebih rileks setelah menonton film horor, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini, ketakutan seolah-olah jadi ombak yang datang menggulung, lalu surut meninggalkan rasa ringan pada diri kita. Menarik sekali ya, HEALMates?

Film Horor Menawarkan Rasa Takut yang Terkendali

Salah satu alasan film horor bisa terasa “menyembuhkan” adalah karena ia menghadirkan ketakutan dalam ruang yang aman. Maksudnya bagaimana? Artinya, ketakutan kita ini tidak menimbulkan bahaya secara nyata atau tidak ada konsekuensi langsung. Kita bisa menghentikan film kapan saja, menutup mata, atau sekadar mengingat bahwa semuanya hanya fiksi.

Kondisi ini memberi ruang bagi otak untuk belajar:

  • menoleransi sensasi tidak nyaman,
  • meninjau ulang pikiran cemas,
  • dan menyadari bahwa rasa takut bisa datang dan pergi tanpa menghancurkan kita.

Bagi sebagian orang, ini menjadi latihan emosional. Sebuah cara halus untuk berdamai dengan kecemasan tanpa harus menghadapinya secara langsung dalam kehidupan nyata.

Film Horor Menjadi Cermin Ketakutan Batin

Banyak film horor sebenarnya tidak hanya menakut-nakuti. Kalau HEALMates perhatikan, film-film ini justru bicara tentang kehilangan, trauma, rasa bersalah, atau ketidakberdayaan. Emosi-emosi yang sering sulit kita ungkapkan sehari-hari.

Dengan menonton karakter yang menghadapi teror ini, empati kita pun bisa muncul. Dalam ketakutan yang fiktif itu, penonton kerap menemukan pantulan ketakutan pribadinya sendiri.  Itulah yang dalam bahasa psikologis disebut sebagai katarsis, ketika kita melepaskan emosi yang selama ini dipendam. 

Menariknya, respons tubuh saat menonton film horor tidak hanya berdampak psikologis, tapi juga pada fisik kita, lho HEALMates. Lonjakan adrenalin sementara dapat meningkatkan metabolisme, mempercepat sirkulasi darah, dan merangsang sistem imun dalam jangka pendek. Tubuh bekerja lebih aktif, meski kita hanya duduk diam di sofa. Selain itu, kombinasi dopamin, serotonin, dan adrenalin yang dilepaskan setelah ketegangan mereda berkontribusi pada perasaan lebih ringan secara mental.

Tetap Perlu Ada Batasan 

Meski memiliki manfaat yang berkaitan dengan katarsis emosi, namun perlu dipahami bahwa film horor tentu tidak selalu cocok untuk semua orang ya, HEALMates. Bagi sebagian orang, terutama mereka yang memiliki trauma atau gangguan kecemasan tertentu, horor justru bisa memicu respons berlebihan yang memperparah keadaan. 

Jadi, Kuncinya ada pada kesadaran kita sendiri ya, HEALMates. KIta perlu memahami keadaan mental kita sebelum memilih film apa yang menarik untuk ditonton. Selain itu, kalau HEALMates suka film horor, HEALMates juga perlu memilih jenis horor yang sesuai dengan usia dan mengenali batas nyamannya. 

Kira-kira, film horor apa favorit HEALMates? (RIW)

Bagikan :
Film Horor dan Katarsis Emosi

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa