Di tengah rutinitas yang padat, me time sering kali cuma jadi wacana ya, HEALMates. Apalagi, untuk ibu rumah tangga tanpa asisten, seabrek rutinitas dan pekerjaan membuat kita tidak mengenal kata me time. Padahal, me time sangat penting agar kita tidak kelelahan.
Secara psikologis, me time berperan penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus fisik, lho. Waktu untuk diri sendiri membantu menurunkan stres, meningkatkan kesadaran diri, dan membuat kita lebih seimbang saat kembali berinteraksi dengan orang lain. Nah, biar me time kamu nggak sekadar formalitas, HEAL menyajikan tujuh tips membuat me time berkualitas yang wajib dicoba nih, HEALMates. Apa saja? Yuk, simak beberapa daftarnya!
Tips Membuat Me Time Berkualitas
Me time bisa jadi salah satu cara mengembalikan energi yang terkuras akibat bekerja keras seharian, HEALMates. Berikut beberapa tips agar me time kamu lebih berkualitas dan bermakna:
1. Tentukan Tujuan Me Time
Sebelum mulai, coba tanya dulu ke diri kamu sendiri, sebenarnya apa yang sedang kamu butuhkan saat ini. Butuh istirahat? Butuh pelampiasan emosi? Atau butuh stimulasi kreatif? Nah, dengan begitu, kamu bisa memilih aktivitas yang tepat agar mendapatkan apa yang kamu butuhkan. Sebab, jika kamu sedang lelah secara mental, maka kamu akan tambah capek jika memaksakan diri untuk tetap produktif. Padahal, sebenarnya tubuh dan mental kamu butuh “jeda”. Analoginya seperti “Kalimat panjang yang butuh tanda koma agar membuatnya lebih bermakna”.
2. Jauhkan Distraksi Digital
Ironisnya, banyak me time rusak karena notifikasi. Chat masuk, email kerja, atau godaan media sosial bisa bikin pikiran tetap “sibuk”. Jadi, cara paling ampuh untuk membuat me time kamu berkualitas adalah membatasi distraksi digital sejenak. Coba praktikkan digital boundary sederhana, seperti mengaktifkan mode do not disturb, meletakkan ponsel agak jauh agar tidak tergoda untuk melihatnya, atau menentukan waktu khusus tanpa layar (screen-free time).
Bukan berarti me time kamu harus anti-gadget ya, HEALMates. Tapi, agar aktivitas otakmu bisa benar-benar diberi jeda dan istirahat.
3. Pilih Aktivitas yang Membuatmu “Hadir”
Me time berkualitas biasanya ditandai dengan rasa tenggelam dalam aktivitas, bukan sambil mikirin hal lain. Kondisi ini sering disebut flow, yaitu saat kita fokus penuh dan menikmati prosesnya. Aktivitas yang bisa memicu rasa ini, misalnya:
- Membaca buku fisik.
- Menulis jurnal.
- Menggambar atau mewarnai.
- Memasak resep sederhana.
- Merawat tanaman.
Kuncinya bukan pada jenis aktivitasnya, tapi sejauh mana aktivitas itu membuatmu benar-benar hadir, bukan autopilot.
4. Dengarkan Tubuhmu
Tidak semua orang merasa rileks dengan yoga, meditasi, atau morning routine estetik ya, HEALMates. Sebab, kadang tubuh punya caranya sendiri untuk memberi sinyal kapan ia perlu beristirahat. Kadang me time terbaik justru dari aktivitas sederhana seperti tidur siang, mandi air hangat, atau sekadar rebahan sambil dengar musik favorit.
5. Sisipkan Bagian Refleksi
Me time bukan cuma soal “kabur sebentar”, tapi juga kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Nggak perlu berat-berat, cukup refleksi ringan. Misalnya:
- Menulis 3 hal yang kamu syukuri hari ini.
- Menjawab satu pertanyaan jurnal: “Apa yang paling menguras energiku minggu ini?”.
- Sekadar diam sejenak.
Dengan menyisipkan refleksi ini, kita bisa sekaligus meningkatkan self-awareness, yang menurut banyak studi psikologi berhubungan dengan regulasi emosi yang lebih baik.
6. Buat Me Time sebagai Rutinitas Sederhana
Salah satu kesalahan umum kita adalah menganggap bahwa me time adalah aktivitas mewah dan harus spesial. Padahal, dibanding melakukan hal-hal mewah, kita bisa kok me time dengan rutinitas sederhana. Yang terpenting adalah konsistensinya. Misalnya, menyempatkan 15 menit setelah subuh di pagi hari sebelum benar-benar memulai aktivitas harian, dan lain-lain sesuai kebutuhan masing-masing.
7. Akhiri dengan Transisi yang Lembut
Setelah me time, jangan langsung beralih mode ke dunia nyata ya, HEALMates. Kita bisa memberi transisi dulu agar manfaat me time ini nggak langsung hilang.
Contohnya, tarik napas dalam 3 kali atau sekadar minum air putih hangat. Transisi ini bisa membantu otak kita berpindah mode dengan lebih halus, dari relaksasi ke aktivitas, tanpa rasa kaget atau tertekan.
Me Time Itu Kebutuhan
Pada akhirnya, me time bukan soal kemewahan atau egois dan lari dari tanggung jawab ya, HEALMates. Entah berapa banyak dari kita yang sering kali merasa bersalah karena sudah melakukan me time dan merasa lari dari tanggung jawab. Padahal, me time itu sangat penting untuk kesehatan mental kita. Dengan kondisi mental yang lebih stabil dan energi yang terisi, kita bisa hadir lebih utuh dalam peran apa pun, baik sebagai pekerja, pasangan, orang tua, maupun individu. Selamat me time, HEALMates!(RIW)

