Orang Denmark punya stereotip sebagai penduduk paling bahagia sejagat raya. Itu bukan klaim ngalor-ngidul netizen, ada sertifikat globalnya. Mereka masuk jajaran teratas survei tahunan World Happiness Report berkali-kali. Ini sangat berbeda dengan Indonesia yang masih ada di posisi ke-83 dalam laporan tersebut.
Negara sejuk, sistem tertata, banyak ruang hijau. Kedengarannya kayak tempat yang kalau pikiran kusut tinggal keluar rumah, duduk di bangku taman, bisa langsung sembuh ya, HEALMates? Tapi ironisnya, tingkat bahagia nasional enggak otomatis bikin setiap individu merasa cukup tenang.
Ibarat kata, seperti foto profil Instagram, kelihatannya glow-up, padahal di baliknya ada 47 kali take ulang, edit warna kulit, atur kontras, dan filter Paris biar keliatan aesthetic. Dari jauh tampak sangat indah, tapi dari dekat ada dramanya juga.
Inilah yang lantas membuat banyak orang rasanya perlu mencoba wisata pikiran. To be honest, HEALMates! Istilah ini bukan istilah yang dilontarkan dari seorang pakar ya. Tapi, sebuah istilah yang menurut HEAL cocok untuk menggambarkan sebuah cara mencari ketenangan di dalam diri dan pikiran kita sendiri. Agar lebih jelas, yuk simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini, HEALMates!
Apa Itu Wisata Pikiran?
Kalau HEALMates Googling hashtag #healing, kemungkinan besar yang muncul adalah daftar destinasi wisata yang real, mulai dari pantai, gunung, kulineran, atau resort ramah bocil dengan kolam infinity. Tapi wisata pikiran ini beda liga. Wisata pikiran rasanya nggak butuh tiket ke luar negeri, bahkan nggak butuh cuti kantor.
Wisata pikiran adalah cara kita untuk pergi sejenak dari kebisingan mental, bukan dengan kabur, tapi dengan menata ulang isi kepala kita sendiri. Kalau diibaratkan check-in hotel, kita nggak sedang bongkar koper untuk ditata di lemari, tapi kita bongkar keruwetan di kepala kita sendiri, seperti:
- hal-hal yang membuat cemas,
- terlalu overthinking terhadap masa lalu dan masa depan,
- perasaan lelah yang terus membebani padahal aktivitas fisik nggak begitu berat,
- notifikasi batin yang bunyinya lebih berisik dari notifikasi WhatsApp di jam 2 pagi, dan lain-lain.
Wisata pikiran itu bukan jalan-jalan fisik. Lebih dari itu, ini adalah semacam cara kita mencari ketenangan dengan melakukan perjalanan ke bagian terdalam dari diri kita. Semacam self-tour yang ngasih kita rute untuk misalnya:
- “Tarik napas dulu”;
- “Berhenti menyalahkan diri”;
- “Berhenti membandingkan hidup dengan orang lain”;
- “Fokus pada hal-hal yang bisa kita ubah dan lepaskan kendali kita pada hal-hal yang tidak bisa kita ubah.
Hingga nantinya, kita akan parkir pada sebuah tempat bernama kedamaian dan ketenangan.
Nggak ada pemandu wisata dalam wisata pikiran, tapi rasanya semua orang bisa melakukannya. Nggak ada Google Maps, tapi semua orang tahu rute pulangnya, yakni “Balik ke diri yang lebih waras.”
Destinasi yang Bisa Dikunjungi dalam Wisata Pikiran
Pernahkah HEALMates mendengar nasihat bahwa “Hidup adalah ladang ujian, tempat kita merasa lelah”? Pada dasarnya, nasihat ini mengajak kita untuk belajar memahami bahwa selama kita hidup, kita mungkin akan merasakan berbagai ujian yang menekan mental. Namun, apakah kita harus menyerah pada setiap rasa lelah? Jawabannya tentu tidak, ya HEALMates. Nah, wisata pikiran bisa jadi salah satu cara yang dapat kita terapkan untuk meregulasi diri dan bertahan dari segala rasa lelah.
Di bawah ini, beberapa cara paling sederhana yang mungkin bisa kamu lakukan, kapan pun pikiran mulai berisik dan batin terasa seperti terminal yang nggak berhenti muterin jadwal keberangkatan.
1. Duduk Sebentar Senyaman Mungkin
Saat pikiran kalut dan dipenuhi keruwetan, cobalah untuk menarik diri sejenak. Duduklah senyaman mungkin. Nggak usah bersila kalau bikin kaki kram, nggak usah gaya zen kalau belum mood. Cukup tanya dirimu sendiri, “Posisi seperti apa yang paling nyaman”. Kemudian, tanyakan juga “Apa yang kamu rasakan saat ini?”
Seringkali kita akan berbicara kepada diri kita sendiri. Maka, kita bisa mengamati jawabannya, tanpa mengedit, dan tanpa menghakimi. Terima semua perasaan yang ada, rasa capek, takut, marah, dan lain-lain.
2. Atur Nafas agar Oksigen ke Otak Bisa Lebih Lancar
Selanjutnya, cobalah untuk mengatur nafas kita. Menurut penelitian di Sciencedirect, mengatur nafas dapat membuat pikiran kita lebih tenang. Kita bisa mencoba teknik olah nafas seperti menarik nafas dalam-dalam seperti menguap, tahan sejenak, lalu hembuskan perlahan seolah membuang beban. Ulang 5–10 kali dalam beberapa menit ketika merasa panik, gelisah, atau overthinking. Setiap hembusan nafas itu seperti memberikan kesempatan kepada kita untuk “Jeda sebentar”. Olah nafas ini tentu tidak akan menyelesaikan semua masalah kita, tapi bisa membuat kita merasa tenang dan menghentikan pikiran kita dari perasaan bahwa semua harus selesai sekarang juga.
3. Jalan Meditatif Selama 10 Menit tanpa Tujuan
Jalan meditatif selama 10 menit tanpa tujuan itu seperti menekan tombol pause pada browser mentalmu. Kamu melangkah pelan, bukan untuk tiba di suatu tempat, tapi untuk merasa hadir. Rasakan telapak kaki menyentuh tanah, dengar suara di sekitar, entah angin, motor lewat, atau notifikasi hati yang mulai melunak. Nafas jadi anchor, langkah jadi irama. Di sini, kamu bukan kabur dari pikiran, kamu hanya menaruhnya di jok belakang, sambil tubuhmu mengambil alih kemudi. Lalu setelah 10 menit, kamu akan merasakan sebuah perbedaan. Bukan lingkungan di sekitar yang kamu lewati, tapi di dalam pikiran yang tadinya kalut dan ruwet. Praktik sederhana ini ternyata dekat juga dengan pendekatan psikologi mindfulness yang sering direkomendasikan oleh para peneliti dan praktisi, karena mampu menurunkan ketegangan dan memberikan regulasi emosi secara cepat dan accessible, tanpa drama, tanpa destinasi, cukup perjalanan pulang ke diri yang sedikit lebih waras.
4. Unfollow Pikiran, Bukan Menyingkirkannya
Kita bisa mulai belajar untuk berhenti memberi panggung pada pikiran yang bising, bukan memusnahkannya. Seperti saat kita unfollow akun yang menguras energi di media sosial, pikirannya tetap ada di dunia, tapi kita tidak lagi mengizinkannya masuk ke linimasa mental kita. Alih-alih melawan atau mengusir, kita belajar menandai, menyadari, lalu melepaskannya berlalu tanpa ikut terseret ke alurnya. Cara ini lebih mindful, karena sejatinya kita sedang melatih diri untuk memilah mana pikiran yang perlu kita pikirkan dan mana yang nggak harus kita pikirkan.
5. Menuliskan 3 Beban yang Dirasakan dan 3 Hal yang Disyukuri Hari Ini
Ambil kertas atau notes ponsel. Lalu, tuliskan 3 hal-hal berat atau beban yang sedang kamu alami dan tuliskan juga 3 hal yang bisa kamu syukuri hari ini. . Dengan menuliskan beban, entah itu rasa lelah, khawatir, atau tekanan pekerjaan, kita memberi bentuk pada apa yang semula abstrak, sehingga tidak lagi menumpuk menjadi kebisingan batin.
Lalu, menuliskan hal yang disyukuri bisa membantu otak mengalihkan fokus ke sumber daya yang masih kamu punya, misalnya tubuh yang sehat, udara segar yang masih bisa dihirup, punya orang yang menguatkan, dan lain-lain. Dengan begitu, pikiran kita bisa kembali positif.
6. Berdoa
Berdoa bisa jadi percakapan paling jujur antara kita dengan pemilik kehidupan. Doa bisa jadi momen saat kita berhenti sejenak dari tuntutan duniawi dan ruang untuk mengakui batas kemampuan kita sebagai manusia. Saat berdoa, yang diubah bukan semesta, melainkan posisi batin kita, dari yang sibuk mengendalikan semua hal, menjadi lebih lapang menerima hal yang tidak bisa diubah.
7. Micro-Nap 7 Menit
Micro-nap 7 menit bisa kamu lakukan juga lho, HEALMates! Siapa sangka, tidur super cepat bisa jadi cara “nge-reset” otak tanpa masuk ke fase tidur yang dalam. Kalau kamu ngantuk, kamu bisa tidur. Tapi, kalau nggak ngantuk, kamu mungkin cukup memejamkan mata. Efeknya bisa terasa sekali ketika membuka mata, kita jadi lebih fokus dan emosi lebih stabil. Tentu saja, setiap orang bisa merasakan efek yang berbeda-beda ya, HEALMates! Tapi, nggak ada salahnya buat dicoba kan?
8. Butterfly Hug
Butterfly Hug jadi salah satu teknik menenangkan diri yang banyak dianjurkan oleh psikolog ya, HEALMates. Kamu juga bisa nih, coba di rumah. Caranya, silangkan tangan ke dada atau bahu, lalu menepuk kiri–kanan secara bergantian seperti sayap kupu-kupu yang bergerak. Nah, gerakan ritmis kiri–kanan ini bisa membantu otak keluar dari mode panik dan menuju mode aman sehingga menurunkan intensitas emosi yang meledak-ledak. Selain menepuk-nepuk, kamu juga bisa sambil mengucapkan terima kasih ke diri kamu sendiri, misalnya “Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”
Pada akhirnya, wisata pikiran ini bisa jadi pengingat bahwa ketenangan bukan sekadar soal barang mahal yang hanya dimiliki mereka yang sanggup berlibur jauh atau hidup mewah, melainkan hak dasar setiap manusia. Sudah seharusnya, setiap orang bisa merasakan ketenangan dengan caranya sendiri. Semua orang berhak kembali pada dirinya sendiri, lebih damai, lebih waras, lebih utuh, tanpa merasa perlu lulus dari standar apa pun dulu. (RIW)

