Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Anak Habiskan Belasan Juta di Game dan Media Sosial? Begini  Penjelasan Psikologisnya

Anak Habiskan Belasan Juta di Game dan Media Sosial? Begini Penjelasan Psikologisnya

Oleh :

Kenapa anak tiba-tiba bisa “membuang” jutaan rupiah untuk top up game atau beli koin TikTok? apa yang bisa orang tua lakukan?

Permainan game online memang banyak disukai, terutama oleh anak-anak dan remaja. Namun, alih-alih sekadar hiburan, banyak juga fenomena anak-anak dan remaja yang tiba-tiba menghabiskan uang jutaan bahkan hingga belasan juta rupiah untuk top up. Tak ayal, hal ini pun menimbulkan keresahan dan kekhawatiran bagi orang tua. Kenapa hal ini bisa terjadi? Yuk, kita ulas lebih dalam di artikel ini, HEALMates!

Game Online dan Kekhawatiran Orang Tua

Beberapa waktu lalu, diberitakan juga oleh salah satu media di mana seorang ibu asal Kediri, Jawa Timur, terkejut ketika tagihan telepon pascabayarnya mencapai Rp11.548.829. Rupanya, tagihan tersebut berasal dari game yang dimainkan anaknya. Sang anak membeli “diamond” di beberapa game seperti Free Fire, Mobile Legends, dan Minecraft. Cerita ini pun sempat viral di media sosial dan menjadi peringatan keras bagi orang tua untuk aware terhadap aktivitas bermain anaknya. 

Fenomena ini memang semakin nyata seiring dengan kemudahan akses smartphone dan e-wallet, sementara pengawasan orang tua seringkali longgar. Tak hanya itu, tren membeli koin virtual di platform seperti TikTok untuk mendukung kreator juga kerap membuat anak-anak juga ikut-ikutan beli. Bahkan, kadang kala dalam jumlah yang besar. Kemajuan digital memungkinkan mereka bisa melakukan pembelian item game maupun isi koin media sosial tanpa persetujuan orang tua. Tahu-tahu saldo orang tua anjlok atau ada tagihan tidak wajar yang masuk. 

Desain Game Bikin Ketagihan Top Up

Jika dilihat dari sisi desain game atau platform live/social commerce, keduanya sama-sama menggunakan teknik desain perilaku yang sangat efektif. Mereka memberi imbalan acak (loot boxes atau gacha), waktu yang limit (limited offer), dan sosial proof (teman dapat item keren kamu juga ingin). Mekanisme imbalan acak ini bekerja selayaknya mesin slot mini, di mana kadang pemainnya bisa dapat hadiah yang keren, tapi juga kadang tidak mendapatkan apa-apa sehingga mereka ingin terus mencoba. 

Dulu, video game biasanya dibeli sekali untuk dimainkan selamanya tanpa batas waktu khusus. Kini, game lebih banyak berfungsi sebagai layanan gratis namun dilengkapi sistem “loot box” dan microtransactions. Desain inilah yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pembelian dalam aplikasi sehingga developer akan menghasilkan keuntungan. 

Menurut laporan Federal Trade Commission (FTC) yang dilansir dari Forbes, loot box telah menjadi topik perhatian baik di tingkat nasional maupun internasional karena dianggap mendorong perilaku mirip judi. Desain ini menggunakan taktik tertentu yang bisa menumbuhkan kebiasaan konsumtif dan adiktif, termasuk pada game yang ditujukan untuk anak-anak.

Di Indonesia, model “top up” koin game atau pembelian koin/emoji di live stream memang sudah familiar. Sistem pembayarannya bisa dilakukan dengan mudah, seperti dengan kartu kredit orang tua atau lewat saldo dompet digital. Karena itulah, banyak anak-anak yang bisa mengakses pembelian ini dengan sangat mudah. Ada banyak contoh media yang memberitakan orang tua shock karena tagihan belasan hingga ratusan juta akibat pembelian in-app oleh anak. 

Memahami Otak Anak hingga Remaja

Jika kita tarik lebih dalam dari sisi neuropsikologis, perkembangan otak remaja dan anak-anak memang belum memiliki kontrol impuls sekuat orang dewasa. Berdasarkan penelitian ilmiah dalam Journal of Clinical Medicine disebutkan bahwa korteks prefrontal atau area yang menangani perencanaan jangka panjang dan pengendalian diri pada kategori usia ini belum matang. 

Sementara itu, sistem reward atau bagian yang memproses kesenangan dari hadiah masih sangat responsif dan mendominasi otak mereka. Kombinasi inilah yang kemudian membuat mereka lebih rentan terhadap “insentif” yang dirancang untuk memicu pembelian berulang pada game maupun media sosial. 

Jadi, ketika game menawarkan hadiah langka lewat gacha atau streamer memantik emosi mereka lewat gift/leaderboard, otak remaja akan merespons hal itu dengan sangat kuat sehingga mereka tidak akan lagi mempertimbangkan konsekuensi finansial. 

