Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Perempuan di Dunia Digital, Antara Tekanan Produktif vs Kesehatan Mental

Perempuan di Dunia Digital, Antara Tekanan Produktif vs Kesehatan Mental

Oleh :

Di era digital seperti saat ini, banyak pekerjaan yang dilakukan secara daring (online). Apalagi, bagi ibu pekerja yang juga sebagai remote worker, pagi harinya mungkin bukan dimulai bukan dengan alarm ya HEALMates, tapi notifikasi HP.

Chat kerja masuk sebelum mata benar-benar terbuka, e-mail menunggu dibalas, deadline pekerjaan yang rasanya semakin dekat, sementara feed media sosial dipenuhi orang-orang yang tampak selalu produktif, kreatif, dan bahagia.

Bagi banyak perempuan muda hari ini, dunia kerja bukan lagi tentang berada di ruang kerja selama delapan jam, melainkan layar gadget yang selalu menyala. Tak heran, ritme hidup di era digital saat ini seringkali membuat kelebihan beban digital atau digital overload. Sayangnya, kita terus-terusan menuntut diri untuk produktif karena kalau tidak kita akan merasa tertinggal. 

Ketika Produktif Menjadi Standar Moral

Sudah bukan rahasia lagi bahwa perempuan usia 18–30-an kini mungkin berada di generasi yang tumbuh bersama internet ya, HEALMates. Bekerja di sektor digital, kreatif, layanan daring, hingga remote work memberi ilusi fleksibilitas, tapi juga menghadirkan tuntutan yang nyaris tanpa jeda. 

Kerja dari mana saja sering kali berarti bekerja kapan saja. Tekanan bukan hanya berasal dari target pekerjaan, tetapi juga dari standar sosial yang terbentuk di ruang digital, yakni harus cepat, harus rapi, harus berkembang, harus selalu “on”. Inilah salah satu alasan mengapa banyak perempuan pekerja lebih sering mengalami burnout. 

Beban Ganda yang Tak Terlihat

 

Data global menunjukkan bahwa kelompok pekerja muda merupakan salah satu yang paling rentan mengalami kelelahan kerja kronis. Perempuan, dengan beban peran sosial dan emosional yang lebih kompleks, berada pada posisi yang lebih rawan.

Sebuah riset lintas negara terbaru mengolah data Survei Sosial Eropa terhadap lebih dari 6.600 orang tua di 29 negara, yang masing-masing memiliki setidaknya satu anak dan satu orang tua yang masih hidup.

Hasilnya menunjukkan satu pola penting yakni teknologi justru memperberat beban mental perempuan, khususnya para ibu. Penelitian ini menemukan adanya pembagian peran berbasis gender dalam penggunaan komunikasi digital, baik untuk urusan pekerjaan maupun keluarga. Jika laki-laki umumnya memanfaatkan teknologi terutama dalam konteks profesional, perempuan justru menggunakannya secara intens, baik di ranah kerja maupun domestik.

“Temuan kami menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami beban ganda komunikasi digital, baik dalam kehidupan profesional maupun keluarga,” ujar Yang Hu dari Lancaster University, yang memimpin studi ini bersama Yue Qian dari University of British Columbia.

Di banyak konteks kehidupan, perempuan bahkan nggak cuma bekerja, tapi juga jadi pengelola emosi di rumah dan di kantor. Tuntutan untuk tetap ramah, responsif, dan adaptif sering membuat perempuan menunda kebutuhan dirinya sendiri. Jam kerja yang melebar ke ruang privat, ekspektasi untuk selalu tersedia, serta minimnya batas antara profesional dan personal menjadi kombinasi yang melelahkan.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta kurangnya dukungan lingkungan kerja, berkontribusi besar terhadap meningkatnya burnout pada perempuan pekerja.

Jadi, di dunia digital, perempuan harus menghadapi berbagai tekanan produktif yang pada akhirnya mempengaruhi kesehatan mentalnya. Salah satu langkah awal untuk meringankan beban teknis yang sering tak terlihat ini adalah dengan menyadari keberadaannya, lalu membaginya secara terbuka dan adil sejak awal. Jika sudah berumah tangga, maka komunikasi pembagian peran dengan pasangan akan sangat membantu. Selain itu, penting juga untuk membangun batasan sehat dalam bekerja, meski kamu adalah seorang remote worker. (RIW)

Bagikan :
Perempuan di Dunia Digital, Antara Tekanan Produktif vs Kesehatan Mental

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa