Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Lahir dan Tumbuh di Era Digital, Inilah Keunikan Gen Gen Alpha 

Lahir di Era Digital, Inilah Keunikan Gen Alpha

Oleh :

Ada momen reflektif yang mungkin sering dirasakan para milenial yang sekarang tengah membesarkan anak-anak Generasi Alpha (Gen Alpha). Dulu, waktu kecil, kita main petak umpet sampai Magrib, jari kotor karena tanah, dan dimarahi ibu karena belum mandi padahal sudah sore. Sekarang, anak-anak kita yang masuk kategori Gen Alpha justru asyik main Minecraft, Roblox, atau nonton YouTube sambil makan cemilan. Dunia mereka tak lagi di lapangan, tapi di layar.

Lucunya lagi, milenial yang dulu bangga jadi “digital natives” karena kenal Friendster (FS) dan BBM, kini agak gagap menghadapi anak-anak yang bisa pakai iPad bahkan sebelum lancar baca. Rasanya aneh sekaligus takjub ya, HEALMates. Kita sedang membesarkan generasi yang lahir di dunia digital, bukan sekadar belajar menyesuaikan diri dengan teknologi ini. Yuk, kita kenali lebih dalam seperti apa Gen Alpha dan keunikannya dalam artikel berikut ini. 

Siapa Sebenarnya Gen Alpha?

Gen Alpha adalah generasi yang lahir sekitar tahun 2010 hingga pertengahan 2024-an. Mereka bisa jadi adalah anak-anak dari para milenial yang kini berusia 30-an. Mereka adalah generasi pertama yang seluruh masa kecilnya terjadi di tengah revolusi digital, gadget, streaming, AI, dan media sosial bukan sekadar alat bantu, tapi bagian dari keseharian. 

Istilah Gen Alpha pertama kali diperkenalkan oleh demografer asal Australia bernama Mark McCrindle, yang ditujukan untuk menyebut kelompok anak-anak yang sepenuhnya lahir di abad ke-21. Disebut “Alpha” karena mereka hadir setelah Generasi Z. Mereka juga menjadi penanda dimulainya babak baru dalam urutan alfabet Yunani sekaligus membuka siklus generasi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Kalau generasi sebelumnya (Gen Z) masih mengalami masa tanpa smartphone, Gen Alpha tidak pernah tahu seperti apa dunia tanpa layar sentuh dan koneksi Wi-Fi. Mereka benar-benar lahir di era TikTok, sekolah daring, dan YouTube Kids. Mungkin dalam dunia mereka, Google lebih cepat menjawab daripada orang tua sendiri.

Menurut penelitian McCrindle, Gen Alpha diprediksi akan menjadi generasi terdidik, paling terhubung, dan paling sadar teknologi dalam sejarah manusia. Tapi di balik kecanggihan itu, para psikolog juga mulai mengamati risiko lain. Agaknya, selalu ada harga yang harus dibayar untuk tumbuh dalam dunia serba digital.

Keunikan Gen Alpha “Digital Natives Sejati” 

Bisa dibilang anak-anak Gen Alpha adalah “digital natives sejati”. Mereka tumbuh dengan kemampuan adaptasi luar biasa terhadap teknologi. Kalau kita perhatikan, anak-anak ini bahkan bisa mencari tutorial di YouTube untuk hal-hal yang bahkan belum mereka pelajari di sekolah.

Bagi mereka, “belajar” bukan lagi lewat buku teks, tapi lewat video interaktif, game edukatif, dan percakapan AI. Yes, AI!

Ada satu hal yang hampir semua orang tua milenial akui adalah anak-anak Gen Alpha itu pintar luar biasa, tapi kadang bikin geleng-geleng kepala. Cepat, cerdas, tapi mudah bosan. Mereka bisa ngulik fitur baru di tablet tanpa diajari, tahu lagu viral di TikTok sebelum kita sadar lagunya populer, dan bisa menjelaskan fungsi AI seperti sedang presentasi startup. Tapi di sisi lain, mereka juga bisa ngambek gara-gara koneksi Wi-Fi lemot atau baterai tablet habis di tengah video favoritnya. 

Bagi generasi milenial yang dulu sabar banget nunggu ringtone polifonik diunduh lewat GPRS, kebiasaan ini bisa bikin gemas sekaligus heran, kok bisa mereka begitu cerdas, tapi juga begitu tak sabar? Inilah yang bikin Gen Alpha unik. 

Namun, keunikan Gen Alpha bukan cuma soal teknologi. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan kesadaran diri dan empati yang tinggi lho, HEALMates. Kalau dulu kita lebih suka diam dan jarang ngobrolin suasana hati dengan orang tua, lain halnya dengan Gen Alpha. Mereka cenderung terbuka soal perasaan.  Anak-anak ini bisa bilang “aku lagi cemas” atau “aku butuh waktu sendiri” dengan jujur, sesuatu yang mungkin dulu terdengar tabu bagi kita. Mereka juga punya rasa ingin tahu yang besar, cepat menangkap tren global, dan tidak ragu mengungkapkan pendapat, bahkan kepada orang dewasa. 

Kadang memang bikin geregetan, apalagi saat mereka berdebat logis dengan gaya “Google berkata begitu, Ma!”. Tapi, di balik itu, mereka sedang menunjukkan cara baru melihat dunia, kritis dan berani.

Namun, menurut paparan digital sejak dini ini punya dua sisi ya, HEALMates. Di satu sisi, mereka memiliki kemampuan berpikir visual dan analitis yang tinggi. Tapi di sisi lain, rentang fokus mereka jadi jauh lebih pendek alias cepat bosan. Generasi ini terbiasa dengan informasi cepat dan hiburan instan, seperti lima detik pertama video menentukan apakah mereka lanjut atau skip.

