Masih ingat rasanya pulang sekolah, langsung ganti baju, lalu duduk manis di depan TV? Atau momen nonton VCD bareng sepupu sambil rebutan remote? Buat generasi milenial, film dan kartun bukan cuma hiburan, tapi juga teman tumbuh, yang diam-diam membentuk cara kita melihat dunia, persahabatan, sampai memahami makna pulang.
Nah, kali ini HEAL menyajikan beberapa film dan kartun nostalgia masa kecil generasi milenial nih, HEALMates. Yuk, siap-siap senyum sendiri, karena beberapa film dan kartun ini mungkin sampai sekarang masih punya tempat spesial di hati.
Daftar Film dan Kartun Nostalgia Masa Kecil
1. Doraemon
Siapa nih yang dulu pengen banget punya pintu ke mana saja? Doraemon ngajarin kita soal persahabatan, empati, dan kenyataan pahit bahwa alat ajaib nggak selalu bisa menyelesaikan masalah hidup. Nobita boleh aja ceroboh, tapi hatinya selalu tulus, relate banget sampai dewasa ya, HEALMates.
2. Crayon Shin-chan
Kartun paling absurd tapi sekaligus paling jujur soal kehidupan keluarga. Di balik tingkah Shin-chan yang super random, ada potret rumah tangga sederhana yang hangat. Dulu tertawa karena kenakalan Shin-chan, sekarang tertawa karena cerita orang tua Shin-chan sangat relate dengan kondisi kita setelah dewasa, ya.
3. Digimon Adventure
Lebih dari sekadar monster digital, Digimon adalah cerita tentang tumbuh dewasa, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi ketakutan. Lagu opening-nya saja sudah cukup bikin merinding nostalgia. Ngaku deh, siapa nih yang masih pada hapal lagunya?
4. Pokemon
“Gotta catch ’em all!” Ash, Pikachu, dan mimpi jadi Pokémon Master adalah simbol optimisme masa kecil. Nonton Pokémon itu rasanya seperti diajak percaya bahwa mimpi besar itu sah-sah saja, meski jalannya panjang.
5. Home Alone
Liburan rasanya belum lengkap tanpa Kevin McCallister. Film ini bukan cuma lucu, tapi juga bikin kita merasa berani sendirian, walau sekarang baru sadar, sebenarnya orang tuanya ke mana, sih? LOL.
6. Children of Heaven
Film ini bercerita tentang Ali dan Zahra, kakak-beradik dari keluarga yang sangat sederhana. Suatu hari, Ali kehilangan sepatu Zahra dan karena orang tua mereka tak mampu membeli yang baru, keduanya sepakat berbagi satu pasang sepatu secara diam-diam. Zahra memakainya ke sekolah pagi hari, lalu Ali berlari secepat mungkin untuk memakainya di sekolah siang.
Banyak orang yang punya pengalaman serupa saat menonton Children of Heaven. Dulu nontonnya sampai nangis, padahal belum benar-benar paham konflik film yang sesungguhnya. Waktu masih kecil, kita mungkin belum bisa memberi nama pada kemiskinan, tanggung jawab, atau pengorbanan. Tapi tubuh dan emosi kita sudah menangkap rasa itu. Baru ketika dewasa, maknanya pelan-pelan terbuka. Sedih banget ya, HEALMates?
7. The Lion King
Dulu nonton karena singanya lucu, sekarang nonton karena eksistensial crisis. Film ini mengajarkan tentang banyak hal, termasuk kehilangan, tanggung jawab, dan berdamai dengan masa lalu. Hakuna Matata, hidup tetap akan berjalan dan bumi akan terus berputar. Kalau lagi down, kamu bisa nih semangatin diri pakai frasa ajaib ala The Lion King ini, HEALMates.
8. Sailor Moon
Kartun ini diam-diam membentuk cara kita memandang perempuan sejak kecil ya, HEALMates. Sailor Moon menunjukkan bahwa menjadi kuat tidak berarti harus dingin atau tanpa air mata, perempuan boleh emosional, ragu, bahkan takut, tapi tetap bisa bangkit dan menyelamatkan dunia. Sailor Moon dan para Sailor Guardians tampil stylish, penuh warna, dan sangat feminin, tanpa kehilangan keberanian dan solidaritas satu sama lain. Jauh sebelum istilah girl power populer, kartun ini sudah lebih dulu menanamkan pesan bahwa menjadi perempuan versi diri sendiri adalah bentuk kekuatan yang sah dan berharga. Yuk ucapkan, “Atas nama bulan, aku akan menghukummu!”
9. Finding Nemo
Petualangan ikan kecil yang nyasar ini ternyata tentang parenting, kepercayaan, dan cara melepaskan. Dulu kita mungkin lebih fokus ke Dory yang lucu. Kalau sekarang fokus kita beralih ke Marlin yang overthinking banget.
10. Avatar: The Last Airbender
Kartun dengan cerita paling solid sepanjang masa. Avatar bukan cuma seru, tapi penuh nilai tentang keseimbangan, trauma, dan proses menjadi dewasa. Idola kita mungkin bukan Aang yang selalu kuat ya, HEALMates. Kita lebih tertarik pada Zuko yang karakternya berkembang banget. Tapi, sekarang kalau nonton lagi, kita mungkin akan lebih fokus pada Sokka yang manusiawi banget.
Nah, itulah sederet film dan kartun nostalgia masa kecil bagi generasi milenial. Jadi, kalau hari ini kamu tiba-tiba ingin nonton ulang kartun lama sambil senyum-senyum sendiri, itu wajar banget kok. Bisa jadi inner child kamu lagi minta disapa, nih HEALMates. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi untuk diingatkan bahwa dulu kita pernah percaya bahwa dunia itu hangat dan penuh warna. Yuk, siapkan cemilan, matikan notifikasi sebentar, dan biarkan memori kita tentang masa kecil terputar lagi. (RIW)

