Logo Heal

FASHION & BEAUTY

Fashion & Beauty

Gaya Berpakaian Kita Menyimpan Cerita Masa Kecil, Benarkah?

Gaya Berpakaian Kita Menyimpan Cerita Masa Kecil, Benarkah?

Oleh :

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba merasa nyaman banget pakai hoodie kebesaran, kaos lusuh favorit, atau baju dengan warna tertentu, HEALMates? Padahal secara tren, model pakaian itu biasa saja? Atau sebaliknya, kamu nggak pernah mau pakai baju dengan motif tertentu tanpa tahu alasannya. 

Nah ternyata, pilihan fashion kita hari ini bisa menyimpan jejak masa kecil yang cukup dalam, lho. Jadi, apa benar gaya berpakaian kita menyimpan cerita masa kecil? Agar tidak penasaran, yuk HEALMates kita bahas penjelasan psikologisnya sebagai berikut!

Gaya Berpakaian dan Kepribadian 

Dalam psikologi, pakaian sering dipahami sebagai extension of self, yakni perpanjangan dari identitas diri. Sejak kecil, kita sudah belajar mengaitkan pakaian dengan rasa aman, penerimaan, atau bahkan penolakan. Misalnya, anak yang sering dipuji saat memakai warna cerah bisa tumbuh dengan preferensi gaya yang ekspresif. Sebaliknya, anak yang pernah diejek karena pakaiannya mungkin akan cenderung memilih gaya netral agar tidak terlalu menonjol.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan symbolic interactionism yang mengartikan bahwa makna terbentuk dari pengalaman dan interaksi. Karena itulah, pakaian jadi simbol yang menyimpan memori emosional, bukan sekadar kain yang menempel di tubuh.

Walau sering dianggap cuma urusan tampilan, pilihan pakaian yang nggak selaras dengan diri sendiri ternyata bisa berdampak ke kondisi psikologis, lho. Mulai dari rasa nggak nyaman, kepercayaan diri yang menurun, sampai kesulitan membangun citra diri yang konsisten. Tanpa disadari, apa yang kita kenakan ikut memengaruhi cara kita membawa diri di hadapan orang lain.

Ini tentu bukan sekadar asumsi ya, HEALMates. Sebuah riset yang diulas oleh The New York Times bertajuk enclothed cognition, menjelaskan bahwa pakaian bukan hanya soal penampilan, tapi juga memengaruhi cara kita berpikir dan berperilaku.

Singkatnya, otak kita memberi makna pada pakaian tertentu. Misalnya, ketika melihat seseorang mengenakan jas putih di lingkungan rumah sakit, kita cenderung langsung mengasosiasikannya dengan sosok yang cerdas, teliti, dan dapat dipercaya. Bukan semata karena orangnya, tapi karena simbol dan makna yang melekat pada pakaian tersebut.

Lemari Baju dan Ingatan 

Memori masa kecil nggak selalu muncul dalam bentuk yang jelas dan mudah disadari ya, HEALMates. Sering kali memori ini muncul dalam bentuk sensasi rasa nyaman, aman, atau sebaliknya. Dalam psikologi, hal ini disebut dengan istilah implicit memory, yakni ingatan yang bekerja tanpa kita sadari. 

Contohnya, saat kamu pakai cardigan rajut, kamu seperti merasa “pulang” karena dulu sering dipeluk ibu saat memakai baju hangat. Contoh lainnya, misalnya kamu menghindari pakaian yang terlalu ketat karena masa kecilmu diwarnai tuntutan untuk selalu rapi dan patuh.

Menurut Sigmund Freud, pengalaman masa kanak-kanak ini membentuk preferensi dan pertahanan diri di masa dewasa. Seperti sebuah lemari baju yang menyimpan koleksi ingatan masa kecil kita. 

Coba perhatikan warna favoritmu, HEALMates. Ternyata, selain model fashion, warna juga bisa memicu respons emosional, lho. Namun, respons ini sering kali bersifat lebih personal. Warna kuning mungkin terasa ceria bagi seseorang karena mengingatkan pada baju TK, sementara bagi orang lain terasa menyebalkan karena diasosiasikan dengan seragam yang dulu dibenci. Warna pakaian yang kita pilih juga bisa jadi refleksi dari inner child kita.

Gaya Berpakaian sebagai Bentuk Coping

Menariknya, fashion juga bisa menjadi bentuk coping mechanism. Ada orang yang berpakaian sangat rapi dan terstruktur sebagai cara mengontrol kecemasan mereka yang dulu ketika kecil penuh dengan ketidakpastian. Ada pula yang memilih gaya playful dan eksperimental sebagai bentuk kebebasan yang dulu tidak pernah didapatkan. Pakaian ini menjadi alat bagi ego kita untuk menyeimbangkan pengalaman bawah sadar. Semacam bahasa nonverbal yang berkata “Aku akhirnya boleh bebas jadi diriku sendiri.”

Apakah ini Berarti Kita Terjebak Masa Lalu?

Lantas, apakah ini berarti kita sedang terjebak masa lalu? Nggak juga ya, HEALMates. Justru kesadaran akan hubungan antara fashion dan memori ini bisa jadi alat refleksi yang sehat buat kita. 

Akan tetapi, meski cara berpakaian bisa jadi salah satu cara untuk mengekspresikan siapa diri kita sebenarnya, namun cara berpakaian bukanlah tolok ukur soal baik atau buruknya kepribadian seseorang. Ini bisa jadi cara diri kita menanggapi masalah psikologis, sosial, keuangan, dan masalah lain yang ada dalam hidup. 

Apa yang kita pakai memang menyimpan cerita, bukan karena bajunya punya ingatan, tapi karena kita yang menanamkan makna di dalamnya. Setiap pilihan outfit bisa jadi bisikan kecil dari masa lalu, sekaligus pernyataan tentang siapa kita hari ini. Menarik ya, HEALMates? (RIW)

Bagikan :
Gaya Berpakaian Kita Menyimpan Cerita Masa Kecil, Benarkah?

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

halo@heal-sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa