Kalau dulu sosok pahlawan identik dengan patung gagah di alun-alun, lukisan minyak di ruang kelas, atau nama jalan yang kadang kita lupa, kini bentuknya berubah. Di era layar sentuh, pahlawan bisa hadir di mana saja, di meme, fanart, webtoon, bahkan game. Generasi Z tumbuh dengan cara berbeda, dan begitu pula cara mereka memaknai kepahlawanan.
Buat Gen Z, pahlawan bukan hanya mereka yang memakai seragam tentara atau menenteng bambu runcing yang kita ketahui dari buku-buku sejarah. Pahlawan juga bisa muncul dari timeline, panel komik, video TikTok tentang sejarah yang dijelaskan sambil lipsync, atau fanart tokoh nasional dengan gaya anime. Ketika sejarah dibuat relatable, kita jadi lebih mudah dekat ya, HEALMates?
Lantas, bagaimana Gen Z memaknai kepahlawanan di era serba digital saat ini? Yuk HEALMates, kita kupas secara lengkap dalam artikel berikut ini!
Dari Kanvas ke Fanart
HEALMates mungkin menyadari kalau dulu lukisan pahlawan banyak yang bergaya naturalis, dipatungkan supaya terlihat gagah dan patriotik. Namun saat ini, ilustrasi pahlawan banyak yang dimodifikasi dengan style anime, lengkap dengan coloring soft, mata berbinar, pose heroik estetik.
Di media sosial, kita sering melihat pahlawan dirayakan lewat karya digital, seperti fanart Cut Nyak Dhien versi magical girl, Sultan Hasanuddin digambar seperti karakter One Piece, Raden Ajeng Kartini ala Studio Ghibli vibes, hingga Diponegoro jadi karakter RPG berpedang mistis. Hal ini tentu bukan bentuk “tidak hormat”. Justru sebaliknya, gambar-gambar ini bisa menjadi representasi cara anak muda zaman sekarang menghidupkan kembali figur sejarah dengan bahasa visual generasi mereka. Seni menjadi jembatan, bukan untuk mengubah makna sejarah, tapi untuk menghidupkannya dalam imajinasi baru. Bukankah sebuah kreativitas adalah bentuk penghormatan lain? Setuju nggak, HEALMates?
Meme Sejarah dari Serius Jadi Santai Tapi Membekas
Pernah lihat meme “Pangeran Diponegoro kalau lihat kondisi sekarang”? Atau editan pahlawan sambil memegang bubble tea? Bagi sebagian orang, meme ini kerap dianggap merendahkan. Tapi buat Gen Z, meme adalah cara belajar paling cepat dan paling melekat. Sebab sering kali dengan humor, topik berat jadi lebih ringan dicerna.
Dalam satu slide meme, kita mungkin bisa mengenang peristiwa sejarah, bikin komparasi dengan kondisi modern, menertawakan ironi sosial, dan sekaligus memicu diskusi soal nasionalisme. Ini mungkin sebuah gaya yang berbeda untuk memaknai sejarah dan cerita kepahlawanan, namun bukan berarti esensinya juga hilang. Dari situ, banyak yang akhirnya cari tahu lebih dalam, nonton video sejarah, atau baca thread edukatif. Jadi, meme bisa semacam pemantik agar kita lebih tertarik mengenal pahlawan dan sejarah kita.
Game Jadi Medan Perang Virtual
Generasi sebelumnya mungkin belajar makna kepahlawanan dan aksi heroik dari buku pelajaran ya, HEALMates? Kalau Gen Z? Mereka bisa belajar banyak hal dan memaknai perjuangan dan kepahlawanan dari layar, stick, dan keyboard. Maksudnya bagaimana? Kalau HEALMates suka bermain game, game seperti Lokapala yang merupakan game lokal yang menampilkan tokoh budaya Nusantara bisa memberi pengalaman imersif. Mulai dari strategi perang, diplomasi, pengorbanan, taktik bertahan, hingga tanggung jawab memimpin. Bahkan meski fiksional, nilai moralnya tetap nyata yakni heroisme, keberanian, ketahanan, hingga kerja sama.
Gen Z melihat bahwa menjadi pahlawan bukan hanya soal mengangkat senjata, tapi juga tentang kemampuan membuat keputusan sulit demi banyak orang, meski risiko besar menanti. Kadang heroiknya bukan di medan perang, tapi di ruang strategi.
Apa Makna Kepahlawan Versi Gen Z?
Jadi, apa makna kepahlawanan versi Gen Z? Kalau kita amati, generasi sekarang punya definisi pahlawan yang lebih luas, mulai dari aktivis lingkungan, relawan bencana, programmer yang bikin aplikasi aksesibilitas, desainer kampanye anti-perundungan, anak muda yang bantu UMKM go digital, bahkan seorang kakak yang bantu adik belajar daring.
Pahlawan bisa dimaknai sebuah kesadaran untuk memilih peduli dan itu esensi yang sebenarnya tidak pernah berubah, yakni keberanian melampaui diri sendiri. Kalau dulu bambu runcing, mungkin sekarang bentuknya agak lain seperti kamera, laptop, grav pen digital, atau ya sebatas thread edukatif di X.
Bahasa patriotisme bukan lagi sebatas orasi, tapi sudah meluas ke konten digital. Dulu pahlawan bersuara lewat pidato, adapun sekarang kita lihat anak muda bersuara lewat podcast, video pendek edukatif, konten story telling tentang sejarah, thread nasionalisme, hingga short documentary di TikTok. Dengan begitu, narasi perjuangan sudah berpindah medium tapi maknanya tetap ada.
Hari Pahlawan bukan hanya soal nostalgia, tapi juga soal meneruskan nilai dengan cara yang relevan. Generasi Z tidak melupakan sejarah, namun mereka menerjemahkannya dengan kebaruan sesuai zaman, dari pose kaku di buku sejarah ke karakter dengan emosi di fanart. Hari ini, kita mungkin tidak berlari ke medan perang, namun setiap generasi punya panggilannya untuk mencintai bangsa dan negara.
Selamat Hari Pahlawan, HEALMates! Teruslah mencipta, merawat, dan mengingat karena pahlawan selalu lahir dari mereka yang memilih untuk peduli kepada sesama. (RIW)

