Logo Heal

FASHION & BEAUTY

Fashion & Beauty

Ruang Aman Itu Bernama Rumah, Kisah Indah dan Hunian Impian Masa Kecilnya

Ruang Aman Itu Bernama Rumah, Kisah Indah dan Hunian Impian Masa Kecilnya

Oleh :

Apakah HEALMates punya rumah impian? Ngomongin tentang rumah, banyak dari kita yang tentunya punya keinginan memiliki rumah sesuai dengan bayangan masa kecil kita ya, HEALMates. Namun, rumah bukan sekadar bangunan ya, HEALMates. Rumah adalah sebuah hubungan. Tempat di mana kita bisa membangun kebersamaan dan kehangatan. Di usia dewasa, banyak dari kita akhirnya membangun rumah impian dengan satu tujuan khusus yakni menciptakan ruang aman yang dulu tidak sempat kita miliki.  

Nah, kali ini HEAL berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah satu pasangan muda yang mencoba memenuhi inner child mereka dengan rumah impian. Mereka adalah Indah dan Yusuf. Yuk, simak bagaimana Indah dan Yusuf memaknai rumah impian mereka!

Rumah Impian Masa Kecil

Indah punya bayangan yang cukup spesifik soal rumah idaman, bukan rumah bertingkat, bukan juga rumah mungil yang serba mepet. Impiannya justru rumah satu lantai dengan halaman cukup luas.

Dalam bayangannya, halaman itu nanti akan ditanami pohon buah. Kalau tidak penuh tanaman, minimal bisa dipakai buat piknik kecil bareng keluarga. Duduk lesehan sore-sore, ngobrol ringan, tanpa harus keluar rumah. Pokoknya, rumah yang rasanya lega, baik secara ruang maupun hati.

Alasan lain kenapa tidak ingin rumah bertingkat? Sederhana dan sangat manusiawi, malas naik turun tangga. Tapi, di balik itu semua Indah hanya ingin memiliki ruang yang luas untuk menciptakan kebersamaan dengan anak dan suami, sesuatu yang sangat sulit didapatkan ketika ia kecil dulu, tinggal di rumah yang cukup sederhana dengan lahan yang sempit dan orang tua yang sibuk bekerja mencari nafkah. Selain itu, rumah satu lantai dengan halaman yang luas ini juga menurut Indah lebih ramah untuk jangka panjang karena bisa dikembangkan dengan model apa saja. 

Perjalanan Panjang Menuju Rumah Sendiri

Ada anggapan yang cukup sering beredar di masyarakat bahwa perempuan pada akhirnya akan “pergi” dari rumah orang tua hanya untuk berpindah ke rumah suami. Sebuah narasi yang seolah menempatkan perempuan sebagai pihak yang sekadar mengikuti, bukan turut membangun. Anggapan ini pelan-pelan ditepis oleh Indah. Bersama Yusuf, ia memulai rumah tangga dengan kesadaran bahwa pernikahan bukan sekadar soal berpindah alamat, melainkan tentang tumbuh dan membangun kehidupan dari titik nol, bersama-sama.

Seperti kebanyakan pasangan muda yang baru menikah, Indah dan Yusuf belum langsung memiliki rumah sendiri. Impian tentang rumah pribadi sudah ada sejak awal, namun realitas sering kali datang dengan pertimbangannya sendiri. Kondisi finansial, prioritas hidup yang masih terus disusun, serta kebutuhan untuk beradaptasi sebagai pasangan baru membuat keinginan memiliki rumah harus diletakkan sementara di daftar tunggu. Bukan karena tak ingin, melainkan karena mereka ingin melangkah dengan lebih matang.

Pada fase itu, mengontrak rumah menjadi pilihan yang paling masuk akal. Rumah kontrakan menjadi saksi proses belajar mereka sebagai pasangan, belajar berbagi ruang, mengatur pengeluaran, menata mimpi, sekaligus berdamai dengan keterbatasan. Dari sanalah mereka perlahan menabung, berdiskusi, dan menyusun rencana jangka panjang. Hingga akhirnya, setelah melalui proses yang tidak sebentar, impian tentang rumah sendiri tak lagi sekadar angan. Rumah impian itu pun berhasil mereka miliki, bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai hasil dari perjalanan, kesabaran, dan kerja sama yang dibangun sejak awal pernikahan. Ternyata benar juga anggapan bahwa rumah itu soal jodoh.

Baper, Iri, dan Belajar Berdamai

Ada masa-masa di mana Indah mudah sekali baper. Melihat teman sebaya sudah punya rumah sendiri bisa bikin hati terasa nyeri tipis. Kalau lagi sensitif, melihat tetangga renovasi rumah pun rasanya ikut sedih. Tapi lucunya, di hari-hari lain yang lebih stabil, semua itu terasa biasa saja. Perasaan naik turun itu memang nyata dan sangat manusiawi.

Sampai akhirnya, setelah bertahun-tahun menikah, di pertengahan tahun 2020, kesempatan untuk memiliki rumah impian itu datang. Tidak persis seperti bayangan awal, tapi cukup mendekati. Rumahnya cukup besar, punya halaman luas seperti keinginan masa kecil, dan meski tidak seluas impian awal, masih bisa ditanami beberapa pohon mangga dan bisa digunakan untuk bermain dengan anak-anak saat libur kerja. 

“Alhamdulillah. Soal capek ngepel? Itu urusan nanti, bisa diatur.” tukas Indah sambil tertawa.

Rumah, Kenangan, dan Penjagaan

Pengalaman tentang rumah, rupanya, sudah tertanam dalam ingatan Indah sejak ia masih kecil. Rumah bukan sekadar bangunan untuk berteduh, melainkan ruang yang menyimpan memori, rasa aman, sekaligus potensi konflik. Orang tua Indah pun dulu tidak langsung memiliki rumah sendiri. Mereka pernah tinggal di sebuah rumah kecil yang berada di gang padat di salah satu kota di Jawa Tengah. Rumah-rumah berdempetan, jarak antarbangunan nyaris tak ada, dan privasi menjadi sesuatu yang mahal. Bagi sebagian orang, situasi itu mungkin terasa wajar, namun bagi keluarga Indah, pengalaman tersebut meninggalkan jejak yang cukup dalam.

Tinggal di gang padat punya cerita yang sering luput disadari orang-orang di luar sana. Salah satunya adalah persoalan aliran air dan batas antarbangunan yang kerap menjadi sumber masalah. Beberapa kali, orang tua Indah harus berurusan dengan tetangga hanya karena talang air yang bocor atau saluran yang tersumbat. Karena rumah saling menempel, satu masalah kecil bisa dengan mudah merembet ke rumah lain. Air yang seharusnya mengalir rapi justru merembes ke dinding tetangga, memicu kesalahpahaman, dan perlahan menggerus rasa nyaman dalam bertetangga. Hal-hal teknis yang sepele berubah menjadi persoalan emosional, karena ruang hidup yang terlalu rapat tak memberi banyak pilihan selain saling bersinggungan.

Pengalaman-pengalaman itulah yang tanpa disadari membentuk cara pandang Indah tentang rumah. Ia belajar bahwa rumah ideal bukan hanya soal luas bangunan atau desain yang indah, tetapi juga tentang penjagaan, menjaga batas, menjaga privasi, dan menjaga hubungan baik dengan sekitar. Maka ketika Indah bermimpi tentang rumahnya sendiri kelak, yang terbayang bukanlah rumah megah bertingkat, melainkan rumah dengan lahan yang cukup luas, berdiri sendiri, dan tidak menempel dengan tetangga. Sebuah rumah yang memberi ruang bernapas, baik secara fisik maupun emosional. Rumah yang tidak mudah menyeret persoalan kecil menjadi konflik besar, serta memungkinkan penghuninya hidup dengan lebih tenang, aman, dan saling menghormati.

Dari semua cerita ini Indah dan Yusuf di atas, satu hal yang bisa kita pelajari HEALMates bahwa impian tentang rumah sering kali dipengaruhi dari kenangan masa kecil kita. Inner child menyimpan ingatan tentang rasa tidak nyaman, konflik kecil, atau keterbatasan ruang yang dulu mungkin tak sempat diungkapkan. Lantas, menjelma menjadi harapan akan rumah yang lebih aman, lapang, dan menenangkan. 

Dari Indah, kita belajar bahwa memahami dan merawat inner child berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk membangun rumah yang berarti membangun kehidupan. Karena bagi sebagian orang, memiliki rumah impian bukan soal pencapaian materi, melainkan cara berdamai dengan masa lalu dan menghadirkan rasa aman yang dulu dirindukan. (RIW)

Bagikan :
Ruang Aman Itu Bernama Rumah, Kisah Indah dan Hunian Impian Masa Kecilnya

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

halo@heal-sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa