Oleh : Meliana Ardiyanti
Masyarakat Indonesia mungkin masih menutup mata ketika membahas gangguan jiwa atau biasa disebut kesehatan mental karena dianggap hal yang tabu. Meski sudah banyak dibicarakan, sayangnya kesehatan mental masih dianggap stigma bagi beberapa orang. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa orang dengan masalah kesehatan mental adalah orang gila atau kerasukan setan . Padahal gangguan kejiwaan adalah kondisi medis di otak . Mengutip dari artikel tersebut, Benny Prawira seorang koordinator komunitas pencegahan bunuh diri Into The Light mengatakan stigma buruk masih mengganjal di Indonesia. Karena hal ini, penderita gangguan jiwa malah merasa terasing dan tidak ada harapan.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional , dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi (Rokom, 2021). Data tersebut menunjukkan bahwa negara Indonesia belum dapat menyelesaikan masalah kesehatan mental secara tepat serta adanya pandemi justru meningkatkan penderita gangguan jiwa, yang jika dibiarkan akan berdampak negatif. Banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seperti faktor genetik, perubahan hormon, hingga pengalaman traumatis, percintaan, pertemanan, keluarga maupun tekanan hidup. Gejala yang timbul yaitu mudah marah, merasa putus asa, rendah diri, merasa cemas dan khawatir yang berlebihan. Kesadaran akan kesehatan mental perlu disadari setiap individu untuk mencegah berbagai dampak negatif yang terjadi.
Menurut WHO diperkirakan 10 hingga 20 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental . Sayangnya hal tersebut tetap terdiagnosis dan terawat. Faktor lainnya adalah adanya perundungan di lingkungan sekolah . Perlu kita ketahui, banyak remaja yang suka merundung temannya karena mereka berbeda atau malah hanya sebagai candaan. Itu membuat korban enggan masuk sekolah, bahkan mengalami depresi . Kesehatan mental juga sering dikaitkan dengan tindakan yang merugikan diri sendiri . Karena banyak remaja yang mengalami gangguan kejiwaan, pasti akan merugikan dirinya sendiri Itu membuat perasaan lega oleh penderita kesehatan mental. Self Harm berarti menyakiti/melukai diri sendiri yang disebabkan oleh tingkat stres tinggi atau depresi . Orang seperti ini sulit mengondisikan gairah untuk menyakiti diri sendiri, mereka melakukannya karena ada kepuasan tersendiri jika sudah tersakiti. Masalah yang mereka alami berasal dari faktor keluarga dan lingkungan pertemanan. Hal itu terjadi secara terus menerus, membuat mereka tidak kuat dan ingin menyerah. Itu yang menyebabkan mereka melakukan tindakan yang merugikan diri mereka sendiri.
Kesehatan Mental Di Indonesia Masih Stigma Darurat
Kok bisa sih? Sering kali, akibat stigma ini orang dengan gangguan mental tertunda dalam mencari pertolongan bahkan hingga tidak ingin mencari pertolongan. Berdasarkan narasumber Measya bahwa stigma Masyarakat terhadap penderita Kesehatan mental, “Tidak sedikit orang yang menganggap penderita gangguan jiwa kurang mendekatkan diri kepada Tuhan dan menganggap mereka mengalami kerasukan. Penderita gangguan jiwa sering kali dianggap lebay atau berlebihan dan juga tidak sedikit yang menaggapinya bohong.Ucapnya _
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pandangan masyarakat terhadap masalah mental masih minim. Saya setuju dengan pernyataan bahwa mereka masih mengira orang dengan gangguan jiwa atau masalah mental kerap kali dikaitkan dengan kerasukan jin, didukunin, lebay, alay atau bahkan gak pernah shalat. Saat menduduki bangku sekolah menengah pertama saya mengalami gangguan emosi. Kerap kali mereka mengira saya sedang mencari perhatian, alay, kerasukan jin di sekolah atau bahkan gila. Beberapa dari mereka menyarankan saya untuk melalukan ruqyah di Ustad. Suatu hari, saya bertemu dengan sosok guru BK yang menyarankan saya untuk menjadi Psikiater untuk mengobati Masalah kejiwaan. Tidak sedikit keluarga, teman, dan menanggapi orang yang mengetahui itu mengira saya orang gila. Padahal, saya pada saat itu memang membutuhkan bantuan medis psikiater atau psikolog anak. Selain minimnya pengetahuan mengenai kesehatan mental, tidak sedikit masyarakat yang masih memikirkan kolot terhadap kesehatan mental seseorang. Hal ini menyebabkan kurangnya Sosialisasi dan edukasi pentingnya kesehatan mental sesorang. Lingkungan beracun , keluarga, kekerasan, atau bahkan trauma menjadi faktor pemicu gangguan mental seseorang.
