Logo Heal

FASHION & BEAUTY

Fashion & Beauty

Mengapa Orang Cantik atau Tampan Tetap Diselingkuhi? Ini Fakta Psikologisnya

Mengapa Orang Cantik atau Tampan Tetap Diselingkuhi? Ini Fakta Psikologisnya

Oleh :

Hai, HEALMates
Pernah nggak sih kamu melihat seseorang yang secara kasat mata seperti punya segalanya. Mulai dari wajah yang menawan, karier cemerlang, penuh pesona, dan punya pasangan yang kelihatannya cocok banget. Tapi tiba-tiba muncul kabar mengejutkan jiak ternyata mereka diselingkuhi, bahkan ditinggalkan untuk orang yang dianggap biasa saja dan jauh dari kata sebanding. Refleks, pasti kita akan berkata: 

“Serius? Kok bisa sih? Bukannya dia cakep banget?”
Padahal HEALMates, dunia hubungan itu nggak sesederhana fisik atau penampilan luar. Yuk kita bahas alasan psikologis orang cantik dan tampan tetap bisa diselingkuhi.

 1. Kebutuhan Emosional yang Tak Terpenuhi

Banyak penelitian psikologi justru menunjukkan bahwa perselingkuhan jarang terjadi karena pasangan dianggap kurang menarik secara fisik. survei dari Victoria Milan, situs bagi orang yang berselingkuh, melibatkan lebih dari 4.000 responden dan menemukan hasil mengejutkan. Mayoritas baik laki-laki maupun perempuan justru menganggap pasangan sah mereka lebih menarik daripada selingkuhannya. Sebuah riset dari University of Maryland menemukan delapan faktor utama penyebab orang berselingkuh, mulai dari kemarahan yang dipendam, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, kehilangan koneksi batin, hingga rasa bosan dalam hubungan jangka panjang. Menariknya, penampilan fisik nyaris tidak masuk dalam daftar utama alasan itu.

Psikolog Roslina Verauli juga menegaskan hal yang sama. Dalam wawancara di akun TikTok-nya, ia menyebut, “Banyak orang selingkuh bukan karena jatuh cinta, tapi karena sedang menikmati validasi, merasa keren, mapan, atau diinginkan.”
Jadi, dalam banyak kasus, perselingkuhan lebih mencerminkan ego dan kebutuhan batin si pelaku, bukan kekurangan dari pasangannya.

2.  Luka Batin dan Pola Keterikatan yang Rumit

Beberapa penelitian psikologi juga menyoroti peran attachment style atau gaya keterikatan dalam hubungan. Orang dengan avoidant attachment (gaya menghindar) misalnya, seringkali takut terhadap kedekatan emosional yang terlalu intens. Ketika berada dalam hubungan yang stabil dan penuh komitmen, mereka justru merasa terjebak dan kehilangan ruang kebebasan. Akibatnya, mereka mencari pelarian yang memberi ilusi kebebasan dan kontrol yang bisa saja berujung pada perselingkuhan. 

Mereka yang memiliki anxious attachment (gaya keterikatan yang mudah cemas). Sebaliknya, bisa menjadi terlalu bergantung dan membutuhkan validasi terus-menerus. Ketika kebutuhan emosional ini tidak terpenuhi, mereka bisa mencari perhatian dari luar. Alasannya karena ia takut kehilangan kendali. Dalam kedua pola ini, yang rusak bukan perasaan itu sendiri, tapi mekanisme pengelolaan emosi dan kedekatan yang belum dewasa.

Ada juga teori pertukaran sosial dan kebutuhan variasi. Beberapa orang memilih pasangan selingkuh yang lebih rendah secara status atau penampilan, karena mereka ingin:

Pertama, Merasa lebih berkuasa,

Kedua, Mengurangi risiko ketahuan,

Ketiga, sekadar mencari suasana baru yang tidak menantang ego mereka.

teori tersebut menunjukkan bahwa perselingkuhan lebih sering disebabkan karena kekurangan dalam diri pelaku, bukan karena ada yang salah dengan pasangan sahnya.

 

  3.  Terlalu Fokus pada Tampilan Fisik

Kita hidup di zaman di mana cantik dan tampan sering dianggap tiket menuju bahagia. Media sosial memperkuat ilusi tersebut. Kita fokus mengusahakan wajah rupawan, tubuh ideal, pakaian trendi seolah menjamin kebahagiaan dan kesetiaan. Padahal, dalam hubungan yang nyata, semua itu hanya kulit luar.

Psikolog hubungan Dr. Esther Perel, penulis The State of Affairs, menyebut bahwa banyak orang berselingkuh bukan karena mereka tidak bahagia dengan pasangan. Tetapi karena mereka ingin menemukan versi lain dari diri mereka sendiri. Mereka ingin menjadi seseorang yang lebih bebas, lebih berani, atau lebih hidup. Artinya, meski seseorang rupawan dan dicintai publik, ia tetap bisa diselingkuhi jika hubungan itu kehilangan ruang untuk tumbuh dan saling memahami.

 

Dari alasan-alasan di atas , penting untuk ditegaskan bahwa kita tidak sedang membenarkan perilaku perselingkuhan, dan tidak pula menyalahkan korban yang diselingkuhi. Perselingkuhan selalu merupakan bentuk pengkhianatan kepercayaan. Apapun alasan psikologisnya, perilaku ini tetap meninggalkan luka mendalam. Tapi memahami akar penyebabnya bukan berarti memaafkan, melainkan membuka jalan untuk penyembuhan.

HEALMates, hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling rupawan di mata dunia, tapi siapa yang paling bisa menghadirkan rasa aman. Riset dari Journal of Social and Personal Relationships bahkan menemukan bahwa hubungan yang paling baik adalah yang dibangun di atas kepercayaan, komunikasi terbuka, dan empati, bukan semata ketertarikan fisik.

Jadi, jika kamu pernah merasa kurang cukup padahal sudah jadi versi terbaik dari dirimu, tenangkanlah hatimu. Perselingkuhan yang kamu alami bukan cerminan kekuranganmu, tapi cerminan ketidakmampuan orang lain untuk menghargaimu. Menghargai keindahan yang tiada tanding harganya berupa kejujuran, kehangatan, dan kedewasaan emosional.

Bagikan :
Mengapa Orang Cantik atau Tampan Tetap Diselingkuhi? Ini Fakta Psikologisnya

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

halo@heal-sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa