Di tengah dunia yang terasa makin tidak baik-baik saja, berita tentang konflik, krisis ekonomi, hingga ketidakpastian masa depan yang datang silih berganti, ada satu pertanyaan yang cukup menarik, “Apakah seni masih dibeli ketika hidup saja terasa mahal?”
Pertanyaan ini bukan sekadar lontaran tanpa makna, tapi juga menyangkut kegelisahan pelaku seni, baik seniman maupun kolektor. Agar tidak penasaran, yuk HEALMates, kita ulas selengkapnya dalam artikel berikut in!
Masih Adakah yang Membeli Karya Seni Saat Ini?
Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika ekonomi–politik global dan nasional saling berkelindan, menciptakan tekanan berlapis yang terasa langsung di kehidupan sehari-hari. Ketegangan geopolitik, konflik berkepanjangan, disrupsi rantai pasok global, serta perlambatan ekonomi dunia membuat harga energi dan pangan melonjak, sementara nilai tukar dan biaya produksi terus tertekan. Dampaknya terasa hingga ke Indonesia ya, HEALMates. Harga kebutuhan pokok naik, biaya transportasi dan hunian membengkak, sementara pendapatan banyak orang tidak bergerak secepat inflasi.
Di saat yang sama, kebijakan fiskal dan penyesuaian subsidi yang tak terhindarkan demi menjaga stabilitas negara sering kali membuat ruang bernapas masyarakat semakin sempit. Tak heran jika banyak orang merasa hidup kini jauh lebih mahal dan melelahkan, bukan semata karena ketidakmampuan dalam mengelola uang, melainkan karena sistem ekonomi-politik yang sedang tidak baik-baik saja.
Di tengah kondisi ekonomi yang kian sulit seperti sekarang, apakah masih ada yang membeli karya seni? Pertanyaan ini menjadi perbincangan terbuka dalam penyelenggaraan berbagai pameran seni. Dalam salah satu diskusi, Magnus Renfrew, Co-founder Art SG yang dilansir dari Kompas, menyebut bahwa pasar seni berada dalam fase menantang selama dua hingga tiga tahun terakhir. Akar masalahnya bukan tunggal. Ketidakpastian geopolitik, tekanan ekonomi global, hingga isu keamanan membentuk atmosfer ragu yang membuat banyak galeri harus mengambil keputusan sulit, antara memangkas biaya, menunda ekspansi, atau memprioritaskan hal-hal yang benar-benar esensial.
Namun, di balik situasi saat ini, seni ternyata belum sepenuhnya ditinggalkan kok, HEALMates. Jadi, apakah masih ada yang membeli karya seni? Jawabannya iya, meski tidak seramai dulu.
Dikutip dari laman Art Basel, meski sempat ada kegagalan penjualan karya Giacometti senilai USD70 juta di Sotheby’s pada Mei, serta gelombang penutupan galeri di berbagai belahan dunia, namun tetap ada galeri-galeri baru yang dibuka. Selain itu, tahun 2025 juga ditutup dengan catatan yang cukup kuat dengan berhasilnya sejumlah lelang utama di New York pada November lalu, yakni penjualan karya seni senilai USD2,2 miliar, disusul oleh art fair yang ramai dan sukses di London, Paris, dan Miami.
Setelah tiga tahun mengalami kontraksi, muncul perasaan yang cukup jelas bahwa pasar seni masih tetap memiliki peminatnya. Angka-angka ini menegaskan satu hal penting bahwa meski pasar seni melambat, tetapi ia tidak berhenti.
Siapa yang Masih Membeli Seni di Masa Sulit?
Profil pembeli karya seni hari ini juga mengalami pergeseran. Jika dulu euforia pasar membuat pembelian terasa impulsif dan spekulatif, kini kolektor cenderung lebih berhati-hati. Pembeli yang bertahan umumnya antara lain:
- kolektor mapan dengan visi jangka panjang;
- institusi atau individu yang melihat seni sebagai cultural asset, bukan sekadar investasi cepat;
- pembeli yang memiliki kedekatan emosional dengan karya atau narasi senimannya.
Di tengah ketidakpastian ini, seni tidak lagi dibeli karena tren semata, melainkan karena maknanya.
Banyak galeri mencatat terdapat perubahan cara kolektor dalam mengambil keputusan pembelian karya seni saat ini. Prosesnya lebih lambat, dialognya lebih panjang, dan pertimbangannya lebih dalam. Kolektor bertanya bukan hanya tentang harga dan nama besar, tetapi juga tentang konteks, relevansi, dan daya tahan karya di masa depan. Bagi sebagian orang, membeli seni hari ini adalah bentuk anchoring, yakni cara menambatkan diri pada sesuatu yang terasa tetap ketika dunia berubah terlalu cepat.
Ketahanan Karya Seni di Masa Sulit
Situasi global yang tidak stabil juga tercermin dalam karya-karya yang dipamerkan. Banyak seniman merespons kegelisahan zaman lewat bahasa visual yang lebih reflektif. Misalnya, tema tentang tubuh yang rapuh, ingatan kolektif, relasi manusia dengan kekuasaan, hingga pencarian makna di tengah krisis.
Alih-alih menawarkan eskapisme, seni justru hadir sebagai ruang jeda. Tempat untuk berhenti sejenak, merasakan, dan merenung
Pertanyaan “Masih adakah yang membeli karya seni?” pada akhirnya mungkin bukan soal angka semata. Di masa-masa ketika dunia terasa tidak baik-baik saja, seni sering kali bergeser fungsinya, dari sekadar simbol kemewahan menjadi medium pengolahan emosi, dari komoditas menjadi percakapan. (RIW)