Selain itu, terdapat juga stigma negatif kuat yang masih beredar di masyarakat berkenaan dengan individu dengan gangguan mental. Hingga saat ini, pasien penderita gangguan mental masih mendapatkan berbagai perlakuan yang tidak baik dan cenderung diskriminatif dari Masyarakat (dikutip dari kumparan), beberapa narasumber akan berbicara bagaimana pandangan Masyarakat Indonesia terkait kesadaran mental yang masih minim.
“Menurut saya ya, masyarakat tuh masih kurang paham dengan kesehatan mental. Mereka tuh mikirnya masih ‘kolot’ gitu, tiap orang depresi atau stress bisa dibilang kurang deket sama tuhan dan karna berpikiran kaya gitu mereka cenderung mengabaikan penderita. Padahal orang yang depresi itu akibat fatalnya, bisa menyebabkan orang meninggal karena itu atau paling parah menyebabkan bunuh diri karena overdosis karena obat-obatan. Jadi, sebenernya permasalahan mental harus di edukasi sedini mungkin jangan terlalu diremehin, karena semua penyakit kalo di biarkan saja berakibat fatal. Padahal ya kita bisa membantu orang yang punya masalah mental dengan hal-hal kecil sekadar semangatin dia dan buat dia lebih berarti begitu.” Ucap Rara, narasumber yang berbicara.
Menurut Malika mengenai Stigma Masyarakat terhadap Kesehatan mental masih minim, “Menurut gue ya kesadaran terhadap kesehatan mental di Indonesia tuh masih minim. Masyarakat sering mengabaikan bahkan di anggap kurang taat beragama.Permasalahan mental sering dikaitkan dengan hal-hal agamis karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat yang beragama. Faktor yang mempengaruhi kesehatan mental bisa saja terjadi karena lingkungan yang buruk sehingga menimbulkan adanya masalah gangguan mental. Salah satu hal yang dapat mengatasi kesehatan mental dengan pergi atau mencari lingkungan yang lebih baik dan mengubah pola hidup.” Ucapannya, Malika juga menyarankan agar penderita pindah atau mencari lingkungan yang lebih baik dan mengubah pola hidup.
Selain stigma negatif ada juga stigma positif dari narasumber Bernama Dhafin, “Menurutku pandangan sekarang masyarakat tentang kesehatan mental udah pasti lebih sadar dari sebelum-sebelumnya sih kak. Tapi untuk generasi lebih tua mungkin masih tertinggal perihal kesehatan mental dan cenderung susah banget.” Ujarnya yang beranggapan sudah banyak anak muda, milenial, dan orang tua yang sudah membuka mata dengan Kesehatan mental seseorang.
Stigma positif dari Dhafin berbanding dengan narasumber yang Bernama Raisha, “ Menurutku, jaman sekarang masih banyak orang yang menyepelekan terkait kesehatan mental ini, tidak sedikit juga orang-orang yang meremehkan atau bahkan meremehkan orang yang memiliki kesehatan mental yang kurang baik. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai permasalahan mental yg kurang baik pun sering menyebut kesehatan mental alay, lebay, fomo dan membandingkannya dengan jaman si A dan si B. Padahal itu hal yang wajar karna setiap orang kan memiliki beban dan daya tahannya masing-masing. , gak bisa dong semua dipandang sama atau dibandingkan. Ujar Raisha yang merasa Masyarakat di sekitarnya belum banyak yang membuka mata mengenai kesehatan mental seseorang.
Salah satu narasumber Bernama Chaca pun menjelaskan bahwa, “Pandangan Masyarakat mengenai Kesehatan mental beragam ada yang perduli dan juga menganggap Kesehatan mental itu tidaklah penting karena dunia itu keras dan semua orang juga berusaha keras.”
Sebelumnya telah dibahas terkait kesalahan persepsi dan stigma negatif yang masih melekat pada isu kesehatan mental. Permasalahan ini menghalangi banyak individu untuk mendapatkan bantuan profesional yang dibutuhkan dan berdampak negatif pada kualitas hidup mereka. Ngomong-ngomong soal bantuan professional itu apa sih? Mencari dukungan tenaga kesehatan profesional dapat memberikan pengobatan maupun terapi yang efektif untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan membantu individu mencapai kesejahteraan yang lebih baik (dikutip dari https://www.generali.co.id) Bantuan profesional yang dimaksudkan adalah dengan datang ke Psikolog atau Psikiater. Lalu apa sih bedanya psikolog dan psikiater?
Menurut narasumber Raisha, “Yang saya tau, psikolog itu membantu kita secara non medis. Jadi dia hanya memberikan saran dan mendengar atau mediasi begitu. Sedangkan psikiater itu membantu dengan medis atau bimbingan dengan obat-obatan.
Sebenernya apasih bedanya Psikolog dan Psikiater?
Dikutip melalui website Halodokter, psikolog lebih banyak menangani kondisi psikologis yang berkaitan dengan masalah sehari-hari, sedangkan psikiater lebih banyak menangani gangguan kejiwaan yang sudah parah dan memerlukan pemberian obat-obatan. Maka dari itu, sebagai masyarakat penting bagi kita untuk bekerja sama mengubah pandangan ini.
Solusi Efektif untuk Mengurangi Penyebaran Kesalahan Persepsi dan Stigma Negatif Kesehatan Mental
Berikut ini merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini:
1 . Edukasi dan Kesadaran , melalui pemahaman dan kesadaran yang baik tentang kesalahan kesehatan mental, kita dapat mengurangi persepsi dan stigma negatif terkait isu kesehatan mental dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi individu yang mengalaminya. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengedukasi diri sendiri dan orang lain mengenai isu-isu kesehatan mental dan tidak menyepelekan gangguan mental.
2. Mengubah Bahasa dan Terminologi , hindari penggunaan bahasa atau terminologi yang memenuhi atau menghakimi terkait dengan kesehatan mental. Penggunaan bahasa yang lebih netral dan mendukung dapat membantu mengurangi stigma dan memperkuat persepsi positif tentang kesehatan mental.
3. Dukungan Aksesibilitas , meningkatkan aksesibilitas terhadap layanan kesehatan mental yang terjangkau dan berkualitas serta menyediakan dukungan yang memadai bagi mereka yang menderita juga merupakan faktor penting. Jika seorang individu merasa didukung dan dapat mencari bantuan dengan mudah, mereka akan lebih mungkin untuk mengatasi masalah kesehatan mental dengan lebih terbuka.
4. Dukungan secara Emosional , penting bagi kita untuk memberikan dukungan bagi individu yang mengalami masalah kesehatan mental dengan rasa empati dan pengertian. Kita juga dapat menghargai keberanian mereka untuk mencari bantuan dan memberikan dukungan moral. Hal ini dapat membantu proses pemulihan mereka.

