Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Self-Sabotage, Ketika Musuh Terbesar Justru Diri Sendiri

Self-Sabotage, Ketika Musuh Terbesar Justru Diri Sendiri

Oleh :

Halo, HEALMates! How’s life? Semoga kalian semua dalam keadaan bahagia dan penuh semangat ya. Kali ini, HEAL akan membahas tentang salah salah satu perilaku yang sering kita lakukan tapi sangat jarang disadari. Yes, self-sabotage

HEALMates mungkin pernah merasa sudah berusaha keras, tapi hasilnya tetap nggak sesuai harapan? Sudah niat belajar biar lulus tes, tapi malah scrolling TikTok sampai tengah malam? Sudah janji mau hidup sehat, tapi malah rebahan sambil ngemil keripik pedas? Atau mungkin sering bilang ke diri sendiri, “Kayaknya aku emang nggak bisa deh,” padahal belum sempat mencoba. 

Kalau iya, maka selamat datang di dunia self-sabotage, sebuah perilaku di mana musuh terbesar kita justru bukan orang lain, tapi diri kita sendiri. Maksudnya apa? Yuk, kita ulas penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apa Itu Self-Sabotage?

Secara sederhana, self-sabotage adalah sebuah perilaku ketika seseorang melakukan atau mungkin justru tidak melakukan sesuatu yang dapat menghalangi kesuksesan dan keberhasilannya sendiri. Dalam istilah psikologi, perilaku ini sering disebut sebagai bentuk maladaptive coping mechanism, yakni cara otak melindungi diri dari potensi rasa sakit, kegagalan, atau penolakan, tapi dengan cara yang justru menyakiti diri sendiri.

Contohnya banyak banget, misalnya menunda pekerjaan penting, selalu berpikir negatif tentang kemampuan diri sendiri, memilih pasangan yang toksik padahal tahu bahwa itu nggak sehat, atau sengaja membuat kesalahan agar bisa berkata, “Tuh kan, aku memang nggak bisa!”

Masalahnya, self-sabotage ini sering nggak disadari. Kita pikir kita hanya sedang “malas”, “takut gagal”, atau “kurang motivasi”. Padahal di balik itu semua, ada pola pikir dan luka batin yang lebih dalam.

Kenapa Kita Melakukan Self-Sabotage?

Kita semua memang punya cara masing-masing untuk melarikan diri hal-hal yang seharusnya kita lakukan atau tanggung jawab. Alasan paling sering biasanya karena kurang menyukai tanggung jawab atau tugas itu sehingga memilih untuk menghindar atau menundanya. Tapi, perilaku ini bisa lepas kendali jika terus-terusan dilakukan. Self-sabotage bisa berkembang menjadi kebiasaan yang membuat kita menghindari orang lain dan enggan menghadapi situasi yang menegangkan.

Kalau dilihat dari sisi psikologis, self-sabotage juga bisa muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Perilaku ini muncul dari pengalaman, ketakutan, dan keyakinan yang sudah tertanam dan mengakar di alam bawah sadar.

Dalam banyak kasus, perilaku ini juga berakar dari masa lalu. Mungkin dulu kita sering dikritik, dibandingkan, atau dibuat merasa nggak cukup. Akibatnya, saat dewasa, otak kita memutar ulang pola yang sama, menghukum diri sebelum orang lain sempat melakukannya.

Selain itu, kadang kita menunda atau malah nggak berusaha sama sekali karena merasa lebih aman gagal tanpa mencoba, daripada gagal setelah berjuang keras. Logikanya sederhana, kalau nggak mencoba, kita nggak bisa kecewa. Padahal sebenarnya, kita justru menciptakan kegagalan itu sendiri.

Orang yang sering self-sabotage biasanya memiliki pola pikir “aku nggak pantas”. Mereka merasa nggak layak mendapatkan kebahagiaan, kesuksesan, atau cinta. Jadi, ketika hal-hal baik datang, mereka malah mencari-cari alasan untuk menghancurkannya.

Alasan lainnya juga bisa jadi karena sifat perfectionis yang dimiliki. Kadang keinginan untuk jadi sempurna justru bikin kita nggak mulai-mulai, lho. Kita jadi takut hasilnya nggak sempurna seperti yang kita mau dan akhirnya kita memilih menunda atau bahkan mundur sebelum memulainya. Padahal, yang ditakuti bukan hasilnya, tapi kemungkinan gagal di depan orang lain.

Contoh Nyata yang Sering Kita Lakukan

Self-sabotage nggak selalu dramatis. Kadang perilaku ini terlihat sepele tapi dampaknya panjang. Beberapa contohnya seperti berikut:

  • Menunda pekerjaan sampai akhirnya stres dan menyalahkan diri sendiri.
  • Overthinking sampai kehabisan energi sebelum melakukan apa pun.
  • Menghindar dari peluang baru karena merasa belum siap.
  • Membandingkan diri dengan orang lain dan akhirnya merasa nggak cukup.
  • Menolak pujian, karena merasa nggak pantas menerimanya.
  • Sengaja berkonflik dengan pasangan atau teman karena takut hubungan yang terlalu dekat akan berakhir menyakitkan.

Nah, kalau HEALMates perhatikan setiap perilaku itu mungkin terlihat berbeda, tapi akarnya sama, kita takut menghadapi kemungkinan hasil yang bikin kita sakit hati dan takut keluar dari zona nyaman.

Yang membuat perilaku ini berbahaya adalah karena seringkali tak terlihat jelas. Misalnya kita sering bicara ke diri sendiri, “Udah lah, nanti aja dikerjainnya, kamu kan capek.”, “Kayaknya proyek itu terlalu besar buat kamu deh.” “Dia cuma pura-pura suka kok.”

Pada akhirnya, suara itu pelan-pelan menggerogoti kemampuan kita yang sebenarnya hingga kita tertahan di tempat yang sama sebelum mencoba. Pola perilaku ini bahkan seperti lingkaran setan yang sulit diurai kalau tidak segera disadari. Sebab, self-sabotage cenderung menciptakan siklus yang berulang.

Katakanlah kita ingin mencapai sesuatu, tapi kita takut gagal. Lalu, kita menundanya dan hasilnya buruk. Kita jadi kecewa dan menyalahkan diri sendiri. Rasa takut akan semakin kuat dan membuat kita semakin ingin menunda tugas-tugas lainnya. Siklus itu akan terus berulang kalau kita nggak segera memutusnya dengan kesadaran sendiri. 

Siklus itu terus berjalan, sampai akhirnya kita mulai percaya bahwa “aku memang nggak bisa berubah”. Padahal, yang membuat kita gagal bukan karena tidak mampu, tapi karena kita tidak memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhasil.

Bagaimana Cara Keluar dari Pola Self-Sabotage?

Melepaskan diri dari pola ini bukan perkara yang mudah tentu saja karena biasanya dorongannya sudah tertanam dalam bawah sadar dan dibungkus rasa aman semu. Tapis, bukan berarti hal yang mustahil ya, HEALMates. Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk keluar dari siklus perilaku self-sabotage ini.

1. Sadari Polanya

Langkah pertama adalah mengenali kapan kamu melakukan sabotase terhadap diri sendiri. Apakah kamu sering menunda pekerjaan atau tanggung jawab? Meremehkan kemampuan diri sendiri ? Atau menarik diri saat sesuatu berjalan baik? Dengan menyadarinya, itu jadi kunci awal untuk bisa berubah.

2. Tanyakan “Kenapa?”

Setiap kali kamu merasa ingin menyerah atau menunda, coba deh tanyakan pada diri sendiri,  “Kenapa aku ingin melakukan ini?” Mungkin ada rasa takut, rasa tidak layak, atau pengalaman masa lalu yang masih menghantui.

3. Ubah Mindset tentang Diri Sendiri

Selanjutnya, kamu perlu mengubah pola pikir tentang diri sendiri. Alih-alih berkata “Aku bodoh banget,” cobalah ubah jadi “Nggak apa-apa, aku sedang belajar.” Daripada bilang “Aku nggak pantas sukses,” kamu bisa mengubahnya jadi “Aku layak berproses menuju sukses.” Bahasa yang kita gunakan pada diri sendiri sangat menentukan bagaimana otak kita merespons dunia luar lho, HEALMates.

4. Kelola Sikap Perfeksionisme

Mungkin kita perlu menyadari bahwa lebih baik selesai tapi tidak sempurna daripada sempurna tapi tidak selesai. Maksudnya, bukan berarti kita sudah berekspektasi hasilnya nggak akan bagus, ya. Tapi, kita perlu memahami bahwa sekecil apapun progress tetaplah progress, ada perkembangan yang kita harus apresiasi. 

5. Nggak Apa-Apa Gagal tapi Mau Belajar

Gagal itu bagian dari hidup ya, HEALMates. Jadi, jangan pernah takut untuk gagal. Kalau kamu gagal, bukan berarti duniamu berhenti, kok. Cobalah untuk terus belajar melihat kegagalan sebagai sebuah proses dan motivasi untuk berkembang.

6. Cari Bantuan Profesional atau Orang Terpercaya

Pada beberapa kasus yang serius, akar self-sabotage berasal dari luka lama yang nggak bisa kita hadapi sendirian. Jadi, kalau kamu merasa bahwa ini bukan lagi sekadar masalah perilaku yang bisa dihadapi seorang diri, kamu mungkin perlu konsultasi dengan psikolog atau profesional lainnya. Dengan begitu, kamu bisa lebih memahami dari mana semua ini berasal dan bagaimana menanganinya dengan tepat.

Jangan Batasi Kesuksesan Diri Sendiri

Self-sabotage bukan tanda bahwa kamu lemah atau malas. Seringkali, perilaku ini adalah bagian dari bentuk perlindungan diri. Hanya saja dengan cara yang keliru.

Mungkin dulu kamu sering disalahkan, jadi sekarang kamu takut disalahkan lagi. Mungkin dulu kamu jarang dipuji, jadi kini kamu sulit percaya saat orang bilang kamu hebat. Mungkin dulu kamu belajar bahwa gagal itu memalukan, jadi kamu memilih untuk tidak mencoba.

Kabar baiknya, pola itu bisa diubah kok, HEALMates. Jadi, mulailah berkata pada diri sendiri, “Kamu bisa kok, yuk coba dulu!” Karena pada akhirnya, lawan dari self-sabotage bukan kesempurnaan, tapi penerimaan dan usaha untuk bangkit perlahan. Kadang yang kita butuhkan bukan motivasi besar, tapi keberanian kecil untuk berhenti melawan diri sendiri dan bergerak maju. Jangan sampai kita jadi penghalang kesuksesan kita sendiri ya, HEALMates. (RIW)

Bagikan :
Self-Sabotage, Ketika Musuh Terbesar Justru Diri Sendiri

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa