Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Puber Kedua Rawan Perselingkuhan? Ini Alasannya

Puber Kedua Rawan Perselingkuhan? Ini Alasannya

Oleh :

Pernahkah kamu melihat seseorang yang tiba-tiba berubah drastis di usia paruh baya? Misalnya seperti: mulai rajin berolahraga, mengganti gaya berpakaian, atau lebih sering memperhatikan penampilan di depan cermin?. Atau mungkin kamu sendiri sedang mengalaminya?.

Ada masa dalam hidup di mana seseorang mulai merasakan getaran aneh yang sulit dijelaskan. Di usia paruh baya, sebagian orang merasakan gejolak batin yang aneh, seperti sedang “jatuh cinta” lagi pada kehidupan. Fase inilah yang sering disebut sebagai puber kedua.  Masa dimana seseorang mencari kembali versi diri yang dulu sempat hilang di antara rutinitas dan tanggung jawab. Namun, di balik semangat hidup kembali itu, terselip sisi lain yang tak kalah kompleks. Banyak kisah yang berakhir pada perselingkuhan, pertengkaran, bahkan perceraian di usia paruh baya. Mengapa masa ini begitu rawan? Yuk, kita bahas lebih dalam, HEALMates.

Apa Itu Puber Kedua?

Secara psikologis, puber kedua bukan istilah resmi di dunia medis. Tetapi, istilah populer yang menggambarkan perubahan emosional dan identitas di usia dewasa tengah (40–55 tahun). Menurut penelitian Daniel Levinson (Yale University, 1978), fase ini merupakan bagian dari midlife transition. Fase dimana individu mengevaluasi kembali tujuan hidup, karir, dan hubungan pribadi.

Sementara studi dari American Psychological Association (APA, 2022) menyebutkan bahwa perubahan hormon seperti menurunnya testosteron pada pria dan menopause pada wanita dapat memicu perubahan suasana hati, penurunan gairah hidup, dan kebutuhan validasi baru. Kombinasi ini menciptakan badai kecil dalam diri seseorang.

Singkatnya, puber kedua bukan sekadar perubahan fisik. Namun juga pergulatan batin antara bertahan dan mencari kembali versi diri yang pernah hidup di masa muda.

Kenapa Usia Paruh Baya Jadi Rawan Selingkuh?

Nah, ini yang menarik, HEALMates. Banyak faktor yang bisa membuat masa ini menjadi rentan, antara lain:

  1. Krisis Arah dan Makna Hidup
    Di berbagai negara, perceraian setelah usia 50 tahun meningkat signifikan. Istilahnya disebut gray divorce, perpisahan setelah anak-anak besar dan hidup terasa “selesai”. Saat usia paruh baya karier mulai stabil, anak-anak tumbuh dewasa, dan rutinitas terasa datar. Pada usia ini mulai ingin mencari makna hidup baru. Seseorang bisa bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Menurut penelitian Le Monde (2025), penyebabnya sering bukan konflik besar, tapi ketidakpuasan batin yang menumpuk selama bertahun-tahun.
  2. Pencarian Validasi Diri
    Ketika penampilan dan peran sosial berubah, sebagian orang ingin merasa . diinginkan lagi. Bahkan,  jika itu berarti mencari perhatian di luar rumah. Psikolog Esther Perel bahkan menulis bahwa banyak orang berselingkuh bukan untuk mencari orang lain, tapi untuk menemukan kembali versi dirinya yang dulu hidup dan bersemangat.
  3. Ketakutan Menua dan Perubahan Fisik
    Perimenopause pada wanita dan penurunan testosteron pada pria bisa memicu perubahan suasana hati dan krisis kepercayaan diri. Beberapa peneliti menyebut fase ini sebagai puber kedua karena emosinya memang mirip masa remaja. Pria dan Wanita pada usia paruh baya cenderung lebih takut menua dan sadar akan penampilan. Kesadaran orang lain terkait perubahan penampilannya inilah yang bisa menjadi awal perselingkuhan. 
  4. Ruang dan Kesempatan Baru
    Media sosial, lingkungan kerja modern, hingga aplikasi kencan membuka celah untuk koneksi emosional di luar pasangan. Jika seseorang tidak mempunyai batasan diri, maka bisa mengarah ke hubungan terlarang. 
  5. Kehilangan Keintiman Rumah Tangga
    Pasangan yang sudah lama bersama, bisa jadi akan kehilangan keintiman dan berakhir kesepian. Apalagi di usia paruh baya, ketika anak-anak sudah mandiri. Rasa sepi akan semakin meningkat dan akan berpengaruh ke hubungan Rumah Tangga.  

 

Bagaimana Menghadapinya?

Tenang, HEALMates….

Puber kedua tidak selalu berakhir dengan perselingkuhan kok. Justru fase ini bisa menjadi momen untuk menata ulang hubungan dan mengenal diri lebih dalam. Coba mulai dengan bicara jujur tentang perasaan yang sulit, sebelum gelisah berubah jadi rahasia. Lakukan hal-hal baru bersama, entah liburan singkat, ikut kegiatan sosial, atau sekadar melakukan hobi bersama pasangan. Karena berbagi tujuan hidup bisa mengurangi rasa jenuh.

Bangun lagi keintiman emosional dan fisik, serta validasi diri lewat hal positif seperti olahraga, belajar hal baru, atau merawat diri. Jika terasa berat, konseling pasangan bisa jadi jalan keluar. Menurut KNE Publishing (2024), terapi membantu banyak orang melewati masa ini dengan lebih sehat dan sadar. Puber kedua bukan akhir, tapi kesempatan untuk mencintai dengan cara yang lebih dewasa.

“Karena menjadi dewasa bukan berarti berhenti berubah. Akan Tetapi, belajar menumbuhkan cinta  meski waktu ikut menua.

 

Bagikan :
Puber Kedua Rawan Perselingkuhan? Ini Alasannya

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa