Beberapa tahun terakhir, kita makin sering mendengar istilah seperti “data adalah minyak baru”, “data adalah aset”, atau “you are the product”. Apa sih maksudnya, HEALMates?
Ternyata, segala aktivitas digital kita, apa yang kita dengar, baca, belanja, atau klik menghasilkan jejak, lho. Jejak inilah yang kemudian jadi data kita. Data-data ini nantinya diolah oleh platform-platform besar seperti media sosial, aplikasi, layanan streaming dan lain-lain untuk berbagai keperluan bisnis mereka.
Saat berselancar di dunia maya, kita mungkin nggak terpikir sampai ke sana ya, HEALMates. Betapa pentingnya jejak kita di dunia digital. Masalahnya adalah bagaimana jika data kita dijual? Data kita jadi komoditas yang bisa diperdagangkan, bukan cuma diambil dan dimonetisasi diam-diam oleh pihak platform.
Kalau HEALMates penasaran bagaimana praktiknya di industri nyata? Yuk, kita kupas lebih dalam mengenai data sebagai komoditas di dunia serba digital ini.
Konflik Penjualan Data Spotify vs Unwrapped
Sebagai contoh untuk lebih memahami bagaimana data menjadi sebuah komoditas di dunia digital, kita bisa lihat kasus yang baru-baru ini ramai diperbincangkan, yakni Konflik Spotify vs Unwrapped/ Vana. Konflik kedua perusahaan teknologi ini bisa jadi contoh nyata bagaimana batasan antara hak pengguna dan kekuasaan platform bisa saling tarik menarik.
HEALMates tentu sudah tidak asing dengan Spotify. Perusahaan ini menyediakan layanan streaming musik, podcast, dan konten audio digital yang berbasis di Stockholm, Swedia. Platform ini memungkinkan penggunanya mendengarkan jutaan lagu dan episode podcast secara legal, baik secara gratis dengan iklan maupun berbayar melalui paket Spotify Premium.
Sementara itu, Vana adalah platform berbasis data dan blockchain yang memungkinkan pengguna mengorganisasi data mereka sendiri dalam model kolektif, memberi kontrol lebih pada pemilik data atas bagaimana data mereka diakses atau digunakan. Adapun Unwrapped (atau Unwrapped DAO/UnwrappedData) adalah proyek yang dijalankan Vana, di mana pengguna Spotify bisa “mem-pool” atau menyimpan data streaming mereka, misalnya, history lagu yang didengarkan, preferensi artis, dan lain-lain ke dalam kolektif. Nah, data ini kemudian dijual kepada pengembang AI atau pihak ketiga lainnya.
Menurut beberapa sumber, sekitar 1.000 pengguna Unwrapped menyetujui penjualan data mereka ke platform Solo AI senilai US$55.000 dalam kesepakatan awal. Setiap pengguna nantinya akan mendapatkan sekitar US$5 dalam bentuk token kripto sebagai imbalannya.
Sementara itu, Unwrapped kini telah menggaet lebih dari 18.000 pengguna Spotify untuk bergabung dalam kolektif tersebut. Jadi, bagi pihak mereka ini bukan sekadar “ambil data pengguna tanpa izin”. Akses ini lebih ke upaya pengguna untuk “memiliki kembali” data mereka dan mengubah data menjadi aset yang mereka bisa manfaatkan secara bersama.
Akan tetapi, Spotify merespons proyek Unwrapped dengan tegas. Mereka menyebut bahwa Unwrapped melanggar Developer Terms mereka yang melarang pengumpulan, agregasi, dan penjualan data pengguna ke pihak ketiga. Spotify juga memperingatkan bahwa nama Unwrapped bisa melanggar merek dagang atau asosiasi dengan fitur Wrapped mereka (fitur tahunan Spotify yang menampilkan ringkasan aktivitas mendengarkan pengguna). Dengan tegas Spotify menyatakan bahwa penggunaan data dalam model seperti Unwrapped bertentangan dengan kebijakan developer mereka.
Spotify dikabarkan telah mengirim surat peringatan ke pengembang Unwrapped agar menghentikan operasi tersebut. Namun, tim Unwrapped menyebut bahwa mereka belum menerima surat resmi dari Spotify. Jadi konflik ini bukan hanya soal teknis atau teknologinya, melainkan juga kontrak, merek dagang, hak kepemilikan data, dan ekosistem platform.
Data sebagai Komoditas Baru
Terlepas dari konflik Spotify–Unwrapped, kita bisa melihat bagaimana data menjadi komoditas baru, terutama di ekosistem teknologi ya, HEALMates. Harus diakui bahwa kita telah mengalami pergeseran cara dalam memandang data, hak digital, dan model bisnis sebuah platform.
Agaknya benar ungkapan yang menyatakan “Siapa yang punya data, dialah yang berkuasa.” Selama ini, kebanyakan platform mengklaim bahwa ketika kita menggunakan aplikasi mereka, data aktivitas kita menjadi bagian dari “aset” mereka. Dalam praktiknya, kita memberi izin melalui kebijakan privasi atau syarat layanan agar platform itu bisa mengumpulkan, menganalisis, dan memonetisasi sebanyak mungkin data kita, baik secara sadar maupun tanpa sadar.
Bagi perusahaan teknologi, data kita seperti bahan baku. Mereka bisa melakukan inovasi dan mengembangkan bisnis dari perilaku kita. Di satu sisi, mungkin pengguna bisa menikmati pengalaman yang lebih personal karena riwayat jelajah kita telah terbaca oleh platform. Tapi di sisi lain, ini bisa jadi berdampak negatif pada pengguna jika data diperjual belikan secara tidak bijak.
Model bisnis raksasa teknologi seperti Google, Meta, TikTok, Spotify, dan Amazon memang sebagian besar dibangun di atas data. Data memungkinkan mereka menjual ruang iklan yang tepat sasaran, merancang strategi pemasaran yang efisien, dan membuka peluang bisnis baru
Data bahkan bisa diolah jadi “emas digital” lho, HEALMates. Dengan analitik yang tepat, data mentah bisa berubah jadi insight bernilai tinggi. Semakin banyak data, semakin tajam prediksi dan strategi yang bisa dibuat. Itu sebabnya data dianggap setara dengan komoditas strategis.
Kasus Spotify vs Unwrapped memperlihatkan bagaimana data pribadi yang selama ini kita hasilkan diam-diam di platform digital ternyata punya nilai ekonomi yang bisa diperjualbelikan. Tak hanya itu, bahkan bisa memicu tarik menarik antara hak pengguna dan kepentingan perusahaan.
Dampak Penggunaan Data sebagai Komoditas
Munculnya data sebagai komoditas ini punya dampak yang luas, baik positif maupun negatif, ya HEALMates. Jika dilihat dari sisi positifnya, beberapa dampak yang kita terima dari hal ini antara lain sebagai berikut.
- Pengalaman yang Lebih Personal
Data membuat layanan digital semakin relevan. Jadi, nggak heran kalau HEALMates mendengarkan musik dan yang muncul di list rekomendasinya adalah lagu-lagu yang kita rasa “kita banget” atau “relate dengan suasana hati kita”. Spotify bisa merekomendasikan musik sesuai selera dan e-commerce bisa menawarkan produk yang memang kita butuhkan.
- Munculnya Peluang Bisnis Baru
Pemanfaatan data dalam industri juga memunculkan peluang bisnis baru. Industri analitik data, kecerdasan buatan, hingga pemasaran digital, bisa berkembang pesat.
- Pemberdayaan Pengguna
Konsep baru seperti data collectives (kolektif data) mungkin saja memberikan peluang bagi pengguna untuk ikut menikmati keuntungan yang diberikan perusahaan besar.
Meski begitu, kita juga tidak boleh menutup mata dari dampak negatif yang mungkin terjadi ya, HEALMates. Beberapa di antaranya yakni:
- Privasi Terancam
Ini adalah dampak negatif paling umum dari jual beli data ya, HEALMates. Semakin banyak data dikumpulkan dan diperdagangkan, semakin besar risiko penyalahgunaan. Data pribadi bisa bocor, diretas, atau dipakai untuk manipulasi perilaku.
- Ketimpangan Nilai Ekonomi
Saat ini, kebanyakan nilai dari data dinikmati perusahaan besar. Pengguna sering hanya “dibayar” dengan akses gratis, padahal data mereka bisa menghasilkan keuntungan miliaran.
- Eksploitasi dan Manipulasi Konsumen
Data memungkinkan iklan dan rekomendasi yang sangat personal, kadang terlalu personal hingga membuat kita jadi konsumtif tanpa sadar.
- Penyalahgunaan Politik dan Sosial
Skandal seperti Cambridge Analytica menunjukkan bagaimana data bisa dipakai untuk mempengaruhi opini publik dan hasil pemilu. Ini juga yang beberapa waktu terjadi di mana data pribadi dari Indonesia ditransfer ke Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari kesepakatan dagang kedua negara.
Itulah pembahasan mengenai data sebagai komoditas baru di era di digital saat ini, HEALMates. Pada akhirnya, kita sebagai pengguna harus mulai melek data. Tentu saja, seharusnya kita jadi lebih bijak dalam meninggalkan jejak di platform online. Dengan begitu, kita tidak hanya jadi produk gratis perusahaan teknologi, tetapi juga punya kendali atas aset paling berharga yang kita miliki di era ini. Yep, apalagi kalau bukan “data kita sendiri.” (RIW)

