Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

#KaburAjaDulu dan Tekanan Sosial: Mengapa Banyak Anak Muda Ingin Hijrah?

Hastag Kabur Aja Dulu dan Tekanan Sosial

Oleh :

HEALMates tentu sudah familiar dengan fenomena ini. Apalagi, kalau kamu kerap berselancar di media sosial. Fenomena #KaburAjaDulu ini bukan hanya sekadar tren digital, melainkan refleksi dari keinginan generasi muda untuk “lari” dari realita hidup yang mereka anggap menekan atau bahkan untuk menyongsong kehidupan yang dirasa lebih baik.

Alih-alih melakukan introspeksi dan memahami keresahan generasi muda, respons pemerintah terhadap fenomena ini terkesan kurang serius. Bahkan, pernyataan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer yang menyebut, “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi,” justru menimbulkan kontroversi.

Pernyataan semacam itu bisa memberi kesan bahwa isu ini dianggap sepele, padahal potensi dampaknya sangat besar. Fenomena keinginan hijrah atau #KaburAjaDulu tidak bisa dipandang sekadar tren media sosial. Jika diabaikan, hal ini bisa berujung pada brain drain, yakni migrasi sumber daya manusia (SDM) berkualitas ke luar negeri.

Bukan tidak mungkin, kelompok terdidik dan profesional muda benar-benar memilih pindah karena merasa ada alasan logis: mulai dari peluang kerja, kesejahteraan, hingga kualitas hidup yang lebih baik di negara lain.

Nah, pertanyaan penting yang lantas muncul adalah mengapa banyak anak muda merasa ingin hijrah ke luar negeri, baik secara fisik maupun secara emosional?

Oleh karena itu, artikel ini akan membahas mengenai fenomena #KaburAjaDulu, dan kaitannya dengan faktor sosial-ekonomi, budaya digital, hingga dampak pada kesehatan mental generasi muda Indonesia.

Tekanan Sosial dan Mentalitas Generasi Muda

Hastag Kabur Aja Dulu dan Tekanan Sosial
Source: Highwaystarz

Ngomongin generasi muda, HEALMates mungkin termasuk salah satunya yakni Generasi Milenial dan Generasi Z. Meski ada rentang jarang yang cukup jauh, namun kedua generasi inilah yang saat ini menjadi generasi muda saat ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan serba cepat dengan tuntutan yang luar biasa tinggi, mulai dari standar akademis, tuntutan finansial, hingga tekanan gaya hidup yang dipopulerkan media sosial.

Mereka dituntut untuk memiliki pendidikan tinggi, karier cemerlang, sekaligus kehidupan personal yang ideal. Kalau HEALMates perhatikan, banyak dari mereka yang berlomba-lomba untuk memiliki pencapaian di usia muda. Misalnya, punya uang Rp1 miliar di usia 20 tahun, jadi manajer di usia 25 tahun, punya bisnis di usia 20-an, dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, ini bisa jadi motivasi untuk menyongsong kesuksesan finansial. Namun, bagi sebagian yang lain tren adu cepat kesuksesan ini bisa jadi tekanan sosial yang berdampak pada kesehatan mental. 

Pasalnya, realitas di lapangan seringkali berbeda. Tingginya angka pengangguran terdidik, biaya hidup yang semakin meningkat, hingga keterbatasan kesempatan membuat banyak anak muda merasa terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar.

Tagar #KaburAjaDulu lahir dari rasa frustasi kolektif tersebut. Tagar ini seakan menjadi simbol perlawanan pasif, bukan dengan berteriak, melainkan dengan keinginan untuk pergi, menjauh, atau hijrah dari keadaan yang serba menekan.

Hijrah Fisik dan Emosional

Kabur Aja Dulu dan Tekanan Sosial
Source: Ilustrasi/Freepik

Istilah “hijrah” di sini memiliki dua makna. Pertama, hijrah secara fisik, yakni keinginan untuk pindah ke luar negeri demi mencari kualitas hidup yang lebih baik. Hal ini tercermin dari meningkatnya minat generasi muda Indonesia untuk melanjutkan studi, bekerja, bahkan menetap di luar negeri.

Kedua, hijrah secara emosional dan digital, yakni upaya untuk menarik diri dari lingkungan sosial yang dianggap toksik. Misalnya, mengurangi interaksi dengan teman sebaya, menonaktifkan akun media sosial, hingga memilih gaya hidup lebih tertutup. Kedua bentuk hijrah ini memiliki akar yang sama, yakni beban sosial dan tekanan mental yang dirasakan generasi muda.

