Pernah dengar istilah frugal living? Gaya hidup ini sudah familiar dan banyak dilakukan kaum muda. Sayangnya, nggak sedikit juga yang masih salah kaprah mengenai gaya hidup frugal living dan menganggapnya pelit.
Padahal, frugal living secara sederhana adalah gaya hidup yang menekankan pengelolaan uang yang lebih bijak dan hemat. Nggak cuma berhemat, tapi frugal living juga mengajarkan kita untuk memprioritaskan pengeluaran ke hal yang benar-benar penting, serta menekan pemborosan tanpa harus mengorbankan kualitas hidup.
Jadi, kalau kamu memasak sendiri supaya bisa lebih hemat atau memilih tas yang tahan lama daripada yang cuma sekadar tren, itu juga termasuk frugal living lho, HEALMates. Menurut beberapa ahli keuangan, frugal living ini seperti spending with intention, yaitu sadar dan strategis saat mengeluarkan uang.
Dari Gaya Hidup Hemat ke Kemandirian Finansial
Gaya hidup frugal living lahir dari proses panjang perubahan pola pikir masyarakat terhadap uang dan pemanfaatan sumber daya. Meski terdengar modern, sejatinya nilai-nilai hidup hemat ini sudah lama dipraktikkan dan menjadi bagian dari kearifan banyak budaya di berbagai belahan dunia.
Secara historis, konsep ini menguat sejak periode The Great Depression di Amerika Serikat pada rentang 1929–1939. Situasi ekonomi yang serba sulit memaksa masyarakat untuk lebih menghargai setiap rupiah yang dimiliki serta menekan kebiasaan konsumtif. Dari sanalah kesadaran tentang pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak mulai terbentuk secara kolektif.
Seiring waktu, frugal living juga berkembang sejalan dengan meningkatnya kepedulian terhadap isu lingkungan. Banyak individu memilih hidup lebih sederhana sebagai bentuk tanggung jawab ekologis, seperti mengurangi limbah, membatasi penggunaan plastik sekali pakai, mendukung produk lokal, hingga membiasakan daur ulang.
Di era digital, media sosial turut mempercepat penyebaran gaya hidup ini. Beragam komunitas daring, blog, dan konten kreator membagikan pengalaman serta strategi hidup hemat yang inspiratif. Ditambah lagi, berbagai krisis ekonomi global, termasuk resesi dan pandemi COVID-19, yang mendorong banyak keluarga untuk mengevaluasi kebiasaan belanjanya, memprioritaskan kebutuhan esensial, dan mencari cara yang lebih cerdas dalam mengelola keuangan. Hasilnya, frugal living kini bukan sekadar tren, melainkan pilihan hidup yang relevan dan adaptif di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan keberlanjutan.
Mungkin selama ini kamu berpikir bahwa hidup hemat itu sekadar untuk menabung lebih banyak. Anggapan itu memang benar, namun lebih dari itu ada tujuan besar yang bisa dicapai yakni sebuah kemandirian finansial. Apa itu kemandirian finansial? Jadi, kemandirian finansial adalah kondisi ketika kamu sudah memiliki sumber daya yang cukup secara finansial sehingga nggak tergantung banget sama pekerjaan tetap atau orang lain untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Lalu, kaitannya sama frugal living apa? Saat kamu mulai selektif dengan pengeluaran, otomatis uang yang tadinya terbuang untuk hal-hal nggak penting bisa dialihkan ke tabungan, dana darurat, investasi, atau pembelajaran.
Semakin banyak yang kamu sisihkan untuk investasi atau aset, maka semakin cepat kamu bisa membangun kekayaan pasif yang dapat bekerja buat kamu, bukan sebaliknya. Lalu, ketika kamu sudah punya cukup aset yang bisa menutup biaya hidup, itulah yang disebut sebuah kemandirian finansial. Kamu nggak perlu lagi panik kalau tiba-tiba kena PHK, butuh liburan dadakan, atau ingin mengejar passion tanpa mikir bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidup.
Pada dasarnya, kunci dari frugal living bukan pelit, tapi disiplin dan prioritas ke tujuan besar. Makanya frugal living sering dikaitkan juga sama gerakan FIRE (Financial Independence, Retire Early), yaitu gaya hidup hemat yang fokus pada akumulasi aset sehingga bisa pensiun dini atau bebas memilih hidup.
Prinsip Gaya Hidup Frugal Living
Dalam praktiknya, frugal living berlandaskan pada beberapa nilai utama yang saling berkaitan.
- Fokus pada Kebutuhan Bukan Keinginan
Setiap keputusan belanja perlu didasari pertanyaan sederhana: apakah ini benar-benar diperlukan, atau hanya dorongan sesaat? Sikap selektif ini membantu mencegah pengeluaran yang tidak esensial.
- Mengendalikan Pemborosan
Penganut frugal living cenderung menghindari gaya hidup konsumtif, termasuk membeli barang mahal yang fungsinya tidak sebanding dengan harganya. Mereka lebih menimbang manfaat jangka panjang dibanding kepuasan sesaat.
- Mencari Pilihan yang Lebih Hemat
Hidup frugal bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan cerdas dalam membandingkan harga, memanfaatkan promo, dan memilih produk dengan nilai terbaik.
- Membangun Kebiasaan Finansial yang Sehat
Prinsip ini tidak hanya soal belanja, tetapi juga mencakup pengelolaan utang, konsistensi menabung, serta perencanaan investasi yang matang.
- Menjaga Keseimbangan Arus Keuangan
Dengan menyusun anggaran, memantau pengeluaran, dan menyesuaikannya dengan pendapatan, kondisi finansial dapat tetap stabil dan terkontrol.
Melalui prinsip-prinsip tersebut, frugal living menjadi fondasi penting dalam menciptakan keuangan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Itulah penjelasan mengenai apa itu gaya hidup frugal living yang bisa HEALMates jadikan referensi. Tapi, perlu dipahami ya HEALMates bahwa frugal living bukan berarti sangat hemat sampai menyiksa diri. Lebih dari itu, frugal living ini tentang bagaimana kita bisa memahami nilai uang, membuat keputusan finansial yang cerdas, dan memetakan jalan menuju kemandirian finansial yang lebih stabil dan bebas stres. (RIW)