Dorongan Sosial dan Status Digital 

Di era media sosial, identitas juga dibangun lewat aset digital. Misalnya, punya skin langka di game, emoji atau stiker di livestream bisa memberikan status sosial tersendiri. Bagi anak-anak, hal ini akan dipandang sebagai hal yang keren. Mereka bisa membanggakannya di komunitas game yang mereka ikuti. 

Karena itulah, mereka selalu ingin upgrade game yang mereka  miliki.  Apalagi, sistem pembayarannya sangat mudah bahkan hanya tinggal klik atau tap sehingga akan membuat mereka semakin terdorong untuk terus top up. 

Dampak Psikologis

Konsekuensi yang akan diterima dari perilaku kecanduan top up game atau media sosial ini tentunya bukan cuma finansial. Lebih dari itu, hal ini juga bisa berdampak pada psikologis mereka. Anak yang menyadari bahwa mereka telah “menguras” tabungan keluarganya bisa merasa bersalah, cemas, atau menutup-nutupi perbuatannya. 

Selain itu, perilaku pembelian yang berulang dan sulit dikontrol juga berpotensi berkembang jadi masalah perjudian di masa depan menurut beberapa studi. Tidak jarang juga orang tua melaporkan konflik rumah tangga, stres ekonomi, dan trauma kecil, apalagi jika ada pembelian dalam jumlah besar tanpa persetujuan mereka.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Fenomena anak yang bisa menghabiskan uang jutaan bahkan ratusan juta untuk game online atau media sosial bukan sekadar soal “nakal” atau “bandel”. Ada faktor psikologis, sosial, bahkan desain game yang memang sengaja mendorong anak untuk terus membeli. Jadi, apa langkah konkret yang bisa dilakukan orang tua? Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasinya.

1. Bangun Komunikasi dengan Anak

Mulailah dari ngobrol santai tentang game yang dimainkan anak. Tanyakan kenapa mereka suka, apa yang bikin seru, item apa yang diincar. Hindari langsung marah saat tahu anak top up tanpa izin. Kalau anak merasa dihakimi, mereka cenderung sembunyi-sembunyi.

2. Ajari Anak tentang Nilai Uang

Jelaskan bahwa diamond di game atau koin TikTok sama seperti uang nyata. Coba kasih contoh, “Diamond 50 ribu ini sama dengan uang jajanmu seminggu, atau setara harga buku cerita baru”. Anak jadi punya gambaran bahwa transaksi digital bukan sekadar angka di layar.

3. Gunakan Fitur Parental Control

Gunakan fitur parental control untuk membatasi dan mengawasi penggunaan game. Orang tua bisa mengatur perangkat yang digunakan anak dengan langkah-langkah berikut ini. 

a. Aktifkan Parental Control di Google Play Store

  • Buka aplikasi Google Play Store.
  • Ketuk ikon profil di pojok kanan atas.
  • Pilih Setelan > Keluarga > Kontrol orang tua.
  • Geser tombol aktifkan kontrol orang tua ke posisi ON.
  • Buat PIN (pastikan hanya orang tua yang tahu).
  • Atur batasan konten sesuai usia anak:
  • Aplikasi & game (atur sesuai rating umur).
  • Film & serial.
  • Musik (bisa blokir konten eksplisit).

b. Batasi Pembelian Aplikasi/ In-App Purchase

  • Masih di Google Play Store, buka Setelan > Autentikasi.
  • Pilih Wajibkan autentikasi untuk semua pembelian.
  • Masukkan password akun Google setiap kali anak mencoba beli aplikasi atau top up.

c. Gunakan Aplikasi Google Family Link

  • Unduh Google Family Link di ponsel orang tua dan anak.
  • Ikuti instruksi untuk hubungkan akun Google anak ke akun orang tua.
  • Dari aplikasi Family Link, orang tua bisa mengatur batas waktu layar hingga menyetujui atau menolak permintaan download/pembelian.

4. Buat Aturan Budget Digital

Alih-alih melarang total, orang tua bisa memberi anak “jatah” top up bulanan yang kecil, misalnya Rp20.000–Rp50.000. Biarkan anak belajar memilih, mau beli skin sekarang atau simpan untuk beli item lain bulan depan. Dengan begitu, orang tua bisa melatih anak mengelola uang dan menunda keinginan (self-control).

5. Jangan Simpan Data Kartu di HP Anak

Jangan hubungkan kartu kredit atau e-wallet tanpa pengawasan di perangkat yang digunakan anak. Kalau mau kasih akses, gunakan saldo terbatas di e-wallet supaya aman.

6. Awasi dan Diskusikan

Sesekali duduk bareng saat anak main game atau nonton live TikTok. Dari situ, orang tua bisa lebih paham mekanisme “pancingan” top up dan bisa berdiskusi dengan anak tanpa terkesan sok tahu dan menekan. 

Melarang total mungkin terdengar mudah, tapi di era digital larangan ini bisa bikin anak memberontak. Sebaliknya, orang tua bisa mengajari anak nilai uang, membangun kontrol diri, dan menata sistem pembayaran serta pengawasan yang dapat mencegah pembelian di luar kontrol. (RIW)

Bagikan :
Anak Habiskan Belasan Juta di Game dan Media Sosial? Begini Penjelasan Psikologisnya

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa