Masa kecil sering kita bayangkan sebagai fase yang hangat, penuh tawa, dan bebas beban. Tapi kenyataannya, nggak semua orang punya cerita masa kecil yang aman dan menyenangkan. Bagi sebagian orang, justru di sanalah rasa takut, perasaan tidak aman, atau pengalaman pahit pertama kali tertanam.
Pengalaman-pengalaman ini mungkin tidak selalu kita ingat secara sadar. Namun, ia tersimpan rapi di bawah permukaan. Seolah menghilang, padahal sebenarnya luka itu masih ada dan ikut tumbuh bersama kita.
Saat kita tidak menyadarinya dan menyembuhkannya, luka inner child ini pun “menyelinap” ke kehidupan dewasa kita dan muncul lewat cara kita bereaksi, membangun hubungan, atau merespons konflik. Apakah HEALMates merasakannya? Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami beberapa tanda inner child terluka agar bisa mengelola dan menyembuhkannya.
Tanda-Tanda Inner Child Terluka
1. Marah Berlebihan atau Ledakan Emosi
Kalau kamu sering merasa meledak-ledak saat marah, bisa jadi ini tanda bahwa inner child kamu terluka. Bagi sebagian orang mungkin marah berlebihan ini tampak sepele. Padahal, kalau kita aware ini bukan sekadar persoalan temperamen.
Menurut studi yang dilakukan oleh N. J. de Bles dan kawan-kawan, pengalaman traumatik (neglect) di masa kecil sangat berpengaruh pada cara marah seseorang ketika dewasa. Sebab, marah sering jadi sinyal bagi inner child untuk memperlihatkan rasa sakitnya.
2. Perasaan Takut Ditolak (Fear of Abandonment)
Kamu gampang cemas kalau pasangan belum balas chat? Atau suka overthinking? Nah, bisa jadi ini sinyal bahwa inner child kamu terluka. Biasanya, sikap ini ditandai oleh perasaan takut ditolak atau ditinggalkan sehingga kebanyakan orang cenderung jadi people pleaser untuk menyenangkan orang lain. Selain itu, rasa takut ditinggalkan ini juga bisa membuatmu jadi lebih clingy, cemburuan, atau bereaksi berlebihan pada hal-hal kecil karena kamu menafsirkannya sebagai penolakan.
3. Sulit Percaya dan Sering Curiga
Anak yang tumbuh di lingkungan tidak bisa dipercaya, seperti orang tua yang inkonsisten cenderung membentuk “inner voice” yang selalu siaga. Jadi, saat dewasa anak ini bisa tumbuh dengan perasaan sulit mempercayai orang lain. Mereka cenderung mudah curiga dan merasa orang lain punya maksud buruk.
4. Berperilaku seperti Anak Kecil saat Stres
Tanda inner child terluka lainnya yakni kerap bertingkah seperti anak kecil saat menghadapi stres. Tingkah ini seperti menangis berlebihan, ngamuk, atau justru mengunci diri dan menjauh dari konflik. Ini sebenarnya bagian dari mekanisme adaptif yang dulu membantu kita bertahan, tapi ketika dilakukan saat dewasa maka kurang cocok untuk menyelesaikan masalah dewasa.
5. Kesulitan Mengatur Emosi
Menurut psikolog, trauma dan pengalaman buruk di masa kecil dapat mengecilkan “window of tolerance” kita, yakni masa di mana kita bisa tenang menghadapi tekanan. Akibatnya, hal-hal kecil pun bisa langsung membuat kita panik atau marah. Sebaliknya, sebagian orang malah mati rasa (numb) sebagai cara bertahan.
6. Melakukan Pola Menyakitkan yang Berulang
Tanda lainnya yang bisa kita cermati saat inner child terluka adalah melakukan pola yang berulang, terutama berkaitan dengan hubungan yang menyakitkan atau merugikan. HEALMates mungkin bisa mengamatinya, ada tipe orang yang terus-menerus tertarik pada orang mudah menyakitinya. Meski ia sendiri sadar bahwa pasangannya toksik, tapi ia tetap memilih hubungan yang serupa. Nah, ternyata pola ini ada kaitannya dengan luka Inner child kita. Dilansir dari Psychology Today, inner child kita ternyata mencari situasi yang “familiar” meskipun itu menyakitkan. Sebab, otak mencari cara untuk menyelesaikan urusan yang belum tuntas.
7. Perfeksionisme
Perfeksionisme sering dianggap sebagai sifat positif, rapi, disiplin, dan selalu ingin memberikan yang terbaik. Tapi di balik itu, perfeksionisme juga bisa menjadi salah satu tanda inner child yang terluka. Pada banyak orang, perfeksionisme bukan lahir dari ambisi yang sehat, melainkan dari pengalaman masa kecil ketika cinta, perhatian, atau penerimaan tampak bersyarat. Jadi, anak belajar bahwa ia “aman” dan “cukup” hanya jika tidak membuat kesalahan, selalu patuh, atau mampu memenuhi ekspektasi orang dewasa. Pola inilah yang kemudian terbawa hingga dewasa.
Sayangnya, perfeksionisme seperti ini jarang membawa ketenangan. Alih-alih merasa bangga, yang muncul justru cemas, lelah, dan takut gagal. Inner child di dalam diri masih bekerja keras untuk “aman”, padahal ancamannya sudah lama berlalu.
Nah, itulah beberapa tanda inner child kamu terluka yang perlu kamu pahami HEALMates. Pada akhirnya, mengenali tanda-tanda inner child terluka bukan tentang mencari siapa yang salah di masa lalu, melainkan tentang memberi ruang pada diri sendiri hari ini. Setiap reaksi berlebihan, rasa takut, atau kelelahan emosional adalah sinyal yang ingin didengar. Saat kita berani berhenti sejenak, memahami, dan merawat bagian diri yang dulu terluka, di situlah proses pulang dimulai. Pulang ke diri yang lebih utuh, lebih tenang, dan lebih berbelas kasih pada diri sendiri. Setelah itu, kita bisa menjalani kehidupan dewasa dengan lebih baik, tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain. Semangat terus ya, HEALMates! (RIW)