Sisi Psikologis Gen Alpha

Beberapa psikolog menyebut fenomena ini sebagai “dopamine-driven culture”, di mana kepuasan instan menjadi standar. Anak-anak Gen Alpha akan sangat bosan  jika sesuatu tidak memberikan stimulasi segera, entah itu pelajaran di sekolah, aktivitas rumah, atau bahkan interaksi sosial. 

Kalau dilihat sekilas, Gen Alpha tampak ceria dan ekspresif di media sosial. Tapi banyak penelitian justru menunjukkan bahwa mereka menghadapi tantangan emosional yang serius. Salah satunya yakni menurut laporan dari Therapist.com (2023). Dalam laporan tersebut, anak-anak Gen Alpha memiliki tingkat kecemasan sosial dan kelelahan digital yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya di usia yang sama. Mereka terhubung dengan dunia luas, tapi kadang merasa lebih kesepian.

Media sosial dan game daring membuat mereka mudah membandingkan diri dengan orang lain, bahkan sejak kecil. Kalau ini terus terjadi bisa-bisa akan ada perasaan “nggak cukup keren”, “nggak sepintar mereka”, atau “nggak sebaik influencer itu.” Padahal, mereka masih di fase membangun identitas diri dan pasti punya potensi masing-masing. Perbandingan sosial ini akan terus menggerus kepercayaan diri anak. Jika tidak ditangani dengan bimbingan yang hangat dari orang tua, pola ini bisa berkembang menjadi perfeksionisme, overthinking, atau bahkan self-sabotage di usia remaja nanti.

Cermin untuk Orang Tua Milenial

Sebagai orang tua dari Gen Alpha, para milenial menghadapi dilema yang unik.  Di satu sisi, kita ingin anak-anak tumbuh melek teknologi, tapi di sisi lain kita juga ingin mereka tetap punya masa kecil yang “nyata”. Kita ingin mereka jadi kreatif dan mandiri, tapi takut kalau mereka terlalu larut di dunia digital yang juga punya risiko.

Kalau kata psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi (Kak Seto) dalam wawancara di salah satu media, “Dunia anak sekarang memang berbeda, tapi kebutuhan emosionalnya tetap sama, cinta, perhatian, dan pendampingan.”

Teknologi boleh saja jadi jembatan, tapi tidak bisa menggantikan pelukan, tatapan mata, dan percakapan hangat di meja makan. Itu sebabnya, banyak pakar menyarankan agar orang tua tidak melarang teknologi, tapi mendampingi penggunaannya. Alih-alih bilang “jangan main HP!”, mungkin kita bisa bilang “kita main bareng di HP.” Karena bagi anak Gen Alpha, layar bukan sekadar hiburan, tapi sudah jadi ruang sosial mereka.

Mendidik Gen Alpha di Era Serba Digital

Mengutip dari Psychology Today, ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan untuk menghadapi Gen Alpha agar tumbuh kembangnya tetap sehat. Sebagai orang tua, kita mungkin bisa melakukan beberapa tips berikut.

1. Batasi tanpa Melarang

Anak Gen Alpha memang butuh aturan yang jelas, tapi mereka juga butuh kepercayaan. Jadi, dibanding melarang total mereka untuk bermain gadget, kita bisa memberikan batasan. Coba tetapkan waktu bermain gadget yang jelas dan libatkan anak atau diskusikan untuk menentukan waktunya. Dengan membuat kesepakatan, anak juga jadi tahu arti tanggung jawab.

2. Bangun Literasi Digital dan Emosional

Literasi digital adalah kunci bagaimana kita bisa mendidik Gen Alpha yang cukup unik ini. Kita bisa mengajarinya untuk membedakan informasi yang benar dan palsu, serta bagaimana mengekspresikan emosi secara sehat, baik di dunia nyata maupun digital.

3. Fasilitasi Kreativitas Digital

Biarkan mereka mencipta dan berkreasi sehingga mereka tidak hanya sekadar mengonsumsi. Sebagai orang tua, kita juga bisa nih membuatkan mereka kanal vlog, desain game, atau animasi sederhana yang cocok untuk usia mereka.

4. Tumbuhkan Empati dan Koneksi yang Nyata

Selain membersamai mereka dalam aktivitas online, kita juga perlu menyeimbangkan mereka untuk melakukan aktivitas nyata secara offline. Misalnya, main bersama teman, kegiatan komunitas, atau sekadar jalan-jalan bareng keluarga.

Mungkin kita sering khawatir anak-anak kita terlalu bergantung pada layar, tapi jangan lupa mereka lahir di dunia yang berbeda dengan kita. Jika milenial adalah generasi yang beradaptasi dengan teknologi, maka Gen Alpha adalah generasi yang dibentuk oleh teknologi itu sendiri. Nah, tugas kita bukan menjauhkan mereka dari dunia digital, tapi menuntun mereka agar tetap manusiawi di tengah kecanggihan teknologi. Sebab, tidak peduli seberapa canggih algoritma yang mereka temui, anak-anak ini tetap membutuhkan satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yakni kehadiran dan kasih sayang yang nyata dari orang tuanya. Jadi, pastikan kehadiran kita tetap utuh untuk membersamai tumbuh kembang mereka ya, HEALMates. (RIW)

Bagikan :
Lahir di Era Digital, Inilah Keunikan Gen Alpha

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa