Setuju nggak HEALMates kalau kita lihat bahwa perempuan hari ini bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya? Data di Amerika Serikat yang dilansir dari Finance Yahoo menunjukkan bahwa upah perempuan meningkat hampir 14% sejak akhir 1970-an. Tapi ironisnya, rasa aman finansial justru belum naik.
Sejumlah studi dari U.S. Bureau of Labor Statistics mencatat sebanyak 34% perempuan mengaku mengalami stres finansial ekstrem, sementara pada laki-laki angkanya hanya sekitar 24%. Bahkan, lebih dari 46% perempuan menyebut masalah uang berdampak langsung pada kesehatan mental mereka yang pada akhirnya memicu cemas, sulit tidur, hingga perasaan tertekan.
Bagi banyak perempuan, uang memang bukan sekadar angka di rekening. Lebih dari itu, uang ini seakan jadi simbol kestabilan, tanggung jawab, dan beban. Lantas, mengapa perempuan cenderung lebih mudah cemas soal finansial? Yuk HEALMates, intip beberapa alasannya sebagai berikut!
Alasan Mengapa Perempuan Lebih Cemas Soal Finansial
1. Kerja Lebih Banyak, Tapi Dibayar Lebih Sedikit
Salah satu akar masalahnya masih klasik ya, HEALMates, ketimpangan upah berbasis gender. Meski perempuan mengisi porsi besar tenaga kerja, secara rata-rata mereka masih menerima bayaran lebih rendah dibanding laki-laki. Di sektor-sektor bergaji tinggi seperti STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), representasi perempuan juga relatif kecil. Artinya, peluang finansial yang lebih stabil dan cepat bertumbuh masih lebih mudah diakses laki-laki.
Akibatnya, perempuan punya ruang yang lebih sempit untuk menabung, berinvestasi, dan membangun dana darurat, padahal tuntutan hidup seringkali menekan. Bagi ibu tunggal, bebannya pun jadi berlipat-lipat. Dengan penghasilan lebih kecil dan tanggungan lebih besar, kecemasan finansial hampir menjadi bagian dari keseharian.
2. Perempuan Menjadi “Manajer Emosional” Rumah Tangga
Alasan berikutnya mengapa perempuan cenderung lebih mudah cemas soal finansial adalah karena sering jadi manajer emosional dalam rumah tangga. Banyak perempuan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka memikirkan biaya sekolah anak, dana kesehatan keluarga, kebutuhan harian, hingga rencana jangka panjang seperti kuliah dan pensiun. Nggak hanya persoalan membayar, tapi juga bagaimana mereka bisa mengantisipasi segala kemungkinan terburuk.
Tak heran, situasi sederhana seperti mengecek saldo rekening atau menghadapi pengeluaran tak terduga bisa memicu stres yang lebih besar pada perempuan dibanding laki-laki. Dalam banyak budaya, perempuan juga lebih sering memikul peran caregiver. Ketika harus mengambil cuti, mengurangi jam kerja, atau bahkan berhenti bekerja demi keluarga, dampaknya bukan hanya emosional, tetapi juga finansial jangka panjang.
3. Uang Merepresentasikan Harga Diri
Banyak perempuan secara tidak sadar mengaitkan kondisi finansial dengan nilai diri. Karenanya, saat keuangan goyah, rasa percaya diri pun ikut runtuh. Banyak perempuan merasa bahwa meski sudah berusaha mengelola uang lebih baik, ketidakpastian hidup tetap menjadi sumber stres yang besar.
Tips Mengelola Stres Finansial
Kecemasan finansial pada perempuan bukan semata soal “kurang pintar mengatur uang” ya, HEALMates. Lebih dari itu, ini juga persoalan faktor struktural (upah, peluang kerja, beban pengasuhan) dan faktor psikologis (rasa tanggung jawab, harga diri, dan ketakutan akan masa depan).
Meski demikian, kita tidak boleh berlarut-larut dalam stres finansial. Beberapa tips mengelola stres finansial pada perempuan ini mungkin bisa HEALMates coba di rumah.
- Fokus pada hal yang bisa dikendalikan (utang, anggaran, dana darurat).
- Rayakan progres kecil dalam menabung dan mengelola keuangan.
- Cari peluang tambahan penghasilan sesuai kemampuan.
- Lindungi diri dengan asuransi yang memadai.
- Sisihkan waktu khusus untuk mengurus keuangan dan berhenti menyalahkan diri.
- Bangun sistem dukungan yang kuat dari, pasangan, anak, teman, keluarga, atau perencana keuangan.
Nah, itulah beberapa alasan mengapa perempuan lebih mudah cemas soal finansial yang bisa HEALMates jadikan referensi. Dalam budaya yang patriarkis, perempuan memang nggak hanya dituntut mandiri, tetapi juga sempurna dalam segala peran. Padahal, perempuan juga tetaplah manusia biasa yang memiliki peran dan tidak harus jadi tumpuan untuk beragam tanggung jawab. Tetap semangat ya, HEALMates! (RIW)

