Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Jadi Dewasa Sejak Dini, Apakah Baik untuk Kesehatan Mental Anak?

Jadi Dewasa Sejak Dini, Apakah Bagus untuk Kesehatan Mental Anak?

Oleh :

Saat melihat anak bersikap dewasa, kebanyakan orang tua pasti merasa senang. Apalagi, bagi orang tua yang memiliki banyak kesibukan, sikap dewasa anak yang tenang dan sopan seringkali membuat beban terasa lebih ringan. Misalnya, anak umur 10 tahun yang sudah bisa membantu pekerjaan orang tua, atau remaja kelas 8 yang bisa mengasuh adiknya saat ditinggal kerja. 

Sekilas memang tampak membahagiakan ya, HEALMates? Namun, tak banyak orang tua yang paham bahwa hal ini justru punya efek psikologis yang cukup kompleks pada perkembangan mental anak. Lantas, apakah jadi dewasa sejak dini baik untuk kesehatan mental anak? Agar lebih jelas, yuk kita bahas selengkapnya di artikel berikut ini!

Apa yang Dimaksud Dewasa Sejak Dini?

Istilah umum yang sering dipakai kalangan psikolog adalah adultification atau parentification. Kondisi ini terjadi ketika seorang anak diharapkan atau dipaksa, mengambil peran, tanggung jawab, serta beban emosi yang tidak seharusnya dirasakannya seorang anak seusianya. Misalnya, anak menjadi pendengar curahan orang tua, anak dituntut menjaga adik-adiknya sepanjang hari, atau bahkan anak yang diminta untuk kerja menopang ekonomi keluarga.

Dalam kehidupan normal, masa kanak-kanak sampai remaja itu punya fase penting untuk bermain, menjalin hubungan sosial yang sehat, dan membangun identitas diri. Mereka tidak seharusnya memiliki terlalu banyak tekanan. Jadi, ketika fase itu dilompati atau dipadatkan, konsekuensinya pun cenderung tidak baik, terutama dalam hal kesehatan mental mereka. 

Dampak Psikologis Anak yang Dituntut Dewasa Terlalu Cepat

Dilansir dari Psychology Today, anak-anak yang sering mengambil peran dewasa terlalu cepat ini bisa mengalami tekanan mental lebih tinggi dibanding anak seusianya. Mereka akan dibebani tuntutan harus “selalu kuat” dan memenuhi kebutuhan orang lain, sehingga memicu stres kronis, bahkan sebelum mereka punya kemampuan emosional untuk menanganinya. Ketika anak merasa bahwa nilai dirinya tergantung pada seberapa besar ia bisa membantu orang lain, maka hal ini bisa membuat rendahnya harga diri mereka. Alhasil, ketika dewasa mereka akan tumbuh jadi pribadi yang terus menerus mencari pengakuan atau validasi dari luar.

Secara psikologis, masa kecil adalah fase penting untuk eksplorasi, bermain, dan membentuk hubungan sosial tanpa beban besar. Maka tak heran, ketika fase itu tergantikan oleh tanggung jawab dan peran sebagai orang dewasa, maka anak bisa merasa kehilangan identitas masa kecil yang seharusnya ia nikmati. Pada umumnya, hal ini terjadi dalam keluarga dengan kondisi yang penuh tekanan, seperti perceraian, kekurangan ekonomi, atau dinamika keluarga yang tidak stabil.

Risiko Gangguan Mental di Masa Depan

Banyak studi menunjukkan bahwa pengalaman stres atau tanggung jawab yang tidak sesuai dengan usia ini justru dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental. Misalnya, risiko mengalami kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam mengatur emosi. Hal ini terjadi karena anak-anak yang terlalu cepat dewasa ini, memiliki beban tambahan pada otak yang sebetulnya masih berkembang. 

Meski begitu, tentu sikap dewasa sejak dini ini nggak sepenuhnya berdampak negatif ya, HEALMates. Maksudnya bagaimana? Jadi, pada beberapa konteks, anak yang memiliki sifat lebih bertanggung jawab dari teman sebayanya itu juga bisa jadi salah satu anugerah yang perlu disyukuri oleh orang tua. Dengan catatan, mereka tidak dituntut atau dipaksa, sehingga anak-anak cenderung bersikap dewasa dalam batas wajar. Kita juga perlu membedakan antara memberi beban berlebihan atau mengajarkan keterampilan hidup yang berharga seperti empati, disiplin, dan etos kerja. Sebab, keduanya jauh berbeda dampaknya pada psikologis mereka. 

Tanda-Tanda Anak Tumbuh Dewasa Terlalu Cepat

Kalau HEALMates ingin mengenali apakah seorang anak tumbuh dewasa terlalu cepat, beberapa tandanya yang bisa dilihat antara lain:

  • Menghindari bermain atau berbicara tentang masa kecil. 
  • Sering mengambil keputusan dewasa dibanding anak lain seusianya. 
  • Menjadi “orang dewasa kecil” di tengah keluarga tanpa dukungan emosional yang cukup. 
  • Merasa bersalah ketika mencoba bersantai atau bergembira selayaknya anak-anak seusianya. 

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua? 

Kunci dari kesehatan mental anak dan kematangan psikologisnya tentunya ada pada orang tua dan orang dewasa yang membersamainya ya, HEALMates? Jadi, saat anak bermain dan bersikap sesuai usianya, kita tidak perlu risau dan memaksa mereka harus selalu bersikap dewasa. Berikan ruang bermain yang bisa membuat ekspresi emosi anak jadi sehat. Sebab, masa kecil bukan sekedar fase, tapi pondasi psikologis yang sangat penting.

Berikan support emosi, sebab anak perlu tahu bahwa mereka dicintai bukan karena apa yang mereka lakukan, melainkan karena memang mereka layak dicintai sebagai anak kita. Alih-alih meminta anak menyelesaikan masalah orang dewasa, ada baiknya kita mengajarkan mereka cara mengenal dan mengelola emosi sendiri agar kuat secara mental di masa depan.

Jadi, menjadi dewasa sejak dini itu nggak selalu baik untuk kesehatan mental dan perkembangan anak ya, HEALMates. Meski ada sisi positifnya, namun memberi anak terlalu banyak beban justru bisa berdampak panjang pada kesehatan mental mereka. Inilah tugas kita sebagai orang tua, untuk memastikan anak-anak kita punya masa kecil yang utuh dan ruang emosi yang penuh. (RIW)

Bagikan :
Jadi Dewasa Sejak Dini, Apakah Bagus untuk Kesehatan Mental Anak?

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa