HEALMates, pernah nggak kamu merasa ada orang yang hidupnya kaya lebih mudah?
Mereka senyum sedikit, langsung dianggap ramah. Melamar kerja pun dianggap lebih menarik dan jadi lebih cepat diterima. Di tempat nongkrong, mereka gampang disapa. Bahkan hal sepele macam nanya arah saja bisa dapat perlakuan lebih lembut. Sementara orang lain yang sama rajinnya, sama cerdasnya, sama baiknya malah kadang seperti tak terlihat.
Fenomena perlakuan istimewa berdasarkan penampilan ini sering kita dengar dan bukan hal baru. Ada istilahnya yang disebut beauty privilege. Secara sederhana, beauty privilege adalah keuntungan sosial yang seseorang dapatkan hanya karena penampilannya dianggap menarik oleh standar tertentu. Keuntungan ini sering muncul tanpa mereka sadari. Masalahnya, standar cantik atau menarik itu sering dibangun oleh budaya, media, atau tren. Jadi, standar ini tentang bagaimana masyarakat memberi perlakuan tidak setara hanya berdasarkan fisik. Lalu. Apakah beauty privilege ini bisa dikaitkan dengan isu hak asasi manusia? Yuk, kita kupas bareng-bareng, HEALMates.
Ketika Wajah Jadi Gerbang Awal
Percaya atau tidak, penampilan itu sering jadi gerbang awal bagaimana orang memperlakukan kita. Bukan cuma soal suka atau tidak suka, penelitian menunjukkan efeknya jauh lebih besar. Dalam sebuah studi di bidang akuntansi, misalnya, pelamar yang dianggap menarik punya peluang lebih besar diterima magang. Padahal, pekerjaan akuntansi kaitannya hitungan dan ketelitian, bukan tentang wajah. Ibaratnya, kamu menilai kinerja koki dari wajahnya, bukan dari masakannya.
Ada juga penelitian tentang cara kerja otak. Ternyata, ketika melihat wajah yang dianggap menarik, otak kita lebih fokus dan lebih cepat membuat penilaian positif. Jadi sebelum orang tersebut bicara pun, kita sudah cenderung berpihak duluan. Seperti menilai buku dari sampulnya padahal isinya belum kita baca.Di lingkungan sekolah dan pertemanan, ceritanya sama saja. Remaja yang dipandang menarik biasanya lebih mudah diterima di kelompok sosial, lebih jarang dibully, dan sering dianggap lebih baik tanpa bukti nyata.Semua ini menunjukkan satu hal penting: perlakuan istimewa berdasarkan penampilan bisa menjadi bias yang bisa mempengaruhi orang lain. Orang tersebut bisa mendapat peluang besar, baik di sekolah, pertemanan, maupun dunia kerja.
Saat Penmpilan Menjadi Bentuk Diskriminasi
HEALMates, kalau kita kembali ke prinsip dasar hak asasi manusia, setiap orang punya martabat yang sama, terlepas dari fisik, warna kulit, bentuk tubuh, atau definisi kecantikan apa pun. Maka saat seseorang diperlakukan lebih baik atau lebih buruk hanya karena penampilan, di situ letak masalah keadilannya. Peluang kerja bisa tertutup bagi mereka yang dianggap kurang menarik. Akses terhadap layanan bisa dipengaruhi oleh penilaian visual. Di sekolah dan kampus, penampilan bisa menentukan apakah seseorang diperlakukan dengan hormat atau malah diremehkan.
Beauty privilege juga sering menjadi pintu masuk ke diskriminasi lain. Misalnya body shaming, colorism, atau stereotip gender. Ketidakadilan semacam ini bisa menjadi kebiasaan, karena tidak hanya terjadi di level individu, tapi ikut dipelihara norma sosial yang kita anggap biasa saja. Kalau ada orang diperlakukan baik hanya karena wajahnya memenuhi standar tertentu, pertanyaannya: bagaimana dengan mereka yang tidak? Di sinilah beauty privilege bersinggungan dengan isu HAM dan kesetaraan sosial. Alasannya karena beauty privilege dapat memengaruhi akses, perlakuan, dan kesempatan seseorang.
Dampak Psikologis
Beauty privilege bukan berarti orang yang cantik atau menarik itu salah. Mereka tidak memilih terlahir dengan wajah yang disukai banyak orang. Tapi seringkali, yang luput dari perhatian adalah dampaknya bagi orang-orang yang merasa tidak sesuai standar cantik yang berlaku di masyarakat. Banyak yang akhirnya jadi minder, merasa tidak cukup, atau merasa selalu dibandingkan. Ada yang mulai menarik diri dari lingkungan karena takut dinilai. Ada juga yang berusaha keras banget supaya dianggap pantas. Mereka memaksakan diri untuk, diet ketat, make-up tiap hari, sampai kepikiran operasi, hanya untuk memenuhi standar yang sebenarnya tidak jelas dan terus berubah.
Sementara itu, orang yang dianggap cantik pun bukan berarti hidupnya mulus. Mereka punya tekanan untuk selalu terlihat sempurna. Begitu penampilan berubah sedikit saja komentar langsung berdatangan. Lama-lama mereka merasa nilai dirinya cuma di wajah, bukan di kemampuan atau karakter. Akhirnya, dalam masyarakat yang terlalu fokus pada penampilan, dua-duanya bisa sama-sama lelah. Yang satu merasa tidak cukup, yang satu lagi merasa harus selalu sempurna. Tidak ada yang benar-benar bebas dari tekanan seperti ini.
Melihat Orang Lebih Dalam, Bukan Hanya dari Luarnya
Beauty privilege memang tidak bisa hilang dalam satu malam. Tapi perubahan bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bisa dimulai dari cara kita melihat sesama. Kadang tanpa sadar, kita langsung menilai seseorang dari penampilan luar. Padahal sikap spontan itu bisa menimbulkan luka pada orang yang tidak sesuai standar cantik yang berlaku.
Kita bisa mulai dengan memberi waktu pada diri sendiri untuk mengenal orang lebih dalam sebelum menarik kesimpulan. Saat bertemu seseorang yang baru, coba tahan penilaian visual kita dan fokus pada hal-hal yang lebih penting: bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka memperlakukan orang lain, atau bagaimana energi mereka membuat suasana lebih nyaman. Penampilan hanya kulit luar; nilai seseorang jauh lebih luas dari itu.
Saat berada di lingkungan kerja, kampus, atau pertemanan, kita juga bisa perlahan-lahan mengubah kebiasaan cara memuji orang. Bukan lagi mengutamakan fisik, tetapi kemampuan dan karakter. Menghargai seseorang karena kerja kerasnya, kehangatan sikapnya, atau integritasnya, akan membantu menciptakan budaya yang tidak hanya menilai dari tampilan. Dari situ, standar sosial pun mulai bergeser pelan-pelan, karena kita menunjukkan bahwa kualitas diri jauh lebih berharga daripada rupa.
Kita juga bisa menjadi pendukung bagi orang-orang yang sering “tidak terlihat” karena tidak memenuhi standar kecantikan tertentu. Kadang, dukungan kecil seperti mendengar, memperhatikan, atau memberi ruang. Perlakuan tersebut sudah cukup membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia..
Nilai Manusia Tidak Pernah Berhenti di Wajah
Pada akhirnya, penampilan seharusnya tidak pernah menjadi penentu apakah seseorang pantas dihormati atau diterima. Jika kita percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat dan hak yang sama, kita perlu mulai melihat lebih jauh dari apa yang tampak di mata. Dunia memang sering terburu-buru menilai dari permukaan, tetapi manusia selalu lebih dalam dari sekadar bentuk wajah atau warna kulit.
Semoga setelah membaca ini, kita semua bisa ikut menciptakan lingkungan yang melihat manusia sebagai pribadi penuh cerita dan nilai, tidak sekadar objek visual. Karena pada akhirnya, martabat adalah milik semua orang, tanpa syarat kecantikan apa pun.