Eksodus Digital

Tahukah HEALMates, apa itu eksodus digital? Eksodus digital adalah istilah yang menggambarkan fenomena ketika individu atau kelompok memilih untuk meninggalkan atau menarik diri dari ruang digital, seperti media sosial, platform daring, atau aktivitas online, karena merasa terbebani, jenuh, atau tertekan secara psikologis.

Bagaimana tidak, media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi justru kerap menambah tekanan mental. Agaknya setiap hari kita disuguhi konten tentang kesuksesan orang lain, pencapaian akademis, karier gemilang, hingga gaya hidup mewah. Hal inilah yang lantas memicu social comparison atau perbandingan sosial yang secara sadar maupun tidak sadar seringkali kita lakukan ke diri kita sendiri. Kita kerap merasa hidup kita tertinggal jauh dari standar “ideal” yang ditampilkan di Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, atau X (Twitter).

Dampaknya apa? Kecemasan, depresi, hingga keinginan untuk melarikan diri. Nah, adanya tagar #KaburAjaDulu ini seperti menjadi bentuk eksodus digital, setidaknya dalam pikiran dan percakapan daring, mereka bisa menyalurkan keresahan kolektif yang selama ini terpendam.

Stres Finansial Jadi Akar Masalah

Rasanya tidak bisa dipungkiri bahwa akar masalahnya adalah persoalan finansial. Stres finansial ini bisa dibilang menjadi salah satu pemicu terbesar keresahan anak muda. Biaya hidup yang tinggi, gaji yang stagnan, bahkan sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia membuat banyak generasi muda merasa masa depan mereka suram.

Sebuah survei yang dilakukan Money & Health menunjukkan bahwa 86% masalah kesehatan mental berkaitan dengan keuangan. Artinya, tekanan finansial bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan juga persoalan psikologis.

Keinginan “hijrah” ke luar negeri seringkali berakar dari harapan akan gaji lebih tinggi, fasilitas publik yang lebih baik, peluang kerja yang lebih banyak, serta jaminan masa depan yang lebih terjamin.

Bentuk Coping Mechanism

Jika dilihat dari sisi psikologis, keinginan untuk kabur atau lari adalah salah satu bentuk coping mechanism atau strategi menghadapi tekanan. Menurut Richard S. Lazarus & Susan Folkman (1984)  dalam teori Stress and Coping, Coping adalah upaya kognitif dan perilaku yang terus berubah untuk mengelola tuntutan internal maupun eksternal yang dinilai melebihi sumber daya individu.Artinya, coping mechanism adalah proses aktif seseorang dalam menyesuaikan diri menghadapi stres.

Saat seseorang merasa terjebak dalam situasi yang tidak bisa dikendalikan, otak akan mencari cara paling cepat untuk mengurangi stres, seperti lari dari masalah. Namun, apakah “kabur” adalah sebuah solusi? Tidak selalu. 

Di satu sisi, pergi bisa memberi ruang untuk bernapas, refleksi diri, atau mencari peluang baru. Namun di sisi lain, melarikan diri tanpa menghadapi akar masalah bisa membuat tekanan itu kembali muncul di tempat baru, lho HEALMates.

Karena itu, penting bagi HEALMates dan generasi muda untuk memahami bahwa hijrah tidak hanya soal meninggalkan, tetapi juga soal mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan baru.

Fenomena #KaburAjaDulu seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat dan pemerintah di Indonesia. Sebab, selain tekanan media sosial, fenomena ini juga  merupakan bentuk kekecewaan rakyat terhadap negara atas ketidakstabilan ekonomi-politik di Indonesia.

Daripada menghakimi keinginan anak muda untuk hijrah, kita perlu melihat lebih dalam, apa yang salah dengan sistem sosial, ekonomi, dan budaya kita hingga banyak orang merasa ingin pergi?

Pada akhirnya, solusi tidak hanya terletak pada individu yang harus “kuat”, tetapi juga pada ekosistem masyarakat dan negara yang memberi ruang sehat bagi generasi muda untuk tumbuh. Hijrah boleh jadi pilihan, tapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa dimanapun mereka berada, anak muda Indonesia punya kesempatan untuk hidup dengan sehat, bermakna, dan bahagia. (RIW) 

Bagikan :
Hastag Kabur Aja Dulu dan Tekanan Sosial

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa