Di era yang serba cepat ini, anak-anak sering kali tumbuh dengan banyak tuntutan, mulai dari akademik, ekskul, sampai urusan sosial di sekolah dan media sosial. Kita sering berpikir, self-improvement hanya penting buat orang dewasa. Padahal, anak-anak juga butuh ruang untuk berkembang, belajar mengenali diri, dan membangun kepercayaan diri sejak dini lho.
Self-improvement pada anak bukan berarti memaksa mereka jadi “lebih baik” setiap waktu. Sebaliknya, kita justru sedang membantu mereka memahami potensi diri, mengenali kekuatannya, dan belajar menerima prosesnya. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan hidup.
Lalu, seberapa penting sih self-improvement bagi anak? Bagaimana cara kita membangun self-improvement mereka agar lebih percaya diri? Yuk, kupas selengkapnya dalam artikel berikut ini, HEALMates!
Kenapa Self-Improvement Penting Bagi Anak?
1. Anak yang Terbiasa Self-Improvement Lebih Tahan Banting
Salah satu manfaat terbesar self-improvement adalah tumbuhnya growth mindset. Kalau HEALMates perhatikan, anak dengan growth mindset ini akan lebih percaya diri dan memahami bahwa bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha, bukan bawaan lahir. Jadi, kalau mereka gagal, mereka nggak langsung merasa “nggak bisa”, tapi justru penasaran buat mencoba lagi.
Nah, kemampuan untuk bangkit setelah gagal itu penting banget ya, HEALMates. Nggak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Misalnya, ketika nilai matematika turun atau mereka kalah lomba, mereka jadi bisa belajar untuk melihat kegagalan itu sebagai kesempatan buat memperbaiki diri, bukan alasan untuk menyerah. Menurut psikolog, anak yang terbiasa memperbaiki diri akan tumbuh jadi pribadi yang fleksibel, adaptif, dan nggak gampang down saat menghadapi tekanan.
2. Self-Improvement Membantu Anak Mengenali Potensi Diri
Bagian terpentingnya adalah bahwa self-improvement ini bisa mendorong anak lebih mengenali potensi diri mereka sendiri. Sebab, kadang kala anak-anak sendiri nggak sadar apa yang mereka suka atau bisa. Nah, dengan self-improvement, mereka bisa diajak eksplorasi banyak hal dan mencoba hal-hal baru tanpa takut salah. Dari situlah, mereka bisa menemukan minat baru, bakat yang terpendam, atau kemampuan yang sebelumnya tidak mereka sadari.
3. Kepercayaan Diri Anak Perlu Dibangun
Setuju nggak HEALMates kalau kepercayaan diri anak ini nggak datang begitu saja? Banyak orang tua berharap anak otomatis jadi percaya diri, padahal kepercayaan diri itu hasil dari sebuah proses panjang yang dibangun bersama orang tua dan lingkungan. Kalau lingkungan sekitar terus memberi penilaian negatif, maka anak merasa ragu dan takut untuk mencoba. Tapi, kalau mereka tahu kesalahan itu hal yang wajar dalam proses belajar, mereka akan lebih berani mengambil langkah hingga akhirnya menemukan potensi diri mereka.
Cara Membangun Kepercayaan Diri Anak
Sebagai orang tua, kita tentu perlu mengetahui cara membangun kepercayaan diri anak tanpa tekanan yang berlebihan ya, HEALMates. Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa HEALMates terapkan di rumah.
1. Berikan Pujian yang Spesifik dan Tidak Berlebihan
Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi yang sangat berarti bagi anak. Namun, kita juga perlu memuji sesuai dengan kemampuan spesifik mereka ya, HEALMates. Jadi, sebaiknya kita tidak memuji secara berlebihan. Misalnya, “Wah, kamu tekun banget ya ngerjain ini.” atau “Wah bagus, lukisan kamu sudah lebih rapi dan warnanya sudah lebih natural.” Pujian-pujian spesifik ini, bisa bikin anak merasa usahanya dihargai, bukan hanya hasilnya.
2. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan
Hal sederhana seperti memilih baju, menentukan menu makan, atau mengatur jadwal belajar juga bisa bikin anak merasa punya kendali atas hidupnya, lho. Anak yang dilibatkan akan merasa suaranya penting dibanding mereka yang selalu diatur harus pakai baju seperti apa.
3. Ajarkan Anak Mengatasi Rasa Takut
Mengatasi rasa takut adalah salah satu pengelolaan emosi yang penting untuk kita ajarkan kepada anak. Bukan dengan memaksa mereka menghadapinya langsung, tapi dengan mencoba memulai pelan-pelan. Misalnya, jika anak takut presentasi, mungkin kita bisa mendorong anak belajar berbicara di depan keluarga terlebih dulu. Dengan begitu, anak jadi bisa melatih kepercayaan dirinya.
4. Bantu Anak Membuat Tujuan yang Realistis
Kalau dulu kita ditanya cita-citanya apa, kita sering menjawab ingin menjadi sesuatu yang kurang realistis ya, HEALMates. Misalnya, “Aku ingin jadi superhero” atau “Aku ingin jadi Barbie”. Nah, alih-alih memiliki tujuan untuk hal-hal yang khayal, kita mungkin bisa mengajarkan anak agar punya tujuan spesifik yang lebih realistis. Anak kecil kadang ingin mencapai hasil besar dalam waktu singkat dan itu membuat mereka mudah putus asa. Sebaliknya, kita bisa mendorong mereka untuk membuat target kecil dan menghargai setiap prosesnya.
Jadi, self-improvement ini memang penting banget bagi anak ya, HEALMates, terutama agar mereka lebih percaya diri. Self-improvement membantu mereka tumbuh jadi pribadi lebih tahan banting dan lebih mengenal dirinya sendiri. Sebagai orang tua atau guru, tugas kita adalah membersamai mereka dan memberi dukungan terbaik agar anak-anak kita bisa tumbuh jadi versi terbaik dari dirinya. (RIW)

